Fake Princess

Fake Princess
Chapter XCVIII


__ADS_3

Apa aku sudah mati? Kenapa tak terasa panas sedikitpun?


Dengan ragu, kubuka kembali kedua mataku untuk memastikan. Terduduk aku lemas setelah mengetahui apa yang terjadi, menoleh aku sebelah kanan dan kiriku seraya kupandang lava merah yang terbelah menjadi dua itu.


"Terima kasih Tuhan, perkiraanku benar adanya," ucapku pelan seraya menatap tanah berwarna cokelat yang aku duduki.


Beranjak aku berdiri, kulangkahkan kakiku mendekati bongkahan batu besar yang aku kira sebuah meja batu sebelumnya. Kuraba bagian batu tersebut seraya mencoba mencari sebuah pijakan atau apapun yang dapat aku gunakan untuk memanjat.


Kugerakkan tubuhku bergerak naik ke atas, duduk aku dipinggiran batu tersebut. Suara benda berbenturan terdengar samar dari arah belakang, menoleh aku kebelakang untuk melihat apa yang terjadi...


Tampak lava yang sebelumnya terbelah menjadi dua kini telah menyatu kembali, dan itu berarti... Tak ada jalan kembali untukku. Kembali aku beranjak berdiri seraya kulangkahkan kaki mendekati bola tersebut...


Panas dan semakin panas, begitulah yang aku rasakan ketika semakin mendekatinya. Kuraih pedang yang ada di punggungku, kugenggam dengan kuat pedang tersebut di kedua telapak tanganku.


Kuarahkan pedang tersebut hendak menghancurkan bola berwarna merah nan bercahaya tersebut, terpental tubuhku hingga ke pinggir bongkahan batu tadi. Dengan cepat kutancapkan pedang yang masih aku genggam pada bongkahan batu tersebut...


"Sachi!" teriak Haruki, suara teriakan darinya terdengar bergetar di telingaku.


Kutatap lava pijar yang meletup-letup tepat di bawah kakiku, kuarahkan pandanganku kembali ke atas seraya kucari kembali pijakan yang dapat aku gunakan untuk memanjat. Sekali lagi, kupanjat bongkahan batu tersebut untuk yang kedua kalinya...


Berbalik aku seraya mencabut kembali pedang yang aku tancapkan sebelumnya. Duduk aku untuk sekedar menenangkan diri, tubuhku masih terasa gemetar kala mengingat apa yang akan terjadi jika saja aku tidak dengan cepat menancapkan pedangku di bongkahan batu yang aku duduki.


Kutarik dan kuembuskan kembali napasku perlahan, kucoba kembali untuk beranjak seperti sebelumnya. Berjalan aku mendekati bola tersebut dengan masih memegang sebilah pedang di tanganku...


Kutatap sebuah ukiran kecil yang ada di sudut terbawah bola itu, kedua mataku menyipit seakan berusaha membaca ukiran yang ada disana...

__ADS_1


Berhenti aku sejenak seraya berusaha mencari jalan keluar, kugigit ujung jempolku tanpa sadar ketika melakukannya. Kembali kudekati benda tersebut lalu kuangkat pedang yang ada di tanganku mendekatinya...


Tidak, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya, aku tidak akan mencoba menghancurkan bola tersebut menggunakan pedang ini lagi. Aku hanya...


Kuarahkan pedang tersebut memanjang dengan kedua tanganku memegangnya, kugerakkan pedang tersebut seraya berusaha mencari posisi yang sesuai. Kutatap pantulan yang ada dibalik pedangku seraya kugerakkan kepalaku berusaha membaca tulisan terbalik yang terpantul di sana...


"Ke-mara-han tak ber-arti ke-ma-rahan, ke-se-di-han tak be-rarti kese-di-han. Ka-wan la-wan, pan-tul-an a-ir tak ka-sat ma-ta."


"Kenapa juga sihir Naga selalu berbentuk teka-teki seperti ini, merepotkan sekali!" gerutuku pelan, berjongkok aku seraya kusembunyikan kepalaku di balik kedua lengan.


"Kemarahan tak berarti kemarahan, kesedihan tak berarti kesedihan. Kawan lawan, pantulan air tak kasat mata..."


"Ini menjengkelkan sekali," gerutuku kembali, kugaruk rambutku beberapa kali seraya tetap tertunduk.


"Pantulan air tak kasat mata, kemarahan tak berarti kemarahan, kesedihan tak berarti kesedihan, kawan lawan," ucapku berulang-ulang.


"Naga sialan, Kaisar sialan. Akan kuhancurkan semua rencana busuk yang telah kalian susun secara sempurna ini," ucapku lagi, beranjak aku kembali berdiri mendekati bola tersebut.


Kuraih dan kugenggam bola tersebut dengan kedua tanganku, suara desisan layaknya daging yang terbakar mengusik telinga. Kupejamkan kedua mataku seraya kugigit kuat bibirku berusaha menahan rasa sakit yang menjalar dari ujung-ujung jariku.


Tanganku yang memegang bola tersebut mulai mengeluarkan asap, kuangkat bola tersebut dengan kedua tanganku yang masih gemetar hebat merasakan sakit. Berjalan aku mendekati tepi bongkahan batu tempatku berpijak, kuarahkan bola tersebut ke atas lava yang ada dibawah lalu kujatuhkan bola itu kedalam lava tersebut...


Terduduk aku lemas seraya menatap kedua telapak tanganku yang melepuh. Sakit, rasanya sakit sekali... Kuangkat lengan kiriku menutupi kedua mataku...


"Sa-chan," terdengar suara kakakku disertai sentuhan pelan di rambutku. Kuturunkan kembali lenganku seraya berbalik ke arah suaranya...

__ADS_1


"Nii-chan," ucapku, pandangan mataku tampak mengabur menatapnya.


"Kau berhasil, kau berhasil adikku," ungkapnya, ikut kurasakan jari jemarinya menyapu pelan mata dan wajahku.


Menoleh aku ke sekitar, kuperhatikan mereka yang telah berdiri mengelilingiku. Kutatap juga anak-anak lainnya yang masih meringkuk ketakutan seakan tak percaya akan apa yang terjadi pada mereka...


"Kalian semua, baik-baik saja bukan?" ucapku dengan suara bergetar menatapi mereka.


"Jika bukan karena tampilan lusuh yang ada pada kalian, mungkin aku akan mengira jika ini hanyalah mimpi. Bagaimana bisa kita tiba-tiba sudah berada ditempat yang sama ketika pertama kali kita datang kesini," ucap Adinata, berjongkok ia menatapku.


"Terima kasih Hime-sama, kau telah menyelamatkanku dan juga adikku," sambungnya tersenyum menatapku.


"Aku hanya memberikan arahan, kalianlah yang telah melakukannya dengan baik."


"Sachi, terima kasih. Aku bisa bertemu dengan Ayah dan Ibuku lagi berkatmu," ucap Julissa langsung memelukku.


"Julissa, pakaianmu menyentuh telapak tanganku. Rasanya sakit sekali," bisikku pelan padanya.


"Sakit?" tanyanya, dilepaskannya pelukan kuat darinya.


"Tanganmu melepuh!" teriaknya seraya digenggamnya pergelangan tanganku olehnya.


"Melepuh?" ucap Haruki, diraihnya pergelangan tanganku yang digenggam Julissa sebelumnya.


"Coba aku lihat," sambung Izumi yang juga telah berjongkok di sampingku.

__ADS_1


__ADS_2