Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXIX


__ADS_3

Suara nyanyian itu terhenti, topeng-topeng kayu yang dikenakan para penduduk desa bergerak menatap kami. Haruki melangkah maju, membelah kerumunan para penduduk desa yang bergerak meminggir menghindarinya. Haruki menghentikan langkah kakinya di depan perempuan tua yang duduk di atas kursi terbuat dari anyaman akar dengan beberapa laki-laki berserta perempuan lanjut usia yang duduk beralaskan daun di tanah yang ada di samping kursi kayu tersebut.


Haruki berlutut di hadapan perempuan tua tadi, “Takaoka Haruki, memberikan hormat,” ucap Haruki meletakan sebelah tangannya menyilang di dada, ikut digerakannya kepalanya menunduk di hadapan para tetua itu, “angkat kepalamu!” Perempuan tua itu membuka suara diikuti telapak tangan kanannya yang bergerak di hadapan Haruki.


Aku sedikit melirik ke arah Izumi yang juga telah melangkahkan kakinya menyusul Haruki, ikut kugerakan kedua kakiku melangkah menyusul mereka dengan Cia yang juga berjalan di sampingku. Aku ikut berlutut di hadapan perempuan tua tersebut saat Izumi telah berlutut di hadapannya, “Takaoka Izumi, Takaoka Sachi, Takaoka Eneas,” ucap kami bergantian, “memberikan hormat,” sambung kami kembali secara bersamaan.


“Angkat kepala kalian,” suara perempuan tua itu kembali terdengar, kuangkat kepalaku kembali menatapnya. Kedua mataku sedikit melirik ke arah Lux yang telah terbang dari pundak Haruki, “Maafkan atas sikap lancang yang aku perbuat,” ucap Lux menundukan kepalanya di hadapan perempuan tua tadi, kutatap kedua sayapnya yang kecil itu mengepak perlahan.


“Angkat kepalamu, yang lalu biarlah berlalu,” ucap perempuan itu kembali, Lux kembali mengangkat kepalanya lalu berbalik terbang mendekati Haruki, “kami memanggil kalian semua, karena ingin menyampaikan keputusan yang telah kami rundingkan,” sambungnya menatapi kami bergantian, aku sedikit melirik ke arah para tetua yang mengarahkan tatapan tajam ke arah kami.


“Kami akan menyetujui untuk membantu kalian, asalkan kalian dapat memenuhi syarat yang kami berikan,” ucapnya lagi, kedua mataku kembali menatap pada perempuan tua itu yang tengah melirik ke arah kiri tubuhnya.


Aku ikut melirik ke arah yang dilihatnya, sekitar sepuluh orang bertopeng kayu melangkahkan kakinya mendekati kami diikuti perempuan bertopeng serigala di belakang mereka. Sepuluh orang tersebut membawa nampan kayu ditutupi kain yang terbuat dari kulit hewan di tangan-tangan mereka, sepuluh orang tersebut menghentikan langkah kaki mereka disusul oleh perempuan bertopeng serigala tadi yang berjalan melewati mereka.

__ADS_1


Masing-masing nampan kayu yang mereka bawa, mereka letakan di samping kami. Aku kembali melirik ke arah perempuan yang memakai topeng serigala tadi yang telah duduk di samping perempuan tua tersebut, “angkat kainnya,” ucap perempuan tua tadi diikuti anggukan dari sepuluh orang yang memakai topeng sebelumnya.


Satu per satu kain kulit yang menutupi nampan itu terbuka, satu nampan berisi tumpukan bunga beraneka warna di atasnya, satu nampan berisi beberapa gelas terbuat dari bambu, satu nampan berisi beberapa mangkuk dengan kumpulan benda bergerak berwarna putih di dalamnya, sedangkan nampan-nampan lainnya berisi tumpukan lipatan kain dari kulit hewan di atasnya. Tiga orang dari sepuluh orang bertopeng tadi beranjak berdiri dengan membawa nampan berisi bunga, gelas bambu dan juga mangkuk.


Ketiga nampan tadi mereka letakan di hadapan perempuan tua tersebut, “kami, akan membantu kalian jika kalian menjadi salah satu dari kami,” ucap perempuan tua tersebut saat ketiga orang yang membawa nampan tadi bergerak mundur menjauhinya, “menjadi salah satu dari kalian?” Izumi terdengar pelan bergumam di sampingku.


“Kalian, akan mengikuti upacara penyambutan, setelah upacara selesai … Kalian akan menjadi salah satu dari kami, kalian akan menjadi keluarga kami. Kalian harus melakukannya, jika ingin mendapatkan kepercayaan dari kami semua,” ucapnya kembali terdengar, “kami mengerti, kami akan melakukannya,” Haruki membalas perkataan perempuan tua tersebut.


Aku melirik ke kiri saat bayangan hitam tiba-tiba berjalan melewati dari belakang, dua perempuan bertopeng burung berjalan mendekati perempuan tua tadi. Mereka berdua berlutut meraih nampan berisi mangkuk berserta gelas yang ada di hadapan perempuan tadi, kedua mataku membesar saat salah satu perempuan bertopeng burung tersebut meletakan semangkuk penuh ulat putih yang masih hidup di hadapanku.


Seluruh bulu yang ada di tubuhku terangkat seketika tatkala kumpulan ulat-ulat yang ada di dalam mangkuk tadi meliuk-liukan tubuhnya. Aku menoleh ke kanan tatkala kurasakan sesuatu mencengkeram kuat lenganku, kutatap Cia yang menatap mangkuk berisi penuh ulat di hadapannya itu dengan wajah pucat pasi. Aku kembali menggigit kuat bibirku tatkala perempuan tersebut kembali meletakan gelas bambu berisi air berwarna merah pekat di dalamnya.


“Makanlah hidangan yang telah kami persiapkan,” ucap perempuan tua itu kembali mengangkat kedua tangannya ke arah kami.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Haruki yang telah mengangkat mangkuk berisi ulat miliknya, kugigit kuat bibirku tatkala kutatap Haruki yang telah menggerakan mangkuk berisi ulat tadi mendekati bibirnya. Satu per satu ulat tadi jatuh ke dalam mulutnya saat mulutnya itu terbuka, Haruki kembali menurunkan kepalanya seraya mulutnya masih bergerak mengunyah ulat-ulat yang ada di dalam mulutnya tadi.


Aku kembali mengarahkan pandangan mataku ke mangkuk berisi ulat yang ada di hadapanku itu. Sebelah tanganku bergerak meraih satu ulat yang ada di dalam mangkuk tersebut, aku kembali meneguk ludahku tatkala ulat yang aku pegang tadi meliuk-liuk di depan mataku. Aku mengangkat kepalaku ke atas dengan kedua mataku yang terpejam, mulutku kembali tertutup saat kurasakan benda yang terjatuh menyentuh lidahku itu bergerak-gerak.


Keringat dingin semakin mengucur deras di tubuhku, saat ulat tersebut semakin bergerak memutari mulutku. Dengan perlahan, kugerakan mulutku berusaha mengunyah ulat tersebut, aku sedikit terhentak saat tiba-tiba cairan lengket nan manis memenuhi rongga mulutku, “Kakak,” suara tangisan Cia memenuhi telingaku, kedua mataku dengan sigap terbuka menatapnya.


“Apa yang kau lakukan?!” Suaraku meninggi tatkala kutatap salah satu perempuan bertopeng burung telah duduk di hadapan Cia dengan seekor ulat di tangannya, perempuan tersebut terdiam tak menggubris perkataanku padanya dan kembali mengarahkan ulat tersebut mendekati bibir Cia yang telah ia cengkeram dengan kedua jarinya.


Tangan kananku bergerak mencengkeram lengan perempuan bertopeng burung tersebut, “aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhnya,” ucapku, kutatap perempuan bertopeng burung tadi melepaskan ulat yang ia pegang saat cengkeraman tanganku di lengannya semakin kuat.


“Izinkan aku untuk memakan semua ulat yang ada di dalam mangkuk adikku, dia masihlah kecil untuk mengetahui apa yang terjadi di antara kita,” suara Haruki terdengar, aku sedikit melirik ke arahnya yang telah menundukan kepalanya di hadapan perempuan tua tadi.


“Kau ingin menanggungnya? Benar-benar Kakak yang baik,” ungkap perempuan tua itu kembali pada Haruki, “tapi bagaimana jika aku katakan, peraturan tetaplah peraturan,” sambungnya, ikut terlihat senyum kecil yang menyungging di sudut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2