Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXXII


__ADS_3

Aku berbalik dengan melambaikan tangan ke arah Haruki, Izumi dan juga Eneas bergantian. Mereka satu per satu beranjak berdiri sebelum melangkahkan kakinya mendekati, “perkenalkan, Kakek. Mereka bertiga saudara kami,” ungkapku kembali berbalik menatap Kakek saat mereka bertiga telah berdiri di belakangku.


“Duduklah!” tukas kakek menggunakan bahasa manusia sambil ia mengangkat sebelah tangannya.


“Haruki, Izumi dan juga Eneas, bukan?” ucap kakek dengan melirikkan matanya.


Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Aku sepertinya harus benar-benar berhati-hati dalam berbicara jika di sekitar terdapat pepohonan.


“Aku, menitipkan Putri dan cucuku kepada kalian.”


“Jangan bercanda, mereka Ibu dan juga Adik kami. Untuk apa kami harus menunggumu untuk dapat menjaga mereka,” ucap Izumi yang langsung memotong perkataan kakek.


“Kakek kalian yang satu ini, memang tidak pandai berkata-kata,” potong bibi yang membuat pandanganku beralih kepadanya, “yang ingin dia katakan adalah, Ibu kalian adalah seorang Elf. Elf memiliki usia yang sangat panjang melebihi makhluk mana pun, kenapa Elf dilarang menjalin hubungan dengan makhluk lain? Hal itu, semata-mata hanya karena semuanya akan menyakitkan untuk Elf itu sendiri. Dia tidak akan menua ketika suami bahkan anaknya telah menua, dia kemungkinan akan masih tetap hidup saat suaminya, anak atau bahkan cucunya telah meninggal termakan usia. Apa yang akan kalian lakukan untuk menghilangkan kesedihannya kelak?”


Keadaan menghening, tak ada yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh bibi, “dan juga untuk Sachi dan Ryu, kami tidak tahu … Kalian memiliki usia yang sama seperti para Elf, atau Manusia. Namun, jika kelak kalian akan bertemu dengan pasangan kalian nanti, pikirkanlah semua kemungkinan yang bibi katakan. Tapi itu semua, bukan berarti kalian tidak berhak menjalin hubungan sebagai keluarga, keluarga kalian telah mematahkan itu semua.”


“Aku jadi mengatakan sesuatu yang melantur,” ucap bibi sambil tertunduk dengan memukul kepalanya sendiri menggunakan telapak tangan.


“Aku mengerti apa yang dimaksudkan. Tidak perlu khawatir, sebagai anak tertua … Sudah menjadi kewajibanku untuk mempertahankan kenyamanan di dalam keluarga. Aku, akan menjaga mereka semua dengan baik.”


“Haruki, bibi memiliki sebuah hadiah untukmu. Sebenarnya, bibi sudah lama diam-diam memperhatikan kalian … Bisa dikatakan, bibi menjaga kalian sebagai pengganti ibu kalian kala itu,” ucap bibi sambil mengangkat sebelah tangannya hingga setangkai bunga besar yang masih kuncup tumbuh di sampingnya.

__ADS_1


“Yang Ryu katakan tentang Robur Spei memang benar, namun … Ibu tidak menceritakan sihir lainnya kepadamu,” sambung bibi dengan melirik ke arah Ryuzaki.


“Robur Spei dikatakan mengagumkan karena dia menjaga siklus kehidupan setiap makhluk. Pengorbanan dan kesempatan, kedua hal itulah yang melahirkan kehidupan. Ayah, bolehkah?”


“Itu sihirmu, kau yang menyelamatkannya, jadi semuanya tergantung kepadamu,” jawab kakek tanpa sedikit pun menggerakkan kepalanya.


“Sama seperti Ryuzaki, saat itu Ardella tidak mengetahui jika dia mengandung seorang anak lagi di rahimnya. Jadi Ibu, menggunakan sihirnya … Mengambil lalu memindahkan Ryuzaki ke dalam sebuah kelopak bunga agar Ardella yang saat itu lemah dan penuh kutukan dapat selamat berserta anaknya.”


“Lalu, apa hubungannya denganku?”


“Aku, mewarisi sihir tersebut saat ibu kami meninggal. Aku, bertemu dengan perempuan tersebut, sebelum dia merenggang nyawa di terowongan,” ucap bibi, aku melirik ke arah Haruki yang memperbesar kedua matanya membalas tatapan bibi.


“Apa yang kau maksudkan?”


Tubuhku tertegun saat kuncup bunga itu tiba-tiba bersinar, dan yang lebih membuatku tidak bisa berkata-kata … Saat pandanganku terjatuh pada sesosok janin dengan kulit sedikit transparan yang lelap tertidur di dalam bunga tersebut. “Tunggulah sedikit lebih lama, dia mungkin akan terlahir cantik seperti Ibunya, atau mungkin terlahir tampan seperti Ayahnya,” ucap bibi kembali diikuti meredupnya sinar yang ada pada bunga itu.


“Aku mengetahui di mana Robur Spei berada, karena sihirku terhubung langsung olehnya. Seseorang yang kalian anggap Kaisar itu, mungkin telah menanamnya di suatu tempat penuh sihir, karena jika Robur Spei itu mati, maka aku tidak akan bisa melakukan sihir kehidupan ini.”


“Tempat penuh sihir? Apa mungkin itu hutan terlarang di wilayah Kekaisaran?”


Aku melirik ke arah Izumi yang menyeletuk di belakangku. “Jika kalian sudah yakin di mana tempatnya, aku ingin kalian bisa sedikit mengendalikan diri. Karena saat Robur Spei itu layu, yang akan kehilangan nyawanya pertama kali adalah Ryuzaki dan juga anak ini, karena tanpa sihir tersebut mereka tidak akan bisa hidup di dunia ini,” sambung bibi sambil tetap menatapi kami.

__ADS_1


“Haruki, apa kau ingin melihatnya dari dekat? Jika iya, kemarilah! Dan berhati-hatilah dengan akar hijau yang sedikit terbenam itu, jangan sampai melukai akar tersebut,” ungkap bibi kembali dengan melambaikan tangannya ke arah Haruki yang duduk di samping belakang.


Aku melirik saat Haruki beranjak lalu melangkah dan duduk di hadapan bibi. Bunga itu kembali bersinar, “apa aku-” ucap Haruki terhenti sambil mengarahkan pandangannya kepada bibi.


“Tentu, lakukan dengan sangat perlahan. Jangan membuat bunganya bergoyang,” tukasnya yang dibalas anggukan pelan kepala Haruki.


Haruki mengangkat telapak tangannya mengusap permukaan bunga tersebut, “kau bisa melihat rambutnya yang mulai sedikit tumbuh itu, bukan?” ungkap bibi sembari ikut beranjak duduk di samping Haruki.


“Berbahagialah, bagaimana bisa Ayahnya menangis di depan anaknya sendiri,” sambung bibi sambil mengusap punggung Haruki yang menundukkan kepalanya.


“Apa yang harus aku lakukan untuk berterima kasih? Aku, akan melakukannya,” timpal Haruki dengan terputus-putus ketika dia menoleh ke arah bibi.


“Walau aku terlihat muda dan sangat cantik … Panggil aku bibi sama seperti Sachi. Kau sudah berjuang keponakanku, itu hadiah dari bibi untukmu karena telah menjadi kakak yang baik,” ucap bibi seraya menepuk-nepuk pipi Haruki yang menatapnya.


“Kau sudah cukup melihatnya, bukan? Karena aku, akan menyimpannya kembali. Terlalu lama di sini, tidak bagus untuk bunga yang menjaganya.”


“Bibi, terima kasih,” ungkap Haruki, bibi menganggukkan kepalanya sebelum mengangkat sebelah tangannya hingga bunga tadi kembali masuk ke dalam tanah.


“Aku, benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi,” gumam Izumi yang terdengar dari arah belakang.


“Seperti yang bibi katakan, pengorbanan dan kesempatan melahirkan kehidupan, itu syarat penggunaan dari sihir terlarang mereka yang dapat mengendalikan Robur Spei. Sebagai contoh, Ryuzaki baru dapat melakukan sihirnya ketika Sachi melakukan pengorbanan, sedangkan bibimu ini berada dalam hal yang berbeda … Mungkin, sebelum kematiannya, pasanganmu itu melakukan suatu pengorbanan,” ucap bibi ketika dia mengalihkan pandangan kepada Haruki.

__ADS_1


“Syarat pertama terpenuhi … Dan juga, selama dia terkurung, dia mungkin mengharapkan kesempatan untuk semua kesalahan yang ia perbuat di masa lalu. Ketika semuanya terpenuhi, sihir terlarang itu baru akan berkerja.”


“Lagi pun, sihir tetaplah sihir … Bagi mereka yang tidak bisa melakukannya, akan merasa sulit untuk menerima semua itu,” sambung bibi, dia menoleh dengan tersenyum ke arah kami.


__ADS_2