
“Pinggangku,” rintihku pelan sambil meletakkan wajah di meja rias.
Aku kembali mengangkat kepalaku, meliriknya yang tengah mengenakan pakaian dengan wajah sumringah. Aku mengepalkan dengan erat kedua tanganku sambil mengarahkan tatapan ke arah cermin, “Zeki, bantu aku untuk mengambil syal yang ada di dalam lemari,” ucapku, aku sedikit mengangkat leher sambil meraba leherku itu dengan perlahan.
“Tapi sekarang bukan musim dingin, bukan?”
Aku menoleh dengan menatap tajam ke arahnya, “ini memang bukan musim dingin. Tapi jika semua bekas ini dilihat oleh mereka, hidupku akan habis,” ungkapku geram sambil menunjuk ke arah leher dan pundakku.
Dia berjalan dengan membentang syal berwarna cokelat di tangannya. Zeki berjongkok sambil melingkarkan syal tersebut di leherku, “kenapa harus malu, itu sebagai bentuk rasa cin-”
Aku tersenyum dengan menutup mulutnya sebelum Zeki menyelesaikan kata-katanya, “aku, benar-benar tidak ingin mendengar kata-kata tersebut saat ini. Apa kau tidak tahu, sekarang tubuhku terasa berat sekali untuk digerakkan,” ucapku, kepala Zeki mengangguk dengan tatapannya yang tak bergeming menatapku.
Aku menghela napas dengan mengangkat kedua tangan merapikan syal yang melilit leherku itu. Kualihkan tatapanku ke arahnya yang telah berdiri dengan mengangkat tangan kanannya, aku meraih tangannya itu sembari dengan perlahan tubuhku beranjak berdiri di sampingnya. Zeki dengan pelan menuntunku berjalan, sesekali kami berhenti dengan aku menarik napas dalam sebelum langkah kaki kami kembali berlanjut.
Baik aku dan Zeki membungkukkan tubuh, memberikan hormat kepada Ayah dan juga Ibu yang tak sengaja berpapasan dengan kami di lorong Istana. “Ayah dengar jika kau sakit? Bagaimana keadaanmu?”
Aku melirik ke arah Zeki yang hanya berdiam di sampingku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, “aku hanya sedikit demam. Tapi sekarang sudah membaik,” jawabku sambil tersenyum membalas tatapan Ayah.
Ayah menepuk pundak Zeki, “kau merawat Putriku dengan sangat baik, Zeki. Ayah berterima kasih kepadamu,” tukas Ayah sambil dia berbalik, melangkahkan kakinya bersama Ibu meninggalkan kami.
“Ayahku benar, kau merawatku dengan sangat baik. Sangat baik,” ucapku sambil meletakkan kaki kiriku di kakinya sembari kupijak dengan kuat kakinya itu saat mataku masih menatap ke arah kedua orangtuaku.
“Tidak perlu berterima kasih sampai seperti itu. Karena aku pun, merasa sangat bahagia merawat isteriku hingga sembuh dari sakitnya.”
“Aku lapar sekali. Cepatlah, Ayah dan Ibu sudah semakin jauh berjalan,” ungkapnya membuang pandangan saat aku melirik tajam ke arahnya.
Aku menghela napas, langkah kaki kami kembali berlanjut memasuki ruang makan. Aku berjalan mendekati kursi yang ada di dekat Haruki, menduduki kursi tersebut dengan Zeki yang juga duduk di kursi yang ada di sampingku. “Bagaimana keadaanmu?”
__ADS_1
Aku menoleh lalu menganggukkan kepala menatapnya, “aku baik-baik saja, nii-chan,” ucapku, kepalaku kembali mengangguk saat lirikan mataku tak sengaja bertatap dengan Izumi.
“Aku telah meminta koki Istana untuk memasakkan sup untukmu, makanlah dan habisi semuanya!” Kepalaku lagi-lagi mengangguk pelan ketika suara Haruki kembali mengetuk telinga.
“Ayah, kemungkinan … Besok aku akan kembali ke Yadgar.”
“Secepat itu?” tukasku yang tiba-tiba memotong perkataan mereka, “kau tidak mengatakan apa pun padaku mengenai hal ini,” sambungku kembali dengan menatapnya.
“Aku baru menerima kabar dari Akash pagi tadi, kabar tersebut mengatakan jika terjadi masalah di perbatasan Yadgar. Akash tidak bisa pergi memeriksanya, karena dia sendiri harus menjaga Istana. Jadi, mau tidak mau aku harus segera pulang untuk mengurusnya,” ucapnya yang dengan pelan mengusap rambutku.
“Apa ada sesuatu yang kau butuhkan sebelum pulang?”
“Bisakah aku meminjam beberapa ekor kuda untuk Kesatriaku, Ayah? Karena Yadgar tidak terlalu jauh dari Metin, jadi beberapa Kesatriaku tidak membawa kuda … Ini berbeda sekali, dengan jarak antara Sora dan Yadgar,” ucapnya, tampak jelas sekali perasaan tak enak yang terlukis di wajahnya.
“Kau begitu memikirkan Kesatriamu,” timpal Ayah yang masih menatapinya.
Dia kembali mengangkat wajahnya ketika tanganku meraih lalu menggenggam kuat telapak tangannya. “Baiklah, Ayah akan memerintahkan mereka untuk mempersiapkannya.”
“Terima kasih, Ayah,” sambungnya yang dibalas anggukan kepala dari Ayahku.
___________.
“Kau yakin, tidak ingin membawa apa pun? Makanan atau pakaian?” tanyaku yang melirik ke arahnya.
Dia berjalan dengan membaringkan kepalanya di atas pahaku, “tidak perlu menyiapkan apa pun. Semua pakaian yang ada di lemari, adalah pakaian yang sudah disiapkan Ayah. Aku akan membiarkannya saja, agar saat kita berkunjung kembali ke sini … Aku tinggal memakainya,” ungkapnya, dia berbalik hingga wajahnya itu menatap ke arahku.
"Apa kau tahu, ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku saat ini," ucapnya dengan sangat lama menatapku.
__ADS_1
"Apa itu?" Aku kembali bertanya diikuti jari jemariku yang bergerak membuka kuncir rambutnya.
"Bagaimana bisa, seorang perempuan yang memimpin perang, hampir melarikan diri seperti semalam."
Aku menatapnya dengan sebelah tanganku bergerak meraih bantal lalu memukulkan bantal tersebut ke wajahnya, "tiap peperangan, aku pun selalu takut. Apa kau tidak tahu itu?" ungkapku dengan kembali menarik bantal yang menimpa wajahnya itu.
"Jika kedua kakakku tidak mendukungku selama ini, aku ... Tidak akan bisa memenangkan satu perang pun. Lagi pun, kedua hal ini jelas sangat berbeda-"
"Ketika perang, aku hanya memberikan perintah dengan beberapa Kesatria hebat yang ditugaskan untuk menjadi perisai. Aku, sudah bisa membayangkan rasa sakit yang akan aku terima jika salah satu senjata melukaiku."
"Sedangkan yang kita lakukan, ini benar-benar pertama kalinya untukku. Tepat seperti yang dikatakan, rasa sakitnya sulit untuk dijelaskan-"
"Lalu?" ungkapnya memotong perkataanku.
"Lalu?" Aku balik bertanya yang dibalas tatapan Zeki tanpa bersuara kembali.
Aku mengangkat tangan menggenggam kuat pakaian yang ia kenakan, "aku turut menikmatinya," ucapku pelan dengan membuang wajahku yang kian memanas ke samping.
"Setidaknya, aku ... Sekarang dapat memahami, kenapa kadang dalam suatu keluarga memiliki banyak anak," sambungku dengan masih membuang pandangan darinya.
Aku mengangkat tanganku saat dia beranjak dengan mencium pipiku sebelum kembali berbaring lurus dengan sebuah bantal menyangga kepalanya, "aku sangat bersyukur, saat kau dapat menceritakan apa pun tanpa canggung seperti sekarang, Sachi."
"Tidurlah, kau pasti lelah, bukan?" sambungnya sembari mengangkat lengan kanannya itu ke samping.
Aku menghela napas pelan dengan membaringkan kepala di lengannya itu. Bibirku masih terkatup dengan menatap ke arahnya yang telah memejamkan kedua mata.
Kenapa dia sangat pendiam sekali hari ini?
__ADS_1
Aku mengangkat sebelah tangan memeluk tubuhnya, ikut kugerakkan wajahku terbenam di tubuhnya dengan sesekali melirik ke arah wajahnya yang masih lelap terpejam. Ini hanya perasaanku saja atau apa? Kenapa? Aku merasa malam ini terasa mengecewakan.