
Kou bergerak cepat ke depan dengan membuka lebar mulutnya hingga serpihan es yang keluar dengan sekejap membekukan akar besar yang membentuk cembung itu. Kou terus-menerus meniupkan es dari mulutnya ke lilitan akar tersebut hingga es yang melapisi akar-akar itu semakin menebal.
Kuperhatikan dengan pasti, akar-akar yang saling melilit hingga membentuk cembung itu perlahan terbuka … Perlahan menciut, kembali terbenam ke dalam tanah. Lama kutatap beberapa orang yang berdiri menatap kami dari dalam lapisan dinding es yang Kou buat.
Beberapa dari mereka ada yang berlari mendekat ke kepingan es tersebut diikuti rusa-rusa emas yang juga ikut berlari mengikuti masing-masing dari mereka. Pohon-pohon mulai bertumbuhan di dekat mereka diikuti akar merambat yang juga ikut tumbuh … Akar dan pohon-pohon tadi, bergerak semakin membesar, berusaha untuk menghancurkan dinding es yang Kou buat.
Kou terus mengeluarkan serpihan es dari dalam mulutnya, dinding es yang ada di hadapan kami … Bukannya menipis, malah semakin menebal. Hingga, membekukan rumah-rumah yang terbuat dari kayu yang ada di dalam dinding es yang dibuat Kou. Semakin lama mereka berusaha, semakin itu juga … Satu per satu dari mereka roboh, jatuh berlutut dengan memeluk diri mereka sendiri.
Kou turun perlahan menapakkan kedua kakinya ke tanah, orang-orang yang berada di dalam kurungan lempengan es milik Kou berjalan mundur menjauh … Saat Kou, melangkahkan kakinya mendekati dinding es tersebut. “Berpeganglah yang erat, My Lord,” ucapnya yang terdengar melintas, dengan cepat aku segera menuruti apa yang ia katakan.
Dinding es tadi, terlihat hancur sedikit demi sedikit saat Kou berjalan semakin mendekati. Kou terus berjalan melewati lubang yang terbuat di tengah-tengah dinding es itu. Aku beranjak turun dari punggungnya, ketika Kou telah kembali menghentikan langkah kakinya. Kulemparkan pandanganku ke sekitar, ke beberapa puluh rusa dewasa yang berbaris menghalangi jalan kami.
Aku menyentuh kaki Kou yang ada di sampingku saat rusa-rusa tadi bergerak meminggir, seakan tengah memberikan sebuah jalan pada sesuatu. Aku menggigit kuat bibirku sendiri, ketika rusa besar … Yang sebelumnya membuatku menderita, tengah berjalan mendekat dengan seorang laki-laki muda di punggungnya.
Laki-laki itu memiliki rambut cokelat panjang yang lurus hingga menyentuh pinggangnya, tubuhnya putih bersih layaknya sebuah susu yang terlihat jelas saat pakaiannya yang berwarna putih itu sedikit tertiup oleh udara. Matanya yang hijau, terlihat membelalak saat kedua mata kami saling bertemu.
Aku menelan air ludahku sendiri ketika ekor Kou tiba-tiba melayang kuat, memukul tanah yang tepat berada di sampingku. Kuarahkan kedua mataku melirik, ke arah akar berduri yang telah hancur ketika Kou mengangkat kembali ekornya.
"Di mana I-"
Perkataanku terhenti seketika saat rusa yang berkumpul semakin banyak. Mata-mata mereka yang telah berubah hitam pekat itu, menatap ke arah kami berdua. Aku mengangkat pandanganku ke atas, kuusap tubuh Kou saat dia menggeram diikuti kepulan asap putih yang keluar dari sela-sela mulutnya. "Tenanglah Kou," ucapku dengan tetap mengusapi tubuhnya tadi.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan setengah manusia sepertimu, di tempat seperti ini?" Suara laki-laki yang terdengar mengalihkan pandanganku.
Aku mengangkat wajah, menoleh ke arah laki-laki tadi yang masih duduk di atas rusa miliknya, "aku, hanya ingin membawa kembali Ibuku," ucapku dengan mengepalkan kedua tanganku menatapnya.
"Ibumu?"
"Dengan melihat wajahku saja, kalian sudah pasti paham siapa yang aku maksudkan, bukan?!"
"Pergilah! Dia, tidak ada di sini. Dan bawa, makhluk menjijikan yang kau bawa itu," ucapnya yang masih terlihat tenang dari punggung rusa yang ia duduki.
Aku melirik ke samping saat kurasakan sesuatu menyentuh pergelangan tanganku. Anak rusa yang sebelumnya aku ikuti, telah berdiri di sampingku diikuti kedua matanya yang terangkat menatapku.
Aku mengenalinya, karena mata rusa kecil itu ... Tidaklah berwarna hijau seperti halnya Zea ataupun Airen, bola matanya berwarna cokelat terang. Semakin aku lihat, semakin mengingatkan aku pada-
Dia berbelok lalu berjalan lurus ke samping, "Kou, jaga kami dari belakang," bisikku lirih sambil melangkah mengikuti anak rusa tadi.
Anak rusa itu, membawaku mendekati sebuah gua yang dijaga oleh dua orang laki-laki berambut panjang. Kou segera membekukan akar merambat yang hendak menyerang kami hingga kedua laki-laki tersebut berjalan mundur dengan wajah pucat pasi.
Aku terus melangkah dan terus melangkah mengikuti suara jejak kaki yang dikeluarkan rusa kecil tadi di dalam gua. Aku segera tersadar ... Ketika kakiku telah tenggelam hingga semata kaki.
Aku, merasa tidak asing dengan tempat ini.
__ADS_1
Aku dengan cepat berlari membelah air yang memenuhi kakiku itu. Tanganku gemetar saat terdengar suara napas dari dalam ruangan kecil yang ada di sudut lorong. Aku kembali melirik ke arah anak rusa tadi yang telah masuk ke dalam lubang kecil yang ada di hadapanku itu.
Aku menarik napas dalam, sebelum akhirnya berlutut lalu merangkak memasuki lubang tersebut. Aku menghela napas, dengan menggigit kuat bibirku ... Saat pandanganku terjatuh pada seorang laki-laki berambut panjang yang duduk dengan kedua tangan dan kakinya yang terpasung.
Dia mengangkat sedikit kepalanya ke arahku, wajahnya masih belum terlihat jelas, masih tertutupi oleh rambut panjangnya yang terlihat sangat kusut tak terawat. Aku merangkak semakin mendekatinya, kuangkat kedua tanganku menyentuh wajahnya saat aku ... Telah duduk di sampingnya.
Kugerakkan kedua tanganku, menyingkap rambutnya. Matanya yang cokelat, menatapku sendu ... Tatapannya kosong, seperti tak ada kehidupan di tubuhnya. Aku menarik napas sebelum kulingkarkan kedua lenganku memeluk erat tubuhnya.
"Kau, pasti sangat kesepian, bukan?"
"Maaf, harusnya aku ... Datang lebih cepat," ucapku lagi dengan semakin kuat merangkul pundaknya.
Lama aku menatapnya sebelum aku melirik ke sekitar. Aku melepaskan pelukanku lalu beranjak berdiri, melangkahkan kaki mendekati sudut ruangan. Aku membungkuk dengan meraih sebuah batu yang ada di sana.
Kuangkat batu tersebut lalu berjalan kembali mendekati laki-laki tadi. Aku mengangkat batu itu ke atas lalu memukulkan batu tadi ke kayu yang memasung kakinya.
Kupukul berulang-ulang kayu tersebut hingga hancur terbelah. Aku kembali beranjak berdiri dengan melemparkan batu yang ada di tanganku itu ke samping.
Dia mengangkat kepalanya saat aku melakukannya. Aku kembali duduk di sampingnya, dia masih terdiam dengan masih menatapku, "kita pulang, ya," ucapku dengan mengusap kedua pipinya yang penuh debu itu.
"Si-a-pa kau," ungkapnya terbata hingga nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Sachi, Takaoka Sachi. Aku, saudaramu. Kakakmu ini, akan membawamu pulang, Adikku," ucapku setengah berbisik dengan kembali memeluk kuat dirinya.