
Pandangan mataku beralih ke arah beberapa orang laki-laki yang keluar dari rumah besar di balik pagar. Mereka berjalan perlahan mendekati dengan seorang laki-laki bertubuh besar penuh brewok dengan rambut sedikit panjang menyentuh leher memimpin jalan kumpulan laki-laki itu.
Pagar besi besar itu terbuka, dengan laki-laki bertubuh tinggi besar yang sebelumnya aku maksudkan melangkah maju sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Haruki. Dia mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak aku mengerti, hingga tubuhnya kembali berdiri tegap ketika Haruki mengucapkan kata-kata yang terdengar mirip dengan laki-laki tersebut.
“Mereka, keluargaku,” tukas Haruki, laki-laki tadi menoleh lalu tak lama membungkukkan tubuhnya.
“Tuan, silakan masuk!” ucap laki-laki tersebut sambil mengangkat sebelah tangannya mengarah ke rumah besar di hadapan kami.
Haruki beranjak turun diikuti salah seorang laki-laki yang meraih tali kekang kuda di tangan Haruki. Aku pun turut beranjak turun saat lirikan mata Haruki mengarah ke arah kami bertiga bergantian. Tanganku terangkat meletakkan tali kekang kudaku kepada seorang laki-laki yang telah berdiri di samping kuda milikku itu sebelum aku melangkah mengikuti Haruki yang mulai berjalan mengikuti laki-laki bertubuh besar tersebut melewati pagar.
Laki-laki itu membawa kami masuk ke dalam rumah, suaranya yang terdengar berat itu meminta kami untuk duduk di kursi yang ada di sebuah ruangan besar dengan dia yang juga telah duduk di salah satu kursi di sana. “Panggil dia Sud, kalian semua!” perintah Haruki ketika dia sudah menyandarkan dirinya di salah satu kursi.
“Sud?” tukas Izumi yang dibalas anggukan kepala dari laki-laki tersebut.
Aku melangkah lalu duduk di kursi dengan tatapan masih mengarah ke arah laki-laki tadi, kepalaku mengangguk saat dia menundukkan kepalanya ketika mata kami saling bertatap. “Sud, sudah berapa banyak anak buah yang berada di bawah perintahmu?”
Laki-laki bernama Sud itu mengalihkan tatapannya kepada Haruki, “sekitar seratus yang aku sebar di seluruh ibukota Kerajaan.”
“Lalu, apa kalian semua besok dapat menemani kami berkunjung ke Istana?”
__ADS_1
“Tuan, ingin meminta kami untuk mengawal Tuan dan adik-adik Tuan?” Haruki menganggukkan kepalanya membalas perkataan Sud.
“Istana, menutup diri mereka dari dunia luar. Semenjak, pewaris tahta berganti … Sulit berhubungan dengan Istana termasuk bangsawan seperti Duke, dan Viscount yang memiliki jabatan tinggi. Apa kau yakin Tuan? Akan melanjutkannya setelah apa yang aku katakan?”
Haruki menghela napas dengan semakin menyandarkan dirinya, “aku, tidak bisa membuang-buang waktu lebih lama dari ini. Hanya, bawa kami ke sekitar Kerajaan saja … Sisanya, aku akan mengurusnya,” tukas Haruki dengan mengangkat tangannya bersilang di dada.
“Baiklah, aku telah menyiapkan tempat beristirahat untuk Tuan dan keluarga,” ucap Sud sambil menepuk kedua tangannya hingga tak lama seorang laki-laki muda muncul dari balik suatu ruangan, “dia akan mengantarkan Tuan dan yang lain ke kamar untuk beristirahat. Untuk sisanya, akan aku pastikan sudah beres sebelum pagi datang,” sambung Sud, dia beranjak berdiri ketika Haruki menganggukkan kepala menatapnya.
_____________.
Aku menarik napas dengan membuang pandangan ke sekitar. Semakin lama kami berjalan, semakin sepi juga orang-orang yeng berlalu-lalang. Aku melirik ke arah Haruki yang masih tak membuka suaranya sejak kemarin, rencana apa yang akan dia lakukan pun … Tak ia beritahukan kepada kami.
Kulemparkan kembali pandanganku ke depan. Aku terpaku, merasa takjub dengan apa yang aku lihat sekarang. Sebuah dinding dengan batu-batu besar terlihat mengelilingi sebuah bangunan besar dengan atapnya yang berundak-undak semakin lancip ke atas. Aku semakin tertegun, ketika tatapan mataku itu terjatuh ke arah banyak sekali patung-patung terbuat dari emas yang dibangun kokoh di dekat dinding yang aku maksudkan.
Haruki mengangkat telapak tangannya, ketika itu pula aku menoleh ke belakang. Lebih tepatnya, ke arah Sud dan beberapa laki-laki yang sebelumnya mengawal kami telah menghentikan kuda-kuda mereka dengan kepala-kepala mereka yang tertunduk. Haruki telah menurunkan kembali tangannya ketika pandanganku beralih ke depan.
Langkah kaki kuda kami yang sebelumnya berjalan tanpa hambatan, tiba-tiba berhenti dengan sekitar sepuluh atau dua puluh Kesatria yang berlari keluar dari dinding sambil mengacungkan tombak-tombak di tangan mereka ke arah kami. Aku melirik ke atas saat Izumi yang ada di sampingku telah melakukan hal yang sama sebelumnya, mataku berkedip pelan beberapa kali … Menatap barisan pemanah yang berdiri dengan panah-panah mereka di atas dinding tembok tersebut.
Aku ikut mengangkat kedua tanganku seperti yang Haruki lakukan, dan entah apa yang Haruki teriakkan … Namun saat dia mulai bersuara, para Kesatria itu saling pandang satu sama lain. Salah satu tangan Haruki turun, keringatku mengalir deras ketika para Kesatria itu semakin erat memegang senjata mereka saat Haruki melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Tatapan mataku kembali ke arah Haruki, ketika sebuah silau kecil mencuat dari tangannya, “Katakan, Putra Mahkota dari Kerajaan Sora ingin bertemu dengannya!” pinta Haruki, suaranya terdengar pasti dengan kepalanya yang bergerak menatapi Kesatria-kesatria yang berada di hadapannya.
“Yang Mulia, tidak ingin menemui siapa pun!”
“Hanya sampaikan terlebih dahulu sebelum memutuskannya!” Haruki balas meninggikan suaranya ketika suara laki-laki terdengar berteriak di antara para Kesatria itu.
Kepalaku tertunduk ketika rasa sakit tiba-tiba menyengat di lengan kananku. Aku mendecakkan lidah dengan mengangkat tangan kiriku, berusaha meraih panah yang entah dari mana telah menancap di lenganku itu. “Kalian mengajak seorang perempuan ke sini! Di saat mereka dilarang untuk menginjakkan kaki di Istana suci ini!”
“Apa kalian pikir, dapat mengelabui penglihatanku ini hanya karena dia bersembunyi di balik jubah murahan itu!”
Aku sedikit mengerang saat anak panah yang menancap di lenganku tadi berhasil aku lepaskan. Dengan perlahan, aku mengangkat wajahku … Menatap ke arah suara laki-laki sebelumnya. “Sa-”
“Aku baik-baik saja!” tukasku yang dengan cepat memotong perkataan Haruki.
“Sialan!”
Aku menarik napas dengan mencengkeram kuat lenganku tadi, berusaha untuk tak membuat mereka bertiga khawatir setelah suara menggerutu Izumi terdengar. “Heh, ternyata kau tangguh juga. Bagaimana ji-”
Kedua mataku membesar ketika bayangan hitam besar tiba-tiba melewati kami diikuti rasa dingin yang terasa membekukan udara. Para Kesatria yang berdiri di hadapan kami itu, sudah lari kocar-kacir ketika dinding kokoh yang dihuni oleh para pemanah tadi telah hancur dalam sekejap diikuti puing-puing es yang bercampur dengan puing-puing batu dari dinding tadi.
__ADS_1
Aku mengangkat pandanganku ke atas saat suara teriakan laki-laki terasa memekakkan telinga. “Kou?” gumamku heran, dengan kembali tertunduk saat denyutan rasa sakit di lenganku kembali terasa.