
Aku kembali berjalan mengikuti mereka, “Tsu nii-chan ada di sini? Tapi, aku tidak melihat siapa pun saat bangun,” gumamku pelan dengan melirik ke kanan.
“Salam, Pangeran, Putri,” aku menghentikan langkah kaki, wajahku terangkat menatap Daisuke berserta enam wakil kapten tengah membungkukkan tubuh di belakangnya.
Haruki berserta Izumi berjalan mendekati mereka, “apa kalian telah selesai?” Tukas Haruki ketika dia telah menghentikan langkah kaki di hadapan mereka.
“Jika telah selesai, ikuti aku,” sambung Haruki lagi dengan melangkahkan kakinya melewati mereka.
Aku berjalan di samping Izumi dengan menoleh ke arahnya, “nii-chan, apa ada sesuatu yang penting?” Bisikku pelan dengan merangkul lengannya.
Izumi menundukkan wajahnya menatapku, “aku tidak tahu,” balasnya dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
Aku kembali mengarahkan pandangan ke depan, menatap punggung Haruki yang berjalan membelakangi kami. Haruki terus berjalan tanpa menoleh ataupun berbicara apa pun kepada kami. Aku melepaskan rangkulanku di lengan Izumi lalu berjalan cepat melewati Haruki.
“Tsu nii-chan,” tukasku dengan semakin cepat melangkahkan kaki mendekati laki-laki yang tengah berdiri di dekat pintu ruang perjamuan.
“Kenapa tidak memberitahukan aku, jika nii-chan ada di sini?” Aku kembali bertanya padanya saat langkah kakiku berhenti di hadapannya.
“Pangeran Haruki menceritakan apa yang terjadi padamu, Putri. Aku tidak ingin mengganggu istirahatmu,” ucapnya tersenyum menatapku, Tsubaru sedikit ke samping lalu membungkukkan tubuhnya, “salam, Pangeran,” tukasnya, dia kembali beranjak berdiri saat Haruki maupun Izumi telah berjalan melewati mereka.
“Apa terjadi sesuatu?”
Tsubaru menoleh ke arahku, “Tatsuya mengatakan, jika Pangeran Haruki ingin mengadakan jamuan untuk kami semua,” ucapnya dengan sedikit membungkuk diikuti sebelah tangannya terangkat ke samping.
Keningku mengerut, dengan kedua kakiku yang berjalan melewatinya. Pandangan mataku melirik ke arah Zeki yang telah duduk di salah satu kursi, aku menganggukkan kepala saat aku tak sengaja saling beradu pandangan dengan Wasfiah yang tengah duduk di samping Danur.
“Sa-chan,” aku menoleh ke arah Haruki yang telah duduk di singgasana Raja, dia melirik ke arah kanan seakan memintaku untuk duduk di sana.
Aku berjalan mengikuti arahannya, “bagaimana keadaanmu?” Tanya Zeki saat aku telah duduk di sampingnya. “Aku baik-baik saja,” ungkapku menoleh menatapnya.
“Apa kau tidur dengan baik?” Aku balik bertanya dengan mengangkat tangan mengusap sedikit kotoran yang ada di pipinya.
__ADS_1
“Aku dengar jika kalian akan melanjutkan perjalanan besok?”
Aku menurunkan kembali telapak tanganku lalu mengangguk pelan, “semakin cepat kami melanjutkan perjalanan, semakin baik untuk kita semua,” tukasku dengan kembali mengarahkan pandangan ke arah Haruki saat suara dentingan beberapa kali terdengar.
“Aku, mengadakan perjamuan ini sebagai bentuk rasa terima kasihku kepada kalian. Silakan dinikmati semua jamuan yang telah disediakan, jangan sungkan-sungkan,” ungkap Haruki kembali duduk di kursinya.
“Apa yang harus aku makan terlebih dahulu,” ucapku dengan melirik ke arah makanan yang bersusun di atas meja, “apa ini? Apa ini wafer?” Gumamku dengan mengambil sebuah makanan berwarna hitam pekat bergulung seperti wafer roll berukuran kecil.
“Itu makanan yang aku bawa dari Kerajaan, Putri Sachi,” pandangan mataku beralih kepada Wasfiah yang berbicara.
“Dari, Kerajaan Balawijaya?” Wasfiah menganggukkan kepala menjawab pertanyaanku.
“Saat aku hamil, aku selalu memakannya. Mereka mengatakan, jika itu sangatlah bagus untuk menjaga kesehatan tubuh.”
“Benarkah?” Tanyaku dengan mendekatkan makanan tadi mendekati hidungku, “baunya, seperti tanah yang baru saja diturunkan hujan,” ucapku dengan kembali menatap makanan itu.
“Itu memang tanah yang dibakar, Putri Sachi. Namanya Ampo,” dia mengatakannya dengan tersenyum lebar saat aku kembali menatapnya.
“Apa kau tidak ingin memakannya, Sachi?” Aku melirik tajam ke arah Izumi saat dia tiba-tiba bersuara.
“Putri,” aku menoleh mencari Tsubaru saat suaranya terdengar, “sebagai pelayanmu, aku melarangmu untuk memakannya,” ucapnya dengan beranjak berdiri dari kursi yang ia duduki.
“Apa yang kau maksudkan, Tsubaru?”
“Pangeran, aku sangat mengenal Putri. Walau dia terlihat selalu lahap memakan apa pun, tapi perutnya sangatlah lemah. Dia memakan banyak makanan melebihi apa yang ia makan selama ini, itu hanya karena dia tidak ingin menghambat kedua kakaknya. Jadi, jika diizinkan … Biar aku yang menggantikan Putri untuk memakannya,” ucapnya dengan membungkukkan tubuhnya.
“Tsu nii-chan … My Hero,” gumamku pelan dengan tetap mengarahkan pandangan ke arahnya.
“Tidak perlu,” aku berbalik menatap Zeki yang telah meraih satu mangkuk penuh makanan bernama Ampo yang ada di meja, “makanan ini, ada di atas meja kami berdua. Jadi, aku yang akan menghabisinya. Kau tidak keberatan jika aku memakan semuanya bukan, Darling?” Tukas Zeki sembari tersenyum ke arahku.
“Ini perjamuan sebagai ungkapan terima kasih bukan?”
__ADS_1
“Lalu, Hime-sama … Kapan, Hime-sama akan menerjang wajahku sebagai ucapan terima kasih? Aku telah menunggu saat-saat di mana Hime-sama menyiksa seluruh bagian tubuhku.”
Keadaan di dalam ruangan menghening, aku dengan cepat menatap Sano saat Haruki dan yang lainnya mengalihkan pandangannya ke arahku. “Apa maksud perkataannya itu? Apa yang terjadi di antara kalian berdua di Rhys?”
“Ini tidak seperti yang kau pikir,” ucapku menatap Zeki dengan tatapan memohon.
“Tidak seperti yang aku pikir? Lalu jelaskan apa yang terjadi?”
Aku memukul kuat meja lalu beranjak berdiri di sampinya, “apa kau tidak mempercayaiku?!” Bentakku dengan menepuk kuat dadaku.
“Apa jika ada yang tiba-tiba tertarik padaku, maka itu kesalahanku? Aku tidak pernah menggoda siapa pun … Bagaimana denganmu? Meskipun dulu kau mengatakan jika Ayah yang memintamu untuk berpura-pura bertunangan, kau pasti menikmatinya bukan? Bertunangan dengan Putri cantik, anggun dan mungil sepertinya.”
“Apa maksudmu?” Ungkapnya beranjak berdiri di hadapanku.
“Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?”
“Apa kau benar-benar ingin bertengkar denganku?” Dia balik bertanya dengan berjalan semakin mendekati.
“Ini bukan kesalahanku,” ucapku saat dia mengalihkan pandangan ke samping diikuti sebelah tangannya menutupi mulut.
Zeki kembali menatapku, aku melangkah maju mendekatinya saat tanganku ditarik olehnya. Aku melirik ke arah matanya yang terpejam, aku ikut memejamkan mata saat rangkulan yang ada di pinggangku semakin menguat. “Oi,” kedua mataku kembali terbuka lebar saat suara Izumi terdengar.
“Apa dunia ini, hanya milik kalian berdua?” Sambung suara Izumi yang lagi-lagi mengetuk telinga.
Zeki menghentikan ciumannya di bibirku, dia mengangkat kembali wajahnya diikuti decakan lidah yang ia keluarkan. Kepalaku terbenam di dadanya saat kurasakan telapak tangannya yang menyentuh belakang kepalaku itu semakin mendorongnya ke depan.
Mati aku. Aku lupa jika kami sekarang berada di ruang perjamuan.
“Apa yang kami lakukan sekarang salah?”
Zeki, apa dia ingin membunuh kami berdua?
__ADS_1
“Kau bertanya, apa yang kau lakukan pada Adikku adalah salah?” Aku menggenggam kuat pakaian yang Zeki kenakan saat suara Haruki ikut terdengar.
“Tatsuya, berikan aku pedang! Aku akan mengajarinya, mana yang benar dan mana yang salah,” tukas Haruki lagi diikuti suara benda bergeser dari arah belakang.