Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXV


__ADS_3

Ebe berenang pelan dengan menarik sebelah tanganku untuk mengikutinya. Kedua kakiku bergerak mendayung air sembari kepalaku masih menatap lurus, menatap laki-laki tua yang Ebe sebut kakeknya itu.


Pandangan mataku bergerak ke sekitar, tebing batu yang mengelilingi kami tampak samar terlihat akibat minimnya cahaya yang ada. Aku melirik, ke arah duyung laki-laki yang tengah duduk di salah satu lubang yang ada di tebing dengan bayi duyung di gendongannya.


"Dia sedang mengurus anaknya, aku sudah mengatakannya padamu bukan? Jika para laki-laki yang mengurus anak setelah para perempuan melahirkannya," ucap Ebe, aku melirik ke arahnya yang tengah menatap ke arah duyung laki-laki tadi.


"Apa kau, juga akan melakukannya?"


"Aku tidak akan melakukannya, aku akan ikut merawat anakku nantinya. Karena aku paham, bagaimana rasanya tak mendapatkan kasih sayang yang lengkap."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Suara laki-laki tiba-tiba terdengar, aku dan Ebe berhenti bergerak diikuti saling tatap di antara kami.


"Tidak ada. Temanku, hanya kagum melihat wilayah kekuasaanmu, Kakek," ucap Ebe melepaskan pegangannya, kurasakan tepukan sedikit keras di punggungku yang ia lakukan.


"Ebe benar, aku mengaguminya," ucapku dengan sedikit tersenyum ke arah laki-laki tua itu.


Laki-laki tua itu kembali berbalik, menggoyangkan ekornya berenang semakin menjauhi kami dengan beberapa duyung laki-laki di belakangnya. Ebe kembali menarik lenganku, kami berdua berenang mengikuti mereka yang terlihat semakin menjauh.


Aku melirik ke arah hewan seperti ubur-ubur yang seluruh tubuhnya dipenuhi cahaya, cahaya dari ubur-ubur itulah... Layaknya obor yang menerangi sepanjang jalan. Ubur-ubur yang sama juga, yang aku lihat di samping duyung laki-laki yang menggendong bayinya tadi.


Ebe menarik kembali tanganku dengan erat, aku mengikutinya menyelam semakin dalam mengikuti laki-laki tua tadi berserta beberapa duyung laki-laki yang berenang di belakangnya. Semakin kami menyelam, semakin tubuhku terasa membeku. Apakah ini? Yang sering dimaksudkan dengan bagian terdalam dari lautan.


Sebuah cahaya, kembali terlihat dari kejauhan. Aku mengernyitkan dahiku, berusaha melihat cahaya yang jauh di hadapan kami itu...


"Cepatlah," terdengar suara Ebe dari arah kananku, hanya suaranya saja yang terdengar tanpa aku dapat melihat wajahnya karena gelapnya keadaan sekitar.


Kedua kakiku semakin cepat berenang, rasa lelah di kakiku sebelumnya terasa sedikit sirna saat kami semakin mendekati cahaya tersebut.


Aku menatap takjub saat kegelapan yang kami lalui berakhir. Beberapa hewan laut yang tak pernah aku lihat sebelumnya tampak berenang hilir-mudik di hadapan kami. Mataku membelalak saat kurasakan sesuatu berembus di telinga...

__ADS_1


Kepalaku menoleh, kutatap seekor kuda laut berwarna hitam pekat yang masih mencoba mendekati wajahnya ke arahku. Dan yang lebih membuatku terkejut, tubuhnya hampir menyamai tinggi badan salah satu duyung laki-laki yang berenang mendekatinya.


Tubuhku berenang ke bawah saat kuda itu mengangkat kedua kakinya bersandar di kedua pundakku. Aku menoleh ke arah Ebe yang telah melepaskan genggaman tangannya di lenganku...


"Sachi, aku pikir dia menyukaimu," ucap Ebe pelan sembari ia berenang perlahan menjauhi.


Aku melirik ke sekitar, beberapa duyung... Telah berenang mendekat, dengan kedua mata mereka semua terarah padaku. Aku kembali menatap kuda laut itu, matanya yang merah menyala tampak tak berpaling menatapku.


"Ebe," ucapku kembali berbalik menatapnya.


"Kuda itu, kuda yang paling tidak bisa dijinakkan. Tidak ada duyung selama ini yang dapat menjinakkannya," ucap Ebe membalas tatapanku.


"Kakek tua, kau telah berjanji akan membantuku bukan?" Ungkap ku mengalihkan pandangan pada laki-laki tua yang berenang di samping Ebe.


"Aku hanya berjanji membantumu untuk upacara. Itu bukan urusanku jika kau mati di tangan kuda itu," ucapnya berbalik lalu berenang menjauh.


Sialan, aku ingin sekali memerintahkan Kou untuk memakannya.


Kuda itu masih menatapku, kubalas tatapan matanya yang merah menyala itu. Pandangan mataku kembali tertunduk, menatapi kedua kakiku yang telah menyentuh hamparan pasir yang ada di sekeliling kami.


"Lepaskan," ucapku dengan menggerakkan jari telunjukku ke arahnya, kepala kuda itu bergerak mendekati jariku tadi dengan sesekali hidungnya menyentuh jariku itu.


"Ebe, aku tidak memiliki waktu untuk hal semacam ini," ucapku kembali berbalik menatapnya.


"Bagaimana jika kau memberikan dia nama dengan memegang kepalanya," ucapnya membalas tatapanku.


"Apakah itu akan berhasil?"


"Kenapa tidak kau coba sendiri," ucapnya kembali padaku.

__ADS_1


Aku kembali berbalik menatap kuda tersebut, kuangkat sebelah tanganku menyentuh kepalanya yang masih bergerak mengendus-endus jariku tadi...


"Kuro," ucapku menatapnya, kuda tersebut mengangkat kepalanya menatapku.


Kuangkat kembali tanganku yang ada di kepalanya, aku tidak tahu kenapa... Akan tetapi, pergelangan tanganku tiba-tiba seperti diremukkan. Kuangkat sebelah tanganku yang lain memegang lengan kananku yang masih terasa sangat sakit...


Bercak hitam, tiba-tiba muncul di pergelangan tanganku yang sakit. Bercak hitam itu, semakin lama... Semakin membesar lalu memanjang mengelilingi pergelangan tanganku itu.


Aku berbalik menatap ke sekitar, mereka semua memandangku dengan tatapan yang... Aahh, aku benar-benar membenci tatapan kasihan itu. Bahkan Ebe, ikut menatapku dengan tatapan yang sama seperti para duyung yang lainnya.


Aku kembali menatap kuda tersebut, tempat yang aku sentuh sebelumnya telah muncul sebuah lambang mahkota berwarna emas. Kuda itu tiba-tiba terjatuh, tubuhnya tak bergerak berbaring di hamparan pasir.


Apa yang terjadi?


Apa aku membunuhnya?


Aku berenang mendekatinya, rasa sakit di pergelangan tanganku, sudah tidak kuhiraukan sama sekali. Ku sentuh dengan perlahan kepala kuda tadi, matanya masih tertutup walau beberapa kali aku mencoba membangunkannya.


"Sachi," ucap Ebe kembali terdengar, aku berbalik menatapnya yang telah mengarahkan sebelah tangannya ke arahku.


"Ebe, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyaku, dengan sesekali pandangan mataku mengarah ke arah para duyung lainnya yang masih menatapi.


"Waktu kita tidaklah banyak Sachi. Cepatlah, Kakek ku pasti telah menunggu kita di kuil," ucapnya kembali dengan telapak tangannya masih mengarah padaku.


"Tapi, tapi dia," ucapku kembali menoleh ke arah kuda tadi yang masih terpejam tak bergerak.


"Adikmu, atau kuda itu," ucapnya lagi, kugigit kuat bibirku dengan kedua mataku menatap tajam padanya.


Aku berbalik menatapi kuda itu, sebelah tanganku terangkat mengusap kepalanya. Ia masih terpejam, ia masih tak bergerak... Bahkan, lambang mahkota di kepalanya tadi telah menghilang entah kemana.

__ADS_1


"Maaf, tapi nyawa Adikku. Aku harus menyelamatkannya," ucapku kembali mengusap kepala kuda tadi, aku berbalik lalu meraih tangan Ebe yang entah kapan telah berada di sampingku.


__ADS_2