Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLI


__ADS_3

Arata menghentikan langkah kakinya di hadapanku dengan sebelah tangannya terangkat seakan memintaku untuk tak melangkah semakin maju. Kuikuti pandangan matanya yang tertuju ke arah sebuah pintu terbuka yang di sekitarnya dipenuhi pecahan-pecahan kaca dengan percikan darah yang mengikuti.


"Mundur, Hime-sama," ucapnya berbisik pelan saat sebuah bayangan hitam bergerak muncul dari pintu kaca yang telah hancur tersebut.


"Haru nii-chan," ucapku saat bayangan hitam tersebut semakin melangkah maju masuk ke dalam.


"Kau sudah sampai, Sa-chan," ucapnya melangkah santai dengan sebuah kepala di genggamannya. "Kepala siapa itu?" Tanyaku saat dia semakin berjalan mendekat diikuti jejak darah yang keluar dari kepala laki-laki yang ada di genggamannya itu.


"Kepala Kapten Kerajaan Tao. Aku kehilangan jejak Raja mereka karena sampah sepertinya," ucap Haruki seraya dilemparkannya kepala yang ia genggam tadi dengan kuat ke lantai.


"Di mana Izumi? Apa kau melihatnya?" Dia balik bertanya, Haruki meletakkan telapak tangannya ke belakang lehernya lalu diangkatnya kepalanya itu sedikit mendongak ke atas.


"Izu nii-chan mengatakan jika dia ingin mencari Pangeran yang bersembunyi," ucapku membalas perkataannya. "Begitukah? Aku harap dia melakukannya dengan sangat cepat."


"Pundakmu? Apa kau terluka?" Tanyanya meraih lenganku, lama ditatapnya pundakku itu. "Hanya terkena panah," ucapku ikut melirik ke arah pundakku itu.


Haruki berbalik tanpa mengucapkan kata-kata padaku. Dia melangkahkan kakinya mendekati sebuah ranjang, disingkapnya kain putih yang ada di atas ranjang tersebut dengan sebelah tangannya lalu dipotongnya kain tersebut menggunakan tombak yang ia bawa.


Haruki kembali berbalik melangkah dengan membawa potongan kain putih yang sedikit memerah di tangan kirinya. "Pegang tombakku!" Perintahnya pada Arata saat dia menghentikan langkahnya di hadapanku.


"Angkat sedikit tanganmu," ucap Haruki kembali melangkah semakin mendekati, kuangkat tanganku mengikuti perintahnya. Haruki melingkarkan kain tadi dengan perlahan membalut luka yang ada di pundakku.


"Bagaimana keadaan Luana dan juga Sasithorn?" Tanyaku saat Haruki menggerakkan kedua tangannya mengikat kain putih tadi di tubuhku. "Aku meminta mereka bersembunyi di salah satu rumah penduduk, mereka akan aman. Apakah ikatannya terlalu kencang?" Tanyanya sedikit melirik ke arahku.


"Ikatannya sudah pas," ucapku menjawab perkataannya, "begitukah? Kalau begitu, ikuti aku. Kita harus menyelesaikan ini secepatnya," ucap Haruki meraih kembali tombak miliknya di tangan Arata, kugerakkan kedua kakiku mengikuti langkah kakinya yang telah berjalan mendahului kami.


Haruki terus melangkah maju tanpa mengucapkan sepatah kata pun, "Haru nii-chan, bukankah lebih baik kita berpencar?" Tanyaku, Haruki tetap tak bergeming, justru langkah kakinya semakin cepat melangkah.


"Tidak ada siapa pun lagi di Istana, semua yang ada di Istana ini sudah mati. Kita hanya harus mencari mereka di luar," ucap Haruki tanpa menoleh.


"Semuanya sudah mati?" Tanyaku dengan sedikit melirik ke sekitar, kami kembali melewati mayat-mayat bergelimpangan yang aku lihat sebelumnya.

__ADS_1


Langkah kakiku bergerak semakin cepat menuruni tangga, Haruki berhenti sejenak lalu menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya. "Tuan!" Suara teriakan laki-laki terdengar, kugerakkan kepalaku mengikuti arah suara tersebut muncul.


"Kalian lamban sekali!" Teriak Haruki saat Gritav berserta rombongannya menggerakkan kuda mereka mendekati kami.


"Maafkan kami Tuan, tapi ... Ketika kami hendak ke sini, kami menemukan sesuatu yang mencurigakan," ucap Gritav sedikit melirik ke arah Eneas yang berkuda di belakangnya.


"Nii-san, kami menemukan segerombolan yang mengendap-endap keluar dari dalam gerbang Istana ini. Jadi, kami memutuskan untuk membunuh semua orang yang ada di gerombolan tersebut," ucap Eneas, dia turun dari atas kuda miliknya lalu melangkah dengan membawa bungkusan kain berwarna hitam di tangannya.


"Saat laki-laki ini terbunuh, beberapa orang laki-laki yang masih hidup langsung histeris dan berteriak Yang Mulia," ucap Eneas kembali, sebelah tangannya memegang bagian bawah bungkusan tersebut sedangkan sebelah tangannya yang lain membuka perlahan ikatan yang ada di bungkusan itu.


"Apakah, nii-san mengenalnya?" Sambung Eneas kembali, diangkatnya kepala seorang laki-laki muda yang terbungkus kain hitam tadi ke arah Haruki.


"Arata!" Teriak Haruki, Arata maju ke depan beberapa langkah mendekatinya. "Dia, Putra Mahkota sekaligus Pangeran satu-satunya Kerajaan Tao," ucap Arata menatap Haruki saat dia telah selesai mengamati kepala yang ada di tangannya Eneas.


"Apa kau yakin?"


"Sangat yakin, Yang Mulia," jawab Arata kembali padanya. "Baiklah. Gritav, perintahkan anak buahmu untuk menggantungkan kepala ini di tempat yang dapat dilihat semua orang," ucap Haruki menoleh ke arahnya.


"Sesuai perintah darimu Tuan," ucapnya sedikit membungkukkan tubuhnya dari atas kuda yang ia tunggangi.


"Apa yang kalian lakukan di sana? Apa semuanya telah selesai?!"


Teriakan Izumi mengalihkan pandangan kami, "kau lamban sekali Izumi," ucap Haruki ikut menoleh ke arahnya.


"Tutup mulutmu! Aku menghabiskan banyak sekali waktu hanya untuk mencari laki-laki tua ini," ucap Izumi dengan sedikit meninggi, kutatap tangannya yang telah mencengkeram kerah pakaian seorang laki-laki, ditariknya kerah pakaian laki-laki tersebut hingga tubuh laki-laki itu terseret di sampingnya.


"Siapa dia?" Tanya Haruki saat Izumi mengangkat lalu melemparkan tubuh laki-laki tersebut di hadapan Haruki. "Lux mengatakan, jika laki-laki ini adalah Raja Tao," Izumi menjawab pertanyaan Haruki dengan jari telunjuknya terangkat ke depan wajahnya.


"Apa dia mati?" Tanya Haruki kembali, Haruki mengangkat sebelah kakinya menendang-nendang kecil wajah laki-laki paruh baya tersebut. "Aku hanya membuatnya pingsan, karena aku pikir kau mungkin memerlukannya," ucap Izumi kembali kepadanya.


"Kau hanya membuang-buang waktu Izumi," ucap Haruki, dia sedikit memundurkan langkah kakinya ke belakang. Diangkatnya tombak yang ia genggam ke atas menggunakan kedua tangannya, tombak milik Haruki tadi berayun kencang menebas leher laki-laki yang tak sadarkan diri tersebut hingga kepalanya terlepas dari lehernya.

__ADS_1


"Gritav, bawa kepala laki-laki ini juga, bawa dan gantung kepala ini bersamaan dengan kepala tadi," ucap Haruki, dilepaskannya genggaman tangannya tadi di tombak miliknya itu, "dengan ini, Ibukota Kerajaan Tao, resmi jatuh di tangan kita," sambung Haruki, dia berbalik lalu melangkah kembali menaiki tangga menuju Istana.


__________________


Kutatap Cia yang tertidur pulas di atas ranjang, wajahnya pucat pasi saat anak buah Arata mengantarkannya kembali padaku. Aku berjalan lalu merebahkan tubuh di sampingnya, hari ini benar-benar terasa sangat melelahkan.


"Sachi," suara Lux tiba-tiba terdengar, kugerakkan tubuhku beranjak duduk menatapnya yang tengah terbang mendekat.


"Kau melakukannya dengan sangat baik Lux," ucapku tersenyum menatapnya, "aku hanya menaburkan racun di sumber-sumber air yang ada di sini sesuai perintahmu," ucapnya terbang lalu duduk bersandar di salah satu bantal.


"Ranjang di Istana, memanglah tempat tidur terbaik," ucap Lux sedikit mendongakkan kepalanya. "Sachi," ucapnya, kugerakkan kepalaku sedikit melirik ke arahnya yang telah menatapku.


"Aku tidak mengikuti peperangan, jadi jelaskan padaku apa yang kalian lakukan," ucapnya sedikit menguap lalu kembali menatapku.


"Setelah aku memerintahkanmu untuk meracuni air yang ada di sini, aku memerintahkan Arata untuk meminta anak buahnya mencuri lalu menyembunyikan persedian makanan yang ada di sini," ucapku, ikut kugerakkan tubuhku bersandar di kepala ranjang.


"Kehilangan pasokan makanan dan juga air di sebuah kota yang terkepung, akan membuat mereka yang ada di dalamnya putus asa."


"Karena itulah kekacauan terjadi?" Tanya Lux menghentikan perkataanku, "karena itulah kekacauan terjadi," ucapku mengulangi perkataannya.


"Karena itu juga, aku meminta para pasukanku membakar daging kuda hingga baunya tersebar, itu kulakukan semata-mata hanya untuk pancingan mereka," ucapku mengangkat kedua tangan mengusap mata.


"Aku juga meminta anak buah Arata untuk membangun jalan rahasia seperti terowongan bawah tanah untuk Haruki, Izumi, Sanjiv dan beberapa pasukan lainnya menyelinap ke dalam Ibukota sedangkan sisanya sebagai pengalihan untuk para musuh. Karena jika itu dilakukan, aku bisa menghemat waktu penyerangan. Dan juga, keuntungan besar untuk kita jika Arata menempatkan beberapa anak buahnya sebagai Kesatria di Istana," sambungku kembali padanya.


"Kau benar-benar tak bisa ditebak Sachi," ucap Lux terdengar pelan terdengar.


"Aku, hanya memanfaatkan semua yang telah tersedia. Aku, tak bisa melakukannya jika Haru nii-chan, maupun Arata tak berada di pihak kita, dan juga bantuan besar yang kau berikan benar-benar membantuku Lux," ucapku kembali tersenyum padanya.


"Aku, tidak melakukan apapun," ucapnya kembali bersandar tanpa menoleh ke arahku, "lalu, bagaimana kau bisa menjelaskan tentang beberapa Kesatria yang terkapar di depan pintu Istana?" Sambungku kembali tersenyum ke arahnya.


"Kau menyadarinya?" Tanyanya yang aku balas dengan anggukan kepala, "saat aku tahu kalian telah memulai penyerangan, aku membakar ramuan yang telah aku buat sebelumnya ke obor-obor yang ada di sepanjang lorong Istana. Asap dari ramuan itu, membuat makhluk yang menghirupnya akan merasakan yang kau namakan halusinasi," ucap Lux sedikit terhenti, "jadi, mereka menyerang satu sama lain?" Tanyaku yang dibalas anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Mereka menyerang satu sama lain sebelum Haruki maupun Izumi datang, karena hanya itu yang dapat aku lakukan untuk menolong kalian," ucapnya kembali, "beruntung semuanya berakhir dengan sangat baik," sambung Lux dengan sedikit menghela napas panjang.


"Ini belum berakhir, Lux. Ini baru saja dimulai, wilayah di bawah kekuasaan Tao akan mendengar kabar jatuhnya Ibukota mereka. Tugas kita sekarang, bagaimana caranya mempertahankan benteng ini agar tak jatuh di tangan mereka. Jika mereka menyerang secara bersamaan, habislah kita semua," ucapku dengan sedikit mendongak ke atas, kuangkat sebelah lenganku menutupi mata sebelum menghela napas dengan sangat kuat.


__ADS_2