
"Hati-hati," bisik Zeki pelan, kurasakan genggaman tangan di pinggang yang membantuku berdiri.
"Aku pikir disini sedikit aman untuk kita bersembunyi."
"Bagaimana menurutmu Danur? Apa kau masih merasakannya?" terdengar bisik suara Haruki yang entah ada dimana.
"A-aku su-sudah ti-tidak me-merasakan a-apapun la-lagi."
________________
Sinar matahari pagi menyilaukan mataku, kugerakkan kepalaku ke samping untuk menghindarinya. Sebuah sentuhan terasa di pipiku, kubuka pelan kedua mataku yang masih enggan untuk terbangun...
Kutatap wajah Zeki yang masih terjaga di sampingku, kualihkan pandanganku pada telapak tangannya yang menghalangi sinar matahari mengenai wajahku.
"Kau tidak tidur sama sekali?" ucapku pelan menatapnya, kusentuh wajahnya menggunakan jari telunjuk.
"Kau sudah bangun?" ungkapnya balik menatap, diturunkannya telapak tangannya tadi yang menutupi wajahku sebelumnya.
"Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Masih tertidur," ungkapnya, seraya menoleh ia kearah kiriku.
"Aku tertidur."
Kuangkat kepalaku seraya menoleh ke arah Adinata yang tampak mengusap-usap kedua matanya, sesekali ia menguap lebar seraya menatap lurus ke arah pepohonan yang ada dihadapan kami.
Kualihkan pandanganku ke arah Arion yang masih terlelap di sampingku, beralih kembali aku ke arah Julissa yang juga ikut terlelap disampingnya.
"Beristirahatlah sejenak, kau pasti lelah bukan?" ucapku kembali mengalihkan pandangan kearah Zeki, kuletakkan telapak tanganku ke pipi kanannya seraya kutarik pelan kepalanya ke pundakku.
"Tidurlah, aku akan menggantikanmu berjaga," ucapku lagi padanya.
______________
__ADS_1
Berjalan kami bersepuluh kembali ke tempat dimana kami mendirikan tenda kami sebelumnya. Langkah kaki kami semua terhenti ketika melihat semuanya telah rusak parah...
Tenda kain yang kami dirikan kokoh sebelumnya, tampak hancur dan robek dengan beberapa patahan kayu yang keluar menembus dari balik-balik kain cokelat tersebut...
Beberapa jejak kaki berukuran dua atau tiga kali lipat dari jejak kaki orang dewasa tampak terbenam dimana-mana. Berjalan aku mendekati tenda yang telah hancur tersebut seraya kusingkap kain yang menutupinya...
Kuraih tas cokelat punyaku yang tergeletak di dekat patahan kayu, kubuka dan kulihat isi didalam tas tersebut.
"Syukurlah, semuanya baik-baik saja," ucapku, kupeluk erat tas berwarna cokelat tersebut.
"Semua persediaan makanan kita telah hancur," ungkap Adinata berjalan ke arah Haruki.
"Makhluk apa yang punya jejak kaki sebesar ini?" ucap Zeki berjongkok menatap jejak kaki yang ditinggalkan makhluk misterius semalam.
"Aku sempat melihat wujudnya walau sekilas, ketika ia berjalan sambil menghancurkan pepohonan yang ada disana," ucap Izumi seraya menunjuk ke arah beberapa pepohonan yang tumbang.
"Kau melihatnya?" ungkap Adinata menatapi Izumi.
"Mataku dapat melihat jelas walau dalam keadaan tergelap sekalipun, aku melihat semuanya seperti aku melihatnya dalam keadaan terang."
"Tubuhnya sama seperti manusia, hanya saja lebih besar dari manusia biasa. Tubuhnya berwarna hijau keabu-abuan, dan wajahnya seperti kera dengan taring yang panjang," ucap Izumi mencoba menggambarkan sosok tersebut ditanah dengan sebuah batu yang ada di sebelahnya.
"Makhluk apa itu?" ungkap Adinata mengerutkan keningnya.
"Apa kau yakin nii-chan?" ucapku menatapnya, mengangguk ia membalas perkataanku.
"Apa kau mengetahuinya Sa-chan?"
"Jika yang dilihat Izu nii-chan adalah makhluk dengan rupa seperti itu, bisa dipastikan dia adalah Orc," ucapku tertunduk seraya menghela nafas berulang kali.
"Orc? Maksudmu?" ucap Haruki, kubalas perkataannya dengan anggukan kepala.
"Apa yang kalian maksudkan dengan Orc tersebut?" ungkap Luana menatap ke arah kami berdua bergantian.
__ADS_1
"Yang pasti, makhluk yang disebut dengan Orc tersebut memiliki sifat ganas dan sangat berbahaya. Orc pemakan daging dan juga bisa menjadi makhluk kanibal," ucapku menatap mereka satu persatu.
"Kanibal?" ucap Zeki balas menatap.
"Saat satu makhluk memakan makhluk yang sejenis, seperti jika aku memakan salah satu dari kalian. Itulah yang dimaksudkan dengan kanibal," sambungku menjawab pertanyaannya.
"Bagaimana kalian mengetahui semuanya," ucap Arion tiba-tiba bertanya, beralih aku menatapnya yang masih tertunduk.
"Aku dan kakakku sama-sama penggila buku, jadi kami mengoleksi banyak buku di Kerajaan."
"Lalu bagaimana caranya kita melawannya?" ungkap Izumi ikut menatapku.
"Entahlah, keterangan mereka masih simpang-siur. Ada yang mengatakan jika mereka dahulu ialah sebangsa Elf yang tercemar, dan jika memang begitu... maka kita harus banyak-banyak berdoa karena Elf sendiri dapat menggunakan sihir."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Sachi?" ungkap Julissa.
"Tentu saja bertahan hidup prioritas utama kita, semua perbekalan kita sudah habis... Manusia bisa bertahan hidup empat belas hari tanpa makanan, akan tetapi kita tidak akan bisa bertahan hidup jika lebih dari tiga hari tidak meminum apapun," ucapku tertunduk, kugigit pelan ujung jempol tangan kananku seraya berusaha mengingat semua pengetahuan yang dulu pernah aku pelajari.
"Bagaimana caranya kita menemukan air di hutan seluas ini?" ungkap Sasithorn dengan suara bergetar.
"Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah, jadi kita akan mencarinya di dataran rendah. Dan lagipun..." ungkapku seraya mengangkat kepalaku menatap langit, kugerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.
"Kalian lihat burung yang terbang itu?" ucapku lagi seraya menunjuk ke arah sekumpulan burung yang terbang berkelompok.
"Burung? Apa hubungannya dengan burung?" sambung Adinata.
"Karena sekumpulan burung yang terbang pada pagi atau sore hari dan turun di tempat tertentu, kemungkinan besar tempat tersebut terdapat sumber air," ucapku kembali menatap mereka satu persatu.
"Jadi maksudmu kita akan mengikuti arah burung-burung tersebut terbang bukan?" ucapku Haruki menatapku.
"Kita tidak ada pilihan, kecuali hujan turun atau menemukan tanaman yang mengandung banyak air didalamnya. Apa kau melihat tanaman di sekitar sini yang dapat kita ambil airnya nii-chan?" ucapku mengalihkan pandangan kepada Izumi.
"Aku tidak menemukan satupun," balas Izumi dengan cepat.
__ADS_1
"Sejak kapan kau mengerti tentang tumbuh-tumbuhan Izumi?" ungkap Haruki ikut menatap Izumi.
"Seorang guru kecil mengajariku secara langsung tentang tumbuh-tumbuhan. Aku benar bukan?" ucap Izumi seraya tersenyum menatapku.