
"Haruskah kita melewati tempat busuk ini?" gerutu Luana sambil tetap menutup kuat hidungnya.
"Kau bisa menunggu disana dan jangan ikut kalau tidak mau pergi kesini," balas Julissa berteriak.
"Kau suka sekali mencari masalah," ucap Luana kembali pada Julissa.
"Kau sendiri yang memulainya, tidak ada yang memaksamu untuk ikut," sambung Julissa membalas tatapannya.
"Hime-sama, apa kita bisa meninggalkan para perempuan kecuali dirimu ditengah hutan?" ucap Adinata berbalik menatapku, tak lagi terdengar suara riuh antara Luana dan Julissa.
"Awalnya aku memang mengajak mereka, tapi jika mereka ingin meninggalkan kelompok ini. Aku tidak akan melarang siapapun, tapi yang pasti... Aku butuh ketenangan untuk berpikir, jika kalian dapat membantuku untuk memikirkan apapun. Aku akan dengan senang hati menutup mulutku," ucapku balas menatap Adinata.
"Jadi kalian, selama ini aku hanya memperhatikan kalian yang selalu saja mengeluh dan mengeluh. Jika kedepannya aku mendengar sesuatu seperti itu lagi, aku akan mengikat tubuh kalian lalu kubuang entah dimana," ungkap Adinata menatap dingin mereka.
"Aku tidak sebaik Haruki, Izumi maupun Zeki..."
"Apa aku terlihat baik? Aku telah mengatakan jika hanya akan melindungi adikku," sambung Haruki memotong perkataan Adinata.
"Apa kau baik-baik saja?" ucap Izumi menyentuh kepalaku.
"Hanya sedikit mual," ucapku sembari tetap menutup kuat hidungku.
"Hahaha kita punya banyak sekali makanan."
"Ini semua karena Tuan berbaik hati pada kita."
Suara keras itu membuat langkahku terhenti, berbalik aku seraya melihat kebelakang. Tampak sekerumunan makhluk aneh terbang kearah kami, mereka berbentuk seperti burung dengan kedua sayap dan juga tiga jari kaki berwarna kuning dengan cakar yang melengkapinya... Akan tetapi, mereka juga terlihat seperti perempuan. Wajahnya, kepalanya, bahkan tubuh yang tak tertutupi kain tersebut sama seperti halnya perempuan pada umumnya...
"Jatuhkan tubuh kalian semuanya!" teriakku, sebelum makhluk itu mendekati. Menoleh mereka ke arahku, lalu menatap jauh apa yang ada dibelakangku.
Kujatuhkan tubuhku ke atas tanah, bau busuk dari bangkai yang ada di sekitar semakin mengaduk-aduk isi perutku. Menoleh aku ke samping, tampak terlihat bangkai manusia yang mulai membusuk ikut berbaring di sebelahku.
Matanya yang telah dipenuhi belatung seakan menatap balik mataku, mulutnya yang terbuka juga tampak ikut dipenuhi belatung yang jatuh keluar dari mulutnya sangking banyaknya jumlah belatung yang memenuhi mulutnya...
Perutku terasa mual sekali melihatnya. Kurasakan pandangan mataku tertutup, diikuti bisikan jangan dilihat oleh Izumi. Kuangkat telapak tanganku seraya menutup kembali hidung dan mulutku...
__ADS_1
"Telinga manusia memang yang terbaik."
"Kau benar, mereka yang terbaik," ucap makhluk tersebut bergantian.
Kuangkat kepalaku seraya melihat apa yang terjadi, tampak terlihat para makhluk yang aku sendiripun tidak tahu apa itu, tampak lahap memakan tumpukan bangkai manusia yang ada di hadapan mereka.
Mereka menusuk mata yang ada di bangkai tersebut menggunakan cakar mereka lalu menelannya. Apa kalian telah membayangkannya? Mengerikan bukan? Itulah yang aku rasakan sekarang.
Kulirik Julissa yang telah pucat pasi menatapku, kuletakkan jari telunjukku menyentuh bibirku seraya menatapnya untuk tetap diam.
Kupejamkan mataku seraya menunggu para makhluk itu menjauh, kurasakan sesuatu menyentuh pundakku. Kuangkat kepalaku seraya menatap Izumi yang telah berjongkok di hadapanku.
Dibantunya aku berdiri, kuperhatikan sekitar... Makhluk tersebut telah menghilang. Berlari kami satu persatu menjauhi tempat itu, duduk kami semua seraya menyandarkan tubuh di balik-balik pohon.
Kuarahkan hidung menciumi lenganku, bau busuk tersebut masih mengikuti. Kuperhatikan wajah mereka yang masih terlihat pucat pasi, kuangkat kepalaku ke atas seraya kuhirup udara segar semampuku...
"Makhluk apa tadi itu?" ucap Adinata, digosok-gosoknya lengan kanannya ke pohon yang ada di belakangnya.
"Pemakan bangkai? Aku ingin segera melupakannya. Mereka menjijikan sekali," ucap Julissa mengacak-acak rambutnya.
"Bisakah kau tidak terlalu menjelaskannya? Perutku masih terasa sangat mual," ucapku tertunduk.
"Kau juga memperhatikannya?" sambung Adinata, mengangguk Zeki menanggapi perkataannya.
"Heh, lalu apa yang kau perhatikan? Wajahnya atau tubuhnya?" ucapku balas menatap Zeki.
Tunggu, tunggu dulu. Kenapa juga aku tiba-tiba merasa kesal seperti ini?
"Memang kenapa?" ucapnya balas bertanya.
"Sachi, kemarilah! Laki-laki memang tidak bisa diharapkan," ungkap Julissa melambai-lambaikan tangannya ke arahku.
"Menjijikan," ucapku sinis menatapnya, beranjak dan berjalan aku meninggalkan mereka semua.
______________
__ADS_1
"Kalian para perempuan, sebenarnya mau berjalan sampai kapan kalian berempat?!" terdengar teriakan Adinata dari arah belakang kami.
"Jika kalian lelah, jangan ikuti!" teriak Julissa membalas teriakan dari Adinata.
"I-ini se-semua ka-karena ka-kalian be-berdua," ikut terdengar suara Danurdara yang menyahut.
"Memang apa yang telah kami lakukan?" sambung Zeki.
"Sa-chan, terlalu berbahaya jika kita berjalan tanpa arah tujuan."
"Aku tidak melakukannya," jawabku singkat pada Haruki.
"Lima kalung, sepuluh gelang, dan juga sepuluh cincin. Itu daftar barang yang hilang terakhir kali bukan?" ucap Haruki yang berhasil menghentikan langkahku, berbalik aku seraya berjalan mendekatinya.
"Apa kau masih ingin melanjutkan perjalanan?" ucapnya, menggeleng aku seraya tertunduk disampingnya.
"Bagus, itu baru adikku," sambungnya, ditepuknya kepalaku pelan beberapa kali.
"Kita akan bermalam disini, jadi persiapkan semuanya!" ucap Haruki lagi kepada mereka.
_____________
"Kalian berempat jadi akur sekali," tukas Adinata menatapi kami yang duduk berdampingan.
"Bukankah selama ini mereka baik-baik saja?" ucap Alvaro ikut menatapi kami.
"Kau salah besar, selama ini mereka seringkali beradu pendapat," ucap Adinata lagi.
"Hime-sama," ungkap Alma menatapku.
"Jangan mengikuti mereka memanggilku Hime-sama, hanya panggil saja Sachi," balasku menatapnya.
"Kau selalu membawa panah, apa kau dapat bertarung menggunakannya?"
"Dia bisa melakukannya. Dia membantu kami bertarung melawan makhluk kerdil penuh keriput, dan juga ular raksasa," ucap Adinata.
__ADS_1
"Ular?" tanya Alvaro dengan ekspresi bingung tersirat di wajahnya.
"Daging yang sedang kalian makan, itu daging dari ular raksasa yang kami bunuh," ucap Zeki santai sembari fokus mengelap pedang punyaku menggunakan pakaian yang ia kenakan.