
Aku semakin menempelkan telapak tanganku di kendi saat kendi yang berisi aku di dalamnya itu semakin bergerak. Aku menggenggam tanganku sendiri saat terdengar suara laki-laki berserta suara Sano dari arah luar, mereka berbicara dengan bahasa yang tak aku mengerti. “Kalian ingin memeriksa isinya?” Kedua mataku membesar tatkala telingaku menangkap suara Makoto yang mengatakannya.
Aku melirik ke atas saat terdengar suara langkah mendekat, disusul suara sedikit berisik dari atas kendi. Kugerakkan tanganku yang menyentuh kendi beralih mengenggam rambutku. Aku menarik napas dalam sebelum menekuk kaki lalu menenggelamkan tubuhku ke dalam air Anggur itu.
Aku mendongakkan kepala lalu menunduk kembali saat terdengar suara benda bergeser dari atas. Mulutku semakin tertutup rapat tatkala kurasakan air yang mengelilingi tubuhku itu bergelombang, “bagaimana? Apakah Anggurnya lezat?” Tukas suara Arata yang terdengar dari arah luar.
Pandangan mataku membesar tatkala kurasakan goncangan kuat yang hampir membuatku kehilangan keseimbangan. Aku kembali beranjak berdiri tatkala suara benda bergeser terdengar kembali dari atas. Aku menurunkan telapak tangan yang menggenggam rambutku tadi lalu menggerakkan telapak tanganku itu mengusap-usap dadaku.
Napasku.
Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya, kulakukan hal itu berulang-ulang hingga napasku yang sebelumnya tak beraturan berangsur stabil. Aku kembali menyentuh kendi saat gerobak itu kembali bergerak. Aku sedikit membuang wajah ke samping saat aku tak sengaja menyentuh ujung bibirku yang terasa asam itu dengan lidah.
Aku kembali mendongakkan kepala ke atas saat penutup kendi itu lagi-lagi terbuka, “Hime-sama,” bisik Makoto yang tengah menatapku dari atas.
Dia menyambut tiga pedang yang sebelumnya ia titipkan saat aku mengangkat ketiga pedang itu ke atas. Makoto berbalik lalu mengarahkan kedua tangannya ke dalam kendi. Aku mengangkat kedua tanganku merangkul lehernya ketika tangannya merangkul lalu mengangkat tubuhku ke atas. Makoto melirik ke bawah, “Sano, apa kau baik-baik saja?” Tukasnya, aku ikut melirik ke bawah, menatap kaki Makoto yang tengah menginjak punggung Sano.
Sano mengangukkan kepalanya, “jangan khawatir,” ucapnya setengah berbisik.
“Hime-sama,” ucap Makoto yang membuatku kembali menatapnya, “maafkan aku,” ucapnya lagi saat tangannya menarikku keluar lalu menggendongku di depan dadanya.
Makoto dengan perlahan turun dari atas punggung Sano, dia berjalan membawaku menuruni gerobak tersebut. Makoto sedikit menekuk kakinya saat dia dengan perlahan menurunkan aku dari gendongannya. Aku mengusap rambutku, mengawasinya yang tengah berjalan mendekati gerobak itu lagi.
Pipiku seakan mengeras saat angin berembus pelan menyentuhnya, semakin angin mengeringkan tetesan air di tubuhku … Semakin itu juga tubuhku terasa lengket. “Hime-sama,” aku berbalik ke kanan saat suara Makoto kembali terdengar.
__ADS_1
Dia mengangkat lipatan kain berwarna cokelat ke arahku, “segera ganti pakaianmu di sana,” ucapnya dengan menunjuk ke arah pintu berwarna hitam yang ada di belakangnya, “kami akan berjaga di sini,” ucapnya lagi dengan menatapku.
Aku mengangkat kedua tanganku meraih lipatan kain tadi, “aku mengerti. Terima kasih,” ucapku berjalan melaluinya dengan membawa pakaian tadi di genggaman.
______________
Aku berjalan mendekati salah satu kotak kayu lalu menyembunyikan pakaian basah yang sebelumnya aku pakai ke sana. Tubuhku kembali beranjak berdiri, berbalik melangkahkan kaki melewati beberapa kotak kayu dipenuhi bahan makanan yang ada di dalam ruangan. Kedua kakiku berhenti melangkah di depan sebuah pintu diikuti kedua tanganku yang bergerak membuka pintu tersebut.
“Kau sudah selesai, Hime-sama,” ucap Arata, aku menganggukkan kepala dengan kembali menutup pintu tersebut.
Aku berjalan mendekati mereka, “kita akan berpencar mencari perpustakaan, lalu berkumpul kembali di sini untuk mempercepat waktu,” ucapku dengan menatapi mereka bergantian.
“Bergerak dengan jumlah banyak akan membuat kita ketahuan, karena itu kita harus berpencar,” sambungku lagi kepada mereka.
“Aku akan memeriksa ke arah Barat,” ucap Makoto dan Arata bergantian.
“Aku mengetahui di mana perpustakaannya,” ucap Sano yang membuat kami semua menoleh ke arahnya, “akan tetapi, Hime-sama ingin mengetahui sesuatu mengenai kutukan mata hijau bukan? Aku akan mengantar Hime-sama langsung ke perpustakaan … Kalian berdua, korek informasi apa pun dari para pelayan. Itu perintah dariku,” ungkap Sano mendongakkan kepalanya diikuti kedua matanya yang melirik ke arah mereka berdua.
“Aku mengerti,” ucap Makoto berbalik melangkah pergi. “Aku pun pergi, Hime-sama,” sambung Arata yang juga telah berbalik melangkahkan kakinya menjauh.
“Hime-sama,” suara Sano lagi-lagi terdengar, aku menoleh ke arahnya yang telah mengangkat sebelah tangannya ke samping.
Aku berbalik melangkahkan kaki melewatinya, “Sano, apa kau mengetahui … Tempat macam apa ini?” Tanyaku dengan sedikit melirik ke arah bayangannya yang berjalan di belakang.
__ADS_1
“Apa kau yakin ingin mendengarkannya, Hime-sama?” Aku menghentikan langkah, berbalik menatapnya, “apa aku terlihat tidak menyakinkan di matamu?” Tukasku yang dibalas senyum yang menyungging di ujung bibirnya.
Dia berjalan mendekatiku, “Raja Kerajaan ini tidak pernah terlihat, dari kabar yang aku dengar … Dia mendapatkan kutukan yang membuat tubuhnya bersisik putih kemerahan. Untuk mengurangi kutukan itu, dia menjalani sebuah ritual tiap malam pertama bulan purnama,” ucap Sano yang membuat kedua mataku membesar menatapnya.
“Ritual?”
Sano menganggukkan kepalanya diikuti jari telunjuknya yang bergerak memintaku untuk mendekatinya, “dia mengambil keperawanan dari seorang bayi perempuan yang belum genap setahun,” bisik Sano di telingaku.
Aku menarik wajahku menjauh darinya disertai kedua mataku yang melotot menatapnya, “apa … Apa yang kau katakan itu benar?” Tanyaku yang diliputi rasa tidak percaya.
“Hime-sama, kami wakil kapten … Disumpah untuk hanya mengatakan kebenaran kepada anggota Kerajaan. Kau, melukai harga diri kami jika meragukannya,” ucapnya dengan menatap datar padaku.
“Tapi, apa benar seseorang melakukan hal seperti itu? Maksudku bayi … Bayi itu-”
“Kalian bertiga juga hampir dibunuh ketika bayi bukan?” Tukasnya, aku mengangkat kepalaku membalas tatapannya, “jika ada yang bersikap biasa saat membunuh bayi yang tidak bisa apa-apa … Kenapa perbuatan yang aku sebutkan tadi mustahil? Dunia ini, tidaklah sebaik yang kau pikir, Hime-sama,” ucapnya lagi dengan memundurkan langkah kakinya ke belakang beberapa langkah.
“Apa Tsubaru membesarkanmu untuk menjadi manusia yang naif? Jika benar, maka aku harus menghukumnya sebagai pemimpin.”
“Apa maksudmu?”
“Kami mencari informasi, berkelana dari satu Kerajaan ke Kerajaan yang lain hanya karena ingin memberikan tempat nyaman untuk Yang Mulia tempati berserta keluarganya. Jangan menghancurkan semua kerja keras kami dengan kenaifan yang kau miliki. Sora tidak sekuat itu dalam semalam, banyak keringat, air mata bahkan darah dari pasukanku yang mereka korbankan untuk Sora hingga kuat seperti sekarang.”
“Dibandingkan itu,” ucapnya kembali berjalan mendekati, tubuhku bergerak maju ke depan saat dia menarik lenganku, “makanan untuk jiwaku telah datang,” ungkapnya menatapku sebelum mengalihkan pandangannya ke samping.
__ADS_1