Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXXVIII


__ADS_3

“Nii-chan, apa kita akan langsung mengunjungi perkampungan? Jika iya, kita seharusnya lewat sini,” ungkapku dengan menunjuk ke arah kiri.


“Sejak kapan kau berubah menjadi bodoh seperti ini,” ungkapnya dengan melirik ke arahku, “kita sedang melarikan diri bukan? Menurutmu, apa yang akan dilakukan Kakek Tua itu jika kita pulang tanpa kedua orang yang ia tugaskan untuk mendampingi kita,” ucap Izumi lagi dengan meraih tombak yang ada di tanganku.


“Berjalanlah di belakangku, aku masih belum menerima semua tentang tempat ini, atau mereka,” sambung Izumi kembali melirik padaku, aku melepaskan genggaman tanganku di tombak itu lalu berjalan di belakangnya.


Kedua kakiku berjalan mengikuti langkah kaki Izumi di belakangnya, “menurutmu, ke mana mereka membawa Haruki?” Tanya Izumi tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.


“Jika aku datang dari sana,” ungkapku dengan menunjuk ke arah belakang, “lalu Izu nii-chan muncul dari arah sana,” sambungku dengan menunjuk ke arah kanan.


“Berarti Eneas atau Haruki, berada di arah yang sebaliknya dari kita,” ungkapku lagi kepadanya, “Haru nii-chan dijadikan budak untuk perempuan itu bukan? Menurutku, Haru nii-chan berada di perkampungan,” lanjutku dengan menarik pakaian yang ia kenakan.


“Baiklah,” tukas Izumi yang langsung berjalan berbelok ke arah kiri, “masa bodoh dengan hukuman apa yang akan kita dapatkan nanti. Yang lebih penting sekarang, kita menemui Haruki terlebih dahulu. Karena kau, tidak akan melakukan suatu hal secara sempurna jika pikiranmu masih berkecamuk sesuatu yang sangat ingin kau ketahui,” ucapnya meraih dan menarik tanganku berjalan mengikutinya.


“Nii-chan,” ungkapku pelan menatap punggungnya.


“Aku Kakakmu, jika kau dalam keadaan seperti ini. Aku atau Haruki juga yang akan kesulitan kedepannya,” ungkapnya dengan menggenggam kembali tanganku lebih kuat dibanding sebelumnya.


Kami berjalan dengan setengah berlari untuk mempersingkat waktu, langkah kedua kaki kami berhenti di sebuah gundukan tanah yang tidak terlalu jauh dari perkampungan. Aku mengikuti Izumi yang telah duduk berjongkok, menyandarkan tubuhnya di gundukan tanah yang ukurannya hampir mencapai setengah badan manusia dewasa.


“Jika kita masuk ke perkampungan, kita akan kesulitan mencari tempat untuk berbicara. Belum lagi, tidak ada kepastian jika Haruki ada di sana atau tidak,” gumam Izumi dengan menundukkan pandangannya.


“Jika itu yang kau khawatirkan nii-chan, bagaimana jika kita membuat Haru nii-chan sendiri yang datang ke sini,” tukasku, Izumi mengangkat wajahnya menatapku saat aku mengatakannya.


“Tunggu sejenak,” ungkapku lagi dengan mengangkat jari telunjukku di hadapannya.


“Kou, perkuat sihirmu, hingga Lux dapat merasakannya,” gumamku pelan dengan menyandarkan tubuh semakin menempel di gundukan itu.


“Kau memanggil Kou?”

__ADS_1


Aku menggeleng dengan tetap menundukkan pandangan, “aku hanya meminta Kou untuk memperkuat sihirnya. Lux ada di tenda yang Sasithorn tinggali, jadi jika Lux ke sini, kita bisa meminta tolong padanya,” ungkapku sambil menyandarkan kepala di pundaknya Izumi.


Aku menggerakkan kedua ujung kakiku yang menjulur ke depan, “apa Lux belum juga sampai?” Gumamku saat kami telah lama menunggunya.


“Seharusnya dia sudah sampai,” sambungku menggerutu saat kurasakan tenaga yang bersisa di tubuhku kian lama kian terkikis.


“Apa yang kau lakukan? Aku kira kalian berada dalam bahaya, sayapku hampir membeku hanya untuk menyusul kalian,” ungkap Lux yang tiba-tiba telah muncul di hadapan kami.


“Aku pikir terjadi sesuatu padamu karena sihir Kou tiba-tiba membesar, tapi apa yang aku dapatkan? Kalian tengah bersantai?” Lanjutnya terbang dengan berkacak pinggang menatapku.


“Lux, kami butuh bantuanmu,” Izumi tiba-tiba bersuara, “apa kau bisa mencari Haruki di perkampungan? Jika kau sudah menemukannya, beritahu padanya jika kami menunggunya di sini. Tolong,” kata-kata Izumi membuat Lux yang terbang di hadapannya tertegun.


“Aku mengerti,” ungkap Lux terbang ke atas meninggalkan kami.


Aku mengangkat telapak tanganku menutupi mulut ketika rasa kantuk yang mendera membuat bibirku menguap, kedua mataku kadang kala melirik ke arah Izumi yang juga mengangkat telapak tangannya menutupi mulutnya yang menguap. “Apa terjadi sesuatu?” Aku mengangkat kepalaku dengan cepat ketika suara Haruki terdengar dari atas.


“Bagaimana pengalamanmu menjadi budak?”


Haruki melirik tajam ke arahnya, “apa kau ingin mati Izumi?” Tukasnya diikuti helaan napas berat yang ia keluarkan.


“Aku sedang beristirahat di tenda salah satu Kesatria Duke, sebelum Lux datang membangunkanku untuk datang ke sini,” ungkapnya kembali dengan melirik ke arah kami bergantian.


“Kau? Beristirahat?”


“Apa kau pikir, aku akan menyetujui perintah konyol seperti itu. Aku, Takaoka Haruki, Pangeran pertama Kerajaan Sora, menjadi budak seseorang? Jika aku melakukannya, itu berarti aku telah menjatuhkan harga diri Sora. Untuk menghindarinya, aku langsung melarikan diri saat mereka lengah ketika membawaku kembali ke perkampungan. Lagi pun, laki-laki mengagumkan sepertiku, tidak akan pantas untuk menjadi seorang budak.”


“Lalu, bagaimana dengan kalian berdua, wahai kedua adikku?” Tukasnya lagi kepada kami.


“Kami pun, melarikan diri.”

__ADS_1


“Seperti pepatah yang pernah aku dengar, jika darah lebih kental daripada air,” sambung Izumi menimpali perkataanku.


“Dibanding itu, ada sesuatu yang sangat mengganjal di pikiranku, nii-chan,” ungkapku hingga pandangan Haruki beralih padaku.


“Apa itu?”


Aku menceritakan semuanya, dimulai dari rencana Ayah yang meminta para penduduk suku Azayaka pindah ke Sora, hingga perkataan Zeki yang ia ucapkan tempo hari. Haruki terdiam menatap kami bergantian, “hanya itu? Kalian mengganggu istirahatku hanya untuk bertanya hal itu?” Tukasnya kepada kami.


“Lux, aku juga akan menghukummu karena mengganggu istirahatku,” sambung Haruki dengan melirik ke arah Lux yang duduk di pundaknya.


“Kenapa aku? Aku hanya menyampaikan pesan,” ucap Lux yang beranjak terbang dari pundak Haruki.


“Aku pikir terjadi sesuatu kepada kalian,” ungkap Haruki tertunduk dengan memijat kepalanya.


“Jika Ayah meminta para penduduk suku Azayaka untuk pindah ke Sora dengan alasan itu, maka aku pun akan menyetujuinya, Walaupun aku baru mengetahui hal ini dari kalian,” ucap Haruki sambil mengangkat pandangannya ke atas.


“Masalah Zeki, dia sudah mengetahui risiko itu sejak awal. Aku sudah memberi peringatan padanya, jika misi di Kerajaan Il berhasil, Yadgar akan berada dalam bahaya karena sudah pasti dia akan dianggap sebagai pemberontak," ungkapnya dengan kembali melirik padaku.


"Jika kalian menikah, tentu saja Kaisar akan menahan serangan yang ingin ia lakukan pada Yadgar. Karena dengan adanya pernikahan antara Raja Yadgar dan Putri Kerajaan Sora, itu seperti pemberitahuan kepada Kaisar jika Yadgar telah menjalin kerja sama dengan Sora. Mungkin seperti itu, maksud Ayah ingin menikahkan kalian secepatnya."


"Lagi pun, Zeki yang selalu ada untuk Ayah ketika kita anaknya menghilangkan diri, entah ke mana," lanjut Haruki lagi dengan mengangkat kepalanya ke atas.


"Tapi Ayah melupakan satu hal, jika Kaisar ingin sekali membunuh anak-anaknya ... Tentu saja, Kaisar akan mengincar cucu yang kelak akan lahir dari Putra dan Putrinya."


"Mengakhiri Kekaisaran, hanya itu yang harus kita lakukan untuk kebahagiaan keluarga kita. Karena selama kita hidup, Kaisar tidak akan pernah melepaskan kita."


"Haruki, kau mengetahui sesuatu bukan?"


Haruki tersenyum menatapi Izumi, "entahlah. Aku belum bisa memastikannya, aku akan segera memberitahukannya kepada kalian, jika aku telah mendapatkan informasi yang lebih lengkap," ungkapnya dengan mengalihkan pandangannya ke samping.

__ADS_1


__ADS_2