
“Raja Piotr,” ucap Zeki bersuara, aku melirik ke arahnya yang telah membuang pandangannya ke arah Sang Raja, “jika nanti, antara Aleksy dan juga Sora memang berkerja sama dari pernikahan Putri Sachi dan juga Putramu. Maka, Yadgar sendiri … Yang akan meluluh lantakkan Kerajaanmu yang kecil ini,” sambung Zeki sambil beranjak berdiri dari kursinya.
Kepalaku mendongak, menatapnya, ketika kurasakan genggaman erat tangannya di lenganku, “ikuti aku! Aku, benar-benar kehilangan nafsu makan jika harus makan di sini,” ucapnya, saat kedua mata kami saling bertatap.
Aku menghela napas sambil beranjak berdiri, kepalaku bergerak mengangguk ke arah Raja Piotr sebelum langkah kakiku berjalan mengikuti Zeki yang menarik tanganku itu, “kau harus mengganti makan malamku,” ucapku, dia masih berjalan tanpa sedikit pun berniat untuk menoleh.
“Aku akan membelikanmu apa pun makanan yang ingin kau makan,” jawabnya, yang terus berjalan tanpa bergeming.
“Aku, tidak berniat untuk menikah dengan orang lain.”
“Hubungan antar bangsawan itu sangatlah memuakkan, kau … Tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi,” timpalnya yang diikuti semakin kuatnya genggaman tangannya padaku itu.
“Aku mengerti, tapi sekarang kita sudah sedikit jauh dari ruang makan. Apa kau, masih ingin menyakiti tanganku?”
Zeki menghentikan langkah kakinya, “maaf,” tukasnya sambil diiringi helaan napas yang terdengar.
Dia melepaskan cengkeraman tangannya di lenganku itu, “aku, tidak bisa berpikir jernih,” ungkapnya kembali yang masih menundukkan pandangan matanya.
Aku menghela napas sambil merangkulkan tanganku di lengannya, “Zeki, jangan menghabiskan tenaga dan pikiranmu, untuk sesuatu yang sudah kau ketahui hasilnya,” ucapku sembari menciumi lengannya yang aku rangkul itu.
“Aku benar-benar lapar. Cepatlah, atau aku tidak akan memiliki tenaga apa pun lagi untuk bergerak jika tidak memakan apa pun,” ungkapku lagi sambil berjalan dengan menarik tangannya.
_______________.
__ADS_1
“Sachi,” ucapnya, aku menoleh ke arah Julissa yang tengah duduk berdandan di depan cermin yang ada di kamar.
“Ada apa?” Aku balik bertanya sambil beranjak berdiri dari sisi ranjang setelah selesai mengenakan sepatu.
“Apa yang kau katakan semalam itu benar? Maksudku, tentang Alvaro yang terkena penyakit itu,” tanyanya kembali sambil menoleh ke arahku.
“Aku mengatakan kebenaran, untuk apa … Aku berbohong mengenai kehidupan temanku sendiri.”
Aku melangkah mendekati pintu lalu membukanya, “aku, harus segera menemui keluargaku. Aku, akan memanggil Chandini dan juga Amithi untuk membantumu, jika aku melihat mereka. Apa kau, baik-baik saja jika aku tinggalkan sendirian?” Aku masih menggenggam erat gagang pintu dengan tetap menatapnya.
“Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir,” jawabnya seraya menganggukkan pelan kepalanya.
Aku berjalan mundur sambil kembali menutup pintu kamar. Tubuhku berbelok diikuti kedua kakiku yang melangkah menyusuri Istana. Langkahku terhenti, kugerakkan tubuhku itu membungkuk ke arah Pangeran Ryszard yang muncul dari seberang lorong yang ada di kanan. “Apa kau, dipinta berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu?” tanyanya, ketika aku sendiri pun telah berjalan melewatinya.
Apa lagi ini? Apa dia, tidak bisa sedikit menjaga jaraknya? Menghilangkan sifat jengkel Zeki lebih menyulitkan dibanding kakakku Izumi.
“Tidak perlu berterima kasih, aku dulu sudah mengatakannya kepadamu, bukan? Jika aku, melakukan semua ini … Semata-mata, hanyalah sebuah perjanjian di antara Kerajaan kita,” ucapku yang terus saja berjalan, tanpa menoleh ke arahnya.
“Apa kau, mengkhawatirkan semua yang dikatakan Ayahku semalam? Aku sudah memperingatkan Ayahku, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya,” timpalnya yang lagi-lagi terdengar di belakangku.
“Aku sudah melupakan kejadian semalam. Lebih tepatnya, aku menganggap kejadian semalam itu tak pernah ada,” sambungku sembari kugerakkan kedua kakiku itu berbelok ke kiri.
Aku berjalan dengan memanggil Haruki dan juga Izumi yang tengah berbincang di dekat Duke. Jujur, aku enggan sekali untuk menoleh ke kanan, hal itu bukan tanpa sebab … Namun, tatapan tajam Zeki yang sebelumnya sedang berbicara bersama Adinata dan juga Aydin, mengarah jelas kepadaku.
__ADS_1
“Ada apa, nii-chan? Aku sedikit terkejut, ketika Julissa semalam memintaku untuk menemui kalian,” ungkapku sembari menatap mereka bertiga bergantian.
“Kita akan, membicarakan hal ini setelah Ryu dan juga Eneas datang. Namun sebelum itu.” tukas Duke menimpali perkataanku, langkah kakiku dengan cepat bergerak mendekati Izumi saat sebuah senyuman terlihat dari raut wajahnya.
“Apa kalian, sama sekali tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan pada Paman kalian ini?” sambung Duke lagi, senyum di bibirnya semakin merekah diikuti suara gemeratak yang ditimbulkan oleh genggaman kedua tangannya.
“Maafkan kami, karena sudah membuatmu mendapatkan masalah,” ucap Izumi sambil membungkukkan tubuhnya.
“Paman, aku pun ingin meminta maaf. Tapi kami, memiliki alasan untuk melakukannya,” ucapku yang juga ikut membungkukkan tubuh.
“Apa kalian tahu, perbuatan kalian tersebut sangat berbahaya! Apa kalian ingin, hubungan di antara Sora dan Suku itu hancur?!”
Kami bertiga menghening, sesekali aku melirik ke arah Izumi yang juga terdiam di sampingku. “Jika kami tidak melakukannya, kami akan kehilangan kesempatan besar,” tukas suara Haruki, aku dan Izumi menegakkan kembali tubuh secara bersamaan dengan langkahku sedikit maju untuk melihat Haruki yang dengan tenang menjawab perkataan Duke.
“Kami, mendapatkan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang dapat membantu kita untuk melawan Kaisar. Kami melakukan semua itu, pasti ada alasannya … Aku pun, selalu memikirkan baik dan buruknya sesuatu sebelum memutuskan untuk mengajak adik-adikku pergi,” sambung Haruki kembali, aku dan Izumi masih menutup mulut kami ketika Haruki melangkah maju hingga berhenti tepat di depan Duke.
“Aku, akan melakukan apa pun agar Sora tak terkalahkan. Dan hal itu, sudah menjadi tugasku sebagai Putra Mahkota untuk mewujudkan semua itu, apa kau lupa hal tersebut, Duke?”
“Walaupun begitu, aku pun ingin meminta maaf karena sudah menimbulkan masalah. Limpahkan saja, semua kesalahan padaku … Karena, ide untuk meninggalkan suku tersebut, semuanya dariku,” ungkap Haruki, Duke Masashi nampak tertegun ketika Haruki yang berdiri di hadapannya itu membungkukkan tubuh.
"Kalian," tukas Duke sambil memijat kening, "nyawa kalian, akan berada dalam bahaya jika Kaisar mengetahui di mana kalian berada. Kalian, harus berhati-hati dengan apa yang ada di sekitar kalian. Kaisar, tidak menyentuh Sora bukan tanpa alasan-"
"Sedikit saja, tingkah ceroboh yang kalian lakukan. Nyawa seluruh penduduk Sora yang akan menjadi taruhannya. Kalian Bangsawan, kalian dapat melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh penduduk biasa, itulah ... Yang membedakan kalian, dari status seorang Pangeran, Putri dan rakyat biasa."
__ADS_1
"Aku tidak melarang kalian berpergian, namun aku melarang kalian, berbuat apa pun yang seharusnya tak perlu dilakukan. Aku harap, kalian mengerti?!" tukas Duke, kepalaku kembali tertunduk saat kedua matanya tak henti-hentinya memperhatikan kami.