Fake Princess

Fake Princess
Chapter CVI


__ADS_3

"Kau akan mati muda jika mengikuti kami, pergilah!" ucap Izumi berbalik meninggalkannya.


"Aku akan memberimu uang lebih banyak, jadi pergilah! Hiduplah seperti manusia normal pada umumnya," sambung Haruki yang kembali menyerahkan lebih banyak keping uang padanya, beranjak Haruki seraya berbalik meninggalkannya.


"Kalian juga sama sepertiku bukan? Gelandangan yang tidak punya tempat tinggal," ucapnya seraya berjongkok memunguti uang yang diberikan Haruki sebelumnya.


"Gelandangan?" ucap Izumi, diangkatnya kepalanya keatas seraya digaruknya lehenya dengan kuat.


Naik kembali Haruki ke atas kuda, dibantunya aku untuk duduk di belakangnya. Izumi yang telah lebih dulu duduk di atas kuda, menggerakkan kudanya melewati anak laki-laki tersebut...


"Kumohon, aku masih berharap untuk bertemu orang tuaku kembali," ucapnya tertunduk, semakin kuat genggaman tangannya yang dipenuhi kepingan uang tersebut.


"Aku tidak akan meminta makan pada kalian, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku akan membantu kalian untuk menghasilkan uang, sehingga kalian tidak perlu menjadi gelandangan lagi," ucapnya lagi.


"Nii-chan," bisikku pelan pada Haruki.


"Izumi! Aku menyerahkan dia padamu," teriak Haruki, dipacunya kuda yang kami tunggangi menjauhi mereka.


_________________


"Kalian mau pergi kemana? Jadi seperti ini rasanya menunggangi kuda. Darimana kalian semua berasal? Apa kalian semua berteman?" ucapnya tanpa henti.


"Haruki! dia lebih berisik dibandingkan manusia yang ada di belakangmu. Aku ingin menukar mereka berdua!" teriak Izumi, menoleh aku ke arah Izumi yang tengah menunggangi kuda dengan anak kecil tersebut yang duduk di depannya.


"Tidak, dia menjadi tanggung jawabmu. Ini keputusan mutlak dariku," ucap Haruki tanpa menoleh.


"Sialan! Kau memang manusia yang suka membuat manusia lainnya menderita," teriak Izumi lagi padanya.


"Namamu Izumi bukan? Kenapa kalian mengajak perempuan bersama kalian? Apa mereka berdua pasangan..." ucapannya terhenti, pukulan keras dari Izumi menyentuh kepalanya.


"Mereka berdua ialah kakak dan adikku, jika kau terlalu berisik... Aku akan melemparmu dari atas kuda," ucap Izumi padanya.


"Maaf, aku hanya tidak bisa menahan diri. Aku dari dulu ingin sekali punya teman yang dapat diajak bicara," ucapnya tertunduk, kulirik bibirnya yang tampak mengukir sedikit senyum.

__ADS_1


"Namamu?" ucapku menatapnya.


"Eneas," ucapnya balas menatapku.


"Senang berkenalan denganmu, Eneas. Aku Takaoka Sachi, ini kakak tertuaku Takaoka Haruki, dan yang itu Takaoka Izumi," ungkapku tersenyum menatapnya.


"Takaoka? Nama keluarga? Apa kalian bangsawan?" ucapnya menatapi kami bergantian.


"Apa kau terkejut?" sambung Izumi.


"Tapi kenapa? Apa keluarga kalian..." ucapannya kembali terpotong, meringis ia kesakitan akibat pukulan yang diberikan Izumi lagi padanya.


"Keluarga kami baik-baik saja, Ayah kamipun sama baiknya. Hanya saja, kami memiliki tujuan yang lebih penting hingga meninggalkan rumah," ucap Izumi lagi padanya.


"Tujuan?"


"Menghancurkan Kekaisaran, dan membalaskan dendam semua orang yang hidupnya telah hancur karenanya," ucap Haruki menjawab pertanyaannya.


"Eneas bukan?" sambung Haruki, mengangguk anak tersebut menatapnya.


_____________


"Jika kau tidak bisa menyalakan api, aku akan menyalakannya untukmu," ucap Eneas yang ikut berjongkok di sebelah Izumi.


"Kau dapat melakukannya?"


"Tentu, kau pikir aku dapat bertahan hidup juga karena apa," ungkapnya mengambil alih tugas Izumi.


"Nii-chan, apa perjalanan kita masih jauh?" ucapku menatapnya yang tengah memotong-motong daging yang kami beli sebelumnya.


"Masih, tiga atau empat hari," jawabnya, berjalan aku mendekatinya seraya membawa beberapa ranting pohon yang aku petik sebelumnya dari atas pohon.


Berjalan aku mendekati Haruki seraya duduk di sampingnya, kuambil daging sepotong demi sepotong lalu kutusukkan di ranting yang aku pegang.

__ADS_1


"Kau benar-benar dapat menyalakannya," terdengar suara Izumi diikuti riuh tepuk tangan.


Berbalik aku seraya mengangkat daging-daging tersebut kepada Izumi dan juga Eneas, kuletakkan daging tersebut di samping Izumi. Ditancapkannya daging-daging tadi mengelilingi api yang mereka buat.


"Makanlah!" ucap Izumi, diraihnya setusuk daging lalu diberikannya pada Eneas.


"Tidak terima kasih, aku telah mengatakan jika tidak akan meminta makanan pada kalian," ucapnya tertunduk.


"Ambillah," tukas Izumi meraih tangannya lalu meletakkan daging tadi ke atas tangannya.


"Tapi..."


"Makanlah, apa kau pikir kami akan tega membuatmu kelaparan," sambung Haruki seraya melahap daging yang ada di genggamannya.


"Terima kasih," ungkap Eneas lagi, kulirik ia yang mencoba menggigit sepotong daging berukuran besar yang ada di genggamnya.


_____________


"Kemarilah!" teriak Izumi seraya melambai ke arah Eneas untuk mendekat.


Beranjak Eneas mendekati Izumi yang tengah duduk di sampingku, kuraih pakaian bersih yang baru aku beli seraya kuberikan pakaian tersebut kepada Eneas...


"Pakailah, pakaianmu yang sekarang benar-benar sudah tak layak pakai," ucapku, kutatap pakaian penuh lubang yang ia kenakan.


"Pakailah!" ucap Izumi lagi padanya.


"Tidak perlu terlalu segan pada kami, kita teman bukan?" ucapku, kembali kuarahkan pakaian yang ada di genggamanku padanya.


Diambilnya pakaian yang ada di tanganku olehnya, dipeluknya lama pakaian tersebut lalu berbalik ia berjalan menjauhi kami. Lama kami menunggunya berganti pakaian...


Keluar ia dari balik pohon, pakaian yang ia kenakan tampak melorot di tubuhnya. Kulirik Haruki yang melambaikan tangan ke arahnya seakan memintanya untuk mendekat, dibalasnya lambaian tangan Haruki dengan berjalan Eneas mendekatinya...


"Berbaliklah," ucap Haruki menatapnya.

__ADS_1


Duduk Eneas seraya membelakangi Haruki, diambilnya pisau kecil oleh Haruki seraya dirobeknya pakaian yang dikenakan Eneas. Bagian yang dirobeknya tadi, diikatnya kembali oleh Haruki. Sekarang... pakaian tersebut sedikit lebih pas dengan ukuran tubuhnya.


__ADS_2