
Kami berempat berjalan beriringan membelah kerumunan, sesekali Haruki berhenti dengan meletakkan telapak tangannya di punggungku ketika kerumunan yang kami lewati semakin ramai. Kami terus berjalan, sambil kadang kala berhenti di beberapa lapak jualan yang menarik perhatian kami. “Ini pertama kalinya untukku melihat buah itu,” gumamku pelan dengan tetap membuang pandangan ke arah seorang pedagang yang tengah menjajakan buah berkulit jingga seperti jeruk dengan ukuran yang lebih kecil.
“Apa kau ingin mencicipinya?”
Aku mengangkat kepalaku, lalu menggeleng pelan membalas tatapan Haruki, “nanti saja. Aku lebih tertarik melihat sekitar,” balasku yang kembali membuang pandangan ke depan.
Aku tidak terlalu menghitung, berapa pekan yang telah kami habiskan di kapal … Namun, bertemu daratan kembali, selalu menjadi bagian yang terbaik setelah berpergian jauh melewati laut. Aku kembali melirik Haruki ketika tanganku tiba-tiba digenggam erat olehnya, dia menarikku mengikutinya menuju ke sebuah suara musik yang kian terdengar masuk ke dalam telinga.
Langkah kaki kami berjalan semakin mendekati kerumunan, genggaman Haruki semakin erat saat kami menyelip di tengah-tengah kerumunan itu. “Kalian berjalan cepat sekali,” suara Izumi yang bercampur riuhan teriakan dari kerumunan membuat pandanganku ke arahnya yang berdiri di samping Eneas.
Mataku kembali teralihkan saat suara alunan musik kembali terdengar. Beriringan dengan alunan musik tersebut, beberapa perempuan berjalan lalu berbaris rapi di tengah-tengah kerumunan. Mereka memakai hiasan berbulu di kepala dengan pakaian yang menurutku, sedikit terbuka.
Seiring musik berjalan, seiring itu pula pinggul para perempuan itu bergerak. Sesekali aku melirik ke arah sebuah panggung kayu dengan beberapa kursi di atasnya, di atas panggung kayu terdapat sepasang paruh baya memakai mahkota dengan tiga laki-laki dan seorang perempuan yang duduk di kanan dan kiri pasangan tadi.
“Nii-chan,” bisikku lemah, aku mempererat genggaman tanganku pada Haruki ketika tatapan mataku itu terjatuh ke arah perempuan muda yang duduk di samping perempuan paruh baya.
“Aku tahu, tidak perlu diperhatikan. Walau berwajah sama, mereka orang yang berbeda,” ucapan Haruki yang mengetuk telinga membuatku menoleh ke arahnya yang masih menatap tarian.
Aku kembali tertegun melihat wajah perempuan tersebut yang sangat terlihat mirip dengan Luana. Apa mereka saudara kembar? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Jika wajah perempuan itu mirip, berarti mereka-
Suara musik berhenti, para perempuan yang menari sebelumnya … Kembali menghilang dari kerumunan yang digantikan oleh beberapa orang laki-laki berdiri menggunakan celana putih tanpa memakai pakaian yang menutupi tubuh bagian atas mereka. Musik kembali berlanjut, berbeda dari sebelumnya … Tepukan tangan dari mereka yang berkerumun mengiringi suara musik yang melenggang di telinga.
__ADS_1
Aku turut bertepuk tangan mengikuti yang lain, ketika Haruki, Izumi dan juga Eneas juga telah melakukannya. Para laki-laki yang berdiri di tengah kerumunan mulai bergerak, gerakan tarian bercampur beladiri yang mereka lakukan tanpa saling berkesinambung dengan suara musik dan juga tepukan yang memenuhi sekitar. Riuhan teriakan semakin meledak ketika ada seorang laki-laki yang salto secara berunntun dari sisi kerumunan yang ada di kanan ke sisi kerumunan yang ada di kiri.
“Keren sekali,” gumaman dari Eneas yang terdengar di sampingku membuatku menoleh ke arahnya.
Aku melirik ke arah Izumi yang tersenyum lebar menatap penampilan yang ada di depan kami, tepukan tangan yang ia lakukan semakin cepat tatkala musik yang mengiringi penampilan dari para laki-laki juga semakin cepat mengalun. “Aku ingin mempelajarinya,” suara Izumi yang bergumam sedikit tenggelam oleh keriuhan yang ada.
Keadaan menghening tatkala semua hiburan berhenti, digantikan oleh laki-laki paruh baya yang memakai mahkota beranjak dari kursi yang ia duduki. “Selamat hari lahir, Yang Mulia. Semoga berbahagia!”
“Panjang umur, Yang Mulia!”
“Semoga Deus selalu menjagamu, Yang Mulia!”
“Menurutmu?” Haruki balas bertanya dengan tatapannya yang masih mengarah ke depan.
Kau pasti telah menghitung dengan tepat apa yang akan terjadi. Menakutkan sekali, saat sesuatu berjalan sesuai kehendaknya.
“Hiburannya telah berakhir. Cepatlah! Masih ada sesuatu yang harus kita lakukan.”
Aku ikut berbalik, menatapnya yang telah berjalan lalu menghilang di kerumunan. Tatapan mataku beralih kepada Eneas dan juga Izumi yang telah membalas tatapanku itu. Izumi berjalan maju lalu menggandeng tanganku, kami berjalan beriringan diikuti Eneas yang juga berjalan di sampingku.
Langkah kaki kami terus berlanjut walau telah keluar dari kerumunan tadi, “aku, ada janji temu dengan dia yang berkerja untukku. Berhubung, dia seorang yang sangat pendiam … Mengajak kalian semua akan membuatnya tidak nyaman. Jadi, kalian kembalilah ke penginapan, aku akan kembali setelah semuanya selesai,” ucap Haruki, dia lagi-lagi berbalik, melangkahkan kakinya meninggalkan kami.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Izumi, kepalanya bergerak seakan memintaku untuk berjalan mengikutinya. Kuangkat kedua tanganku bersilang di dada sepanjang langkah, sesekali aku mengangkat kepalaku ke atas … Menatap langit cerah dengan awan tipis yang turut menghiasi.
Lupakan sejenak tentang hutan itu. Ini Haruki yang aku maksudkan, dia … Tidak akan mengatakan apa tujuan jelas darinya kenapa kami harus mengunjungi tempat ini. Apa ada sesuatu di sini? Kenapa, perasaanku meminta untuk jangan pulang sekarang?
“Sachi!”
Aku sedikit terperanjat ketika suara Izumi terdengar mengetuk telinga. “Nii-chan,” ucapku, semakin aku ingin membuka suara, semakin itu juga jantungku seperti berdegup tertahan.
“Bisakah, kita mengikuti Haru-nii diam-diam? Aku, merasa khawatir dengannya,” ungkapku kembali, aku masih menatapi Izumi dengan menggigit pelan bibirku sendiri.
Izumi berjalan mendekat, “cepatlah! Atau kita akan kehilangan jejak darinya!” tukas Izumi ketika langkah kakinya itu berjalan melewatiku.
Aku melirik ke arah Eneas, kepalanya mengangguk saat mata kami saling bertemu. Langkah kaki kami berdua semakin cepat dan semakin cepat berjalan mengiringi langkah Izumi, sesekali Izumi berhenti dengan melirik ke sekitar sebelum melanjutkan kembali langkahnya membelah kerumunan. “Lux, tuntun aku!” bisikku saat kerumunan yang kami lewati semakin padat hingga membuatku sendiri sulit bergerak.
“Ke kanan, Sachi!”
Aku mengikuti suara bisikan Lux ketika bayangan Izumi ataupun Eneas sudah tak terlihat kembali. Aku bernapas lega, saat tubuhku sendiri telah keluar dari himpitan kerumunan, aku menarik penutup kepalaku itu semakin ke depan dengan tubuh berputar pelan … Mencoba mencari salah satu di antara mereka.
“Nee-chan!”
Aku menoleh ke belakang ketika teriakan Eneas terdengar masuk ke telinga. Dengan cepat aku berlari mendekatinya yang berdiri dengan melambai-lambaikan tangannya ke arahku. “Eneas, apa kau sendirian? Di mana, Izu nii-chan?” tanyaku, ketika langkahku telah berhenti di depannya.
__ADS_1