
Perempuan bernama Yoona tersebut duduk tertunduk di samping makam Hanbal. Sekitar lebih tiga puluh orang ikut duduk mengelilingi makam itu. Pandangan mataku masih tertuju pada Yoona sembari sebelah tanganku menepuk-nepuk kepala Cia yang bersandar di tubuhku.
Yoona beranjak berdiri diikuti para laki-laki lainnya, dia berbalik lalu berjalan mendekat. Langkah kaki Yoona terhenti, tubuhnya membungkuk ke arah Haruki yang berdiri tepat di sampingku.
Haruki berbalik berjalan menjauh, kugerakkan tubuhku menarik pelan lengan Cia untuk mengikuti langkah kakinya. Yoona yang ikut berjalan di sampingku masih diam tertunduk, kedua tangannya menggenggam erat satu sama lain dengan sesekali sebelah tangannya bergerak mengusap matanya.
Haruki, Izumi maupun Eneas telah berjalan mendekati kuda-kuda milik mereka yang tengah dijaga oleh laki-laki yang melayani kami di penginapan sebelumnya. Laki-laki tersebut membungkukkan tubuhnya saat Haruki bergerak menaiki kuda cokelat miliknya.
Suara lonceng terdengar... Diikuti suara tapak kaki kuda yang berjalan mendekat. Kereta kuda berwarna hitam telah berhenti di hadapan kami, aku melirik ke kanan... Jabari atau laki-laki berkepala botak sebelumnya, berjalan melewati dengan sebelah tangannya bergerak membuka pintu kereta tersebut.
Aku melirik ke arah Yoona yang masih diam tertunduk, kugerakkan sebelah telapak tanganku yang lain menyentuh punggungnya hingga kepalanya menoleh ke arahku.
"Apa kau tidak ingin pulang?" Tanyaku padanya, dia kembali tertunduk dengan menggenggam kuat kedua tangannya.
"Aku tidak memiliki rumah lagi, itu telah menjadi rumah kalian sekarang," ucapnya pelan terdengar.
"Itu rumahmu, bukan rumah kami. Cepatlah, kami tidak bisa menumpang di sana jika pemiliknya tidak ada," ucapku menarik tangannya berjalan mendekati kereta.
Kulepaskan genggaman tanganku padanya sembari kuangkat tubuh Cia menaiki kereta. Aku berjalan naik sembari sebelah tanganku bergerak ke arah Yoona yang masih tertunduk. Kuraih dan kugenggam kuat pergelangan tangannya, dia bergerak menatapku lalu tertunduk kembali dengan kedua kakinya berjalan menaiki kereta dan duduk di hadapan kami.
Pintu kereta tertutup, Yoona masih diam tertunduk bahkan ketika kereta telah mulai berjalan. Cia bergerak ke sisi sebelah, kutatap dia yang menatap kagum dari sisi jendela yang ada di samping kereta.
"Bae Yoona, apa kau anggota Kerajaan? Karena nama keluarga hanya dimiliki oleh anggota keluarga Kerajaan," ucapku, Yoona mengangguk pelan menjawab perkataanku.
__ADS_1
"Enam tahun yang lalu, aku dibuang oleh Kakakku sendiri. Ayah Hanbal menemukan lalu merawatku selayaknya anaknya sendiri," ucap Yoona, kedua tangannya bergerak menggenggam gaun hitam yang ia kenakan.
"Enam tahun?"
"Bae Yoona, Puteri kelima Kerajaan..." Ucapnya terhenti, kutatap dia yang setengah menunduk dengan menggigit bibirnya.
"Enam tahun yang lalu, Kaisar mengundang aku dan juga Kakak-kakak ku untuk mengikuti permainan yang ia laksanakan. Permainan itu sangat menakutkan..."
"Aku tahu."
"Eh?" Ucapnya bergerak menatapku.
"Enam tahun yang lalu, aku pun mengikuti permainan yang dilakukan Kaisar di hutan terlarang. Bukankah telah kukatakan, namaku Takaoka Sachi, aku pun seorang Putri," ucapku menggerakkan pandangan ke arah Cia yang masih menatap ke luar dari balik jendela.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan," ungkapku membalasnya, tubuhku bergerak bersandar pada bangku yang aku duduki.
"Saat permainan tersebut, hanya tertinggal aku dan Kakak kedua yang masih hidup. Sayangnya, saat di perjalanan pulang... Kakak kedua membuang ku begitu saja, aku tidak ingin jika ada yang mengancam semua yang aku miliki. Kekuasaan, hanya boleh jatuh di tanganku..."
"Aku masih sangat jelas mengingat kata-kata yang ia ucapkan dahulu. Aku, yang tidak pernah melihat dunia luar... Merasakan hidup seperti di neraka. Kelaparan... Bahkan aku, pernah membunuh seseorang yang hampir melecehkan tubuhku."
"Saat aku melakukannya, Ayah Hanbal muncul... Dia membawaku pulang, dia merawatku seperti anaknya sendiri. Dia bahkan mengajariku dasar-dasar beladiri agar aku dapat sedikit melindungi diri," ucapnya kembali tertunduk.
"Umurmu?" Ucapku kembali padanya.
__ADS_1
"Enam belas tahun," ucapnya menjawab perkataanku.
"Aku memperhatikan tempat ini selama kami di sini beberapa hari. Tempat ini, sangat tidak layak untuk perempuan."
"Kau salah. Hanya para pendatang yang diperlakukan buruk, sedangkan para penduduk asli... Baik laki-laki maupun perempuan, diperlukan sama," ucap Yoona kembali menatapku.
"Apa maksudmu?"
"Ayahku, hanya berusaha melindungi mereka," ucapnya mengarahkan lengan kanannya ke arahku, tampak sebuah bekas luka bakar berbentuk tiga helai daun semanggi di balik lengan kanannya itu.
"Jika kau memiliki tanda ini, itu berarti kau adalah penduduk asli tempat ini. Jika kau tidak memilikinya, berarti kau hanya seorang pendatang."
"Hampir semua pendatang yang datang tertarik dengan rumor surga yang tersebar. Mereka tak henti-hentinya datang lalu membuat keributan, sebenarnya... Tempat ini, adalah tempat berlibur yang dikhususkan untuk para Kesatria yang bekerja di Kekaisaran dulunya," ucap Yoona kembali.
"Karena itulah, banyak sekali lambang Kekaisaran di sekitar sini?" Tanyaku yang dibalas dengan anggukan pelan darinya.
"Kaisar, ingin merebut kembali tempat ini. Karena itulah, dia tak henti-hentinya mengirimkan para pengacau ke sini. Demi menjaga keselamatan untuk para penduduk, Ayahku meminta para laki-laki menyembunyikan para perempuan yang menjadi anggota keluarga mereka di dalam rumah."
"Jika kau menemukan para perempuan yang berkeliaran di jalan, itu adalah para perempuan yang dibawa oleh beberapa pendatang, mereka bukan penduduk asli desa ini," ucapnya kembali padaku.
"Kau berkata dulunya bukan? Apa kau bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Ungkapku menatapnya, dia menoleh ke samping menghindari tatapanku.
"Sebenarnya, Ayahku..."
__ADS_1