Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXVI


__ADS_3

Kurasakan genggaman tangannya di tanganku meregang, beranjak aku berdiri seraya berbalik melangkah aku meninggalkan mereka. Kulangkahkan kakiku menuruni tangga kayu pada gubuk tadi sembari kugerakkan kedua kakiku menyusuri perkebunan...


Aku tidak melakukan kesalahan bukan? Tidak ada salahnya bukan? Jika aku bertindak sedikit mementingkan diri sendiri...


"Lux, apa kau disana? Jika benar, bisakah kau meninggalkan kami berdua terlebih dahulu," terdengar suara laki-laki, ikut kurasakan sesuatu menyentuh pelan kepalaku.


Kualihkan pandanganku pada Lux yang terbang menjauh, menoleh aku menatapnya yang telah berdiri di belakangku sebelumnya. Berbalik aku berdiri di hadapannya seraya kupeluk dan kusandarkan kepalaku di dadanya...


"Maaf, aku menghancurkan semua rencana yang kau buat," ucapku, semakin kuat pelukan yang aku lakukan padanya.


"Tidak masalah, aku hanya harus mempercepat rencana pemberontakan yang akan aku lakukan," ungkapnya, kurasakan kembali tepukan pelan yang ia lakukan di kepalaku.


"Apa tanganmu baik-baik saja?"


"Baik-baik saja, tidak sesakit saat aku mendengar laki-laki itu mengatakan jika ia calon suamimu. Apa ada yang tidak aku ketahui?"


"Aku tidak pernah berkhianat padamu, tidak sekalipun. Apa waktu sebelas tahun masih kurang untuk membuatmu percaya?"


"Kalau begitu, lakukan sekali lagi."


"Eh? Sekali lagi?" ucapku seraya kuangkat kepalaku menatapnya.


"Kau tahu, ciuman yang kau lakukan sangatlah cepat, aku bahkan tidak merasakan apapun," ungkapnya tersenyum menatapku.


"Haru nii-chan, apa kau mencariku?" ucapku seraya menggerakkan kepalaku ke samping tubuhnya.


Kulepaskan pelukanku darinya seraya berjalan mundur aku ke belakang. Kurasakan lengan Zeki merangkul pinggangku sembari ditariknya tubuhku kembali mendekatinya...


"Aku sangat mengenalmu Takaoka Sachi, apa kau pikir dapat menipuku lagi untuk yang kedua kalinya," ungkapnya tersenyum menatapku.


"Apa yang kau maksudkan Kakak? Apa kau memerintahkan anak kecil sepertiku mencium mu?" ucapku, kutatap Zeki yang mengangkat kepalanya ke atas diikuti gigitan yang ia lakukan di bibirnya.

__ADS_1


"Kau ingin melakukannya sendiri atau aku yang memaksamu?" ungkapnya seraya mengalihkan pandangannya kembali padaku.


"Berhenti bermesraan! Raja Balawijaya memanggil kita semua untuk menemuinya," terdengar suara Haruki, kurasakan sakit di kepalaku saat kepala Zeki membentur kepalaku.


"Kedua Kakakmu benar-benar menjengkelkan," ucapnya seraya mengalihkan pandangannya menatap Haruki dan Eneas yang berjalan melewati kami, kutatap ia yang tengah mengusap-usap kepalanya menggunakan telapak tangannya.


"Aku membuat perkebunan ini bukan untuk kalian bermesraan," ungkap Adinata seraya berjalan melewati kami.


"Sachi, apa kau ingin mengabaikan temanmu?" ucap Julissa yang juga berjalan melewati.


Mundur kembali aku beberapa langkah seraya berbalik dan berlari aku mendekati Julissa. Menoleh Julissa menatapku yang berjalan di sampingnya seraya diarahkannya lengannya merangkul lenganku.


"Bagaimana dengan keadaan Putri itu?" bisikku pada Julissa.


"Kakakmu Izumi dan Danurdara sedang menenangkannya, akupun tidak terlalu peduli padanya. Dia mau terluka ataupun tidak, tidak ada hubungannya denganku," ucap Julissa balas menatapku.


"Kau mengagumkan sekali Putri Julissa."


"Aku hanya bersikap seperti manusia biasa, aku tidak sebaikmu Sachi, yang akan menyusahkan diri sendiri untuk seseorang, kecuali orang itu adalah mereka yang berharga untukku," ucapnya kembali tersenyum menatapku.


"Lalu, mau kemana kita?"


"Raja Balawijaya, maksudku calon mertuaku mengirimkan burung pengantar pesan kepada Adinata. Dia meminta kita semua untuk menemuinya," ucap Julissa kembali.


"Apa kau mengetahui untuk apa kita berkumpul?" ungkap Zeki ikut berjalan di belakang kami.


"Aku tidak tahu, Adinata tidak mengatakan apapun," sambung Julissa kembali.


Kulangkahkan kakiku semakin cepat mengikuti langkah kaki Julissa, berjalan kami menyusuri Istana. Berhenti kami di sebuah pintu berdaun dua berwarna cokelat dengan ukiran-ukiran bunga kecil yang memenuhinya.


Dua Kesatria yang berjaga di depan pintu bergerak mendorong pintu tadi ke belakang, maju kami mengikuti langkah kaki Adinata yang telah berjalan memasuki ruangan.

__ADS_1


Kuarahkan pandanganku pada ruangan penuh dengan ukiran kayu berlapis cat emas, kembali kulihat warna merah memenuhi ruangan. Kualihkan pandanganku pada seorang laki-laki paruh baya tengah duduk di kursi besar berlapis emas di hadapan kami dengan dua orang laki-laki di samping kanan dan kiri tubuhnya...


Melangkah kami semakin mendekatinya, berhenti dan membungkukkan tubuh kami semua di hadapannya. Laki-laki tadi mengangkat lengan pakaiannya yang penuh dengan benang emas itu ke arah kami...


Suara pintu kembali terbuka disertai langkah kaki yang juga mengikutinya. Kuangkat tubuhku kembali berdiri seraya melirik aku ke arah Danurdara yang berjalan melewati lalu berhenti ia di samping Adinata...


Kembali terdengar suara isakan dari arah belakangku, kuarahkan pandanganku melirik ke arah Putri Khang Hue yang masih berdiri tertunduk di samping Izumi...


"Danur, kami mendapatkan berita penting untukmu," terdengar suara laki-laki, menoleh aku ke arah laki-laki paruh baya tadi yang terlihat menatapi Danurdara.


"Be-berita pe-penting a-apa i-itu A-ayah?"


"Kami baru saja mendapatkan surat dari calon Isterimu, dia mengatakan bahwa dia tidak bisa melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk bersembunyi sementara waktu."


"Apa yang kau maksudkan Ayah?" sambung Adinata menimpali perkataan laki-laki paruh baya tadi.


"Aku tidak tahu dengan pasti, beberapa Kesatria yang aku utus untuk memastikan informasi masih belum kembali. Akan tetapi..."


"Bersiaplah untuk berperang. Calon Isterimu mengabariku jika ratusan ribu pasukan tengah mendekati Kerajaan kita," sambung laki-laki tadi seraya ditatapnya Danurdara yang berdiri di hadapannya.


"Kalian tamu dari Anak-anakku, aku ingin kalian segera pergi dari sini sebelum musuh sampai ke sini. Ini untuk keselamatan kalian," ucapnya lagi seraya dialihkannya pandangannya ke arah kami.


"Maafkan aku, tapi... Takaoka Sachi, Putri kedua Kerajaan Sora," ucapku membungkukkan tubuh kembali di hadapannya.


"Hime-sama?" ucap laki-laki tadi menatapku.


"Eh?" ungkapku, beranjak kembali aku tertegun menatapnya.


"Rambut cokelat, mata hijau. Kau sama persis seperti perempuan yang diceritakan kedua anakku," ucapnya lagi seraya tersenyum menatapku.


"Kau ingin menawarkan bantuan? Aku mendengar hebatnya kepintaran yang kau punya dari kedua anakku," sambungnya lagi padaku.

__ADS_1


"Kedua anakmu terlalu melebih-lebihkan," ucapku seraya kualihkan pandanganku menghindari tatapan matanya.


"Akan tetapi, Danur adalah temanku, begitupun dengan Adinata. Jika kau berkenan Raja, izinkan aku memimpin beberapa pasukan milikmu dalam peperangan," ucapku tersenyum menatapnya.


__ADS_2