
Aku mengusap wajah ketika kedua mataku berkedip beberapa kali menahan kantuk, kuarahkan pandangan mataku menoleh ke arah kanan, ke arah Matahari yang perlahan terbit di ufuk nan jauh di seberang sana. “Ardenis, ada di sebelah Utara Kekaisaran, bukan?” Aku mencoba melirik ke belakang saat Izumi kembali bersuara.
“Jika kita harus berhenti dahulu di Leta, bukankah kita tetap akan melewati Kekaisaran pada akhirnya?” Sambung Izumi kembali.
“Aku tidak menyangka jika kau juga ikut tertarik mempelajari wilayah-wilayah Kerajaan lain, Izumi.”
“Aku terpaksa mempelajarinya karena kau selalu membawa kami ke tempat yang tidak masuk di akal,” timpal Izumi menanggapi perkataan Haruki.
“Memang benar, kita tetap akan melewati Kekaisaran. Akan tetapi, kita tidak bisa mengambil risiko melewati Kekaisaran dengan mengajak Kou,” ungkap Haruki, kami menghening sejenak, yang hanya terdengar hanya suara semilir angin yang bergerak melewati telinga.
“Jika tidak bisa dari darat, bagaimana dengan laut?”
“Laut?”
“Menggunakan makhluk sejenis Kuro,” aku mencoba memastikan pertanyaan Izumi.
“Kou, apa kau bisa memanggil Raja Duyung? Dan pinta dia untuk mengirimkan Kuro, berserta tiga Hippocampus yang belum melakukan kontrak dengan duyung mana pun,” bisikku dengan mengusap lehernya.
“Apa kau ingin mencobanya, My Lord?”
“Kau benar, aku ingin mencobanya. Jika perkiraan kita benar, bukankah … Itu akan menguntungkan kita sendiri,” ungkapku kembali kepadanya.
“Aku mengerti. Aku akan membawamu ke tempat yang dia tentukan, setelah dia menjawab panggilanku,” ucap Kou ketika dia berbelok tajam ke kiri.
“Sa-chan, kau membawa kita menjauh dari tempat yang ingin kita tuju,” tukas Haruki dari arah belakang ketika Kou semakin lama dan cepat membawa kami terbang ke Barat.
“Percayalah padaku, nii-chan. Aku akan mengajak kalian, merasakan petualangan yang sebenarnya, jika perhitungan yang sudah aku dan Kou lakukan ini benar,” ungkapku tersenyum dengan tetap mengarahkan pandangan ke depan.
“My Lord, aku akan membuka gerbang agar mereka bisa muncul di dekat kita. Apa kau telah siap?” Tanya Kou ketika dia membawa kami terbang memutari permukaan laut.
__ADS_1
“Tentu, lakukan,” ucapku pelan ketika Kou terbang berbalik lalu menukik tajam ke arah bibir pantai yang ada di bawah.
Kou berhenti sebelum kami mendekati bibir pantai, aku melompat turun ke dalam lautan, lalu berenang kembali ke permukaan, menatap dia yang terbang dengan kedua Kakakku dan juga Eneas di punggungnya. “Apa yang kalian lakukan, cepatlah turun!” Teriakku memanggil diikuti tangan kananku yang terangkat melambai ke arah mereka.
“Sachi! Jika ingin melompat, seharusnya kau memberiku aba-aba untuk menjauh. Apa kau ingin membuat sayapku hancur?!”
Kualihkan pandanganku kepada Lux yang terbang mendekat, “maaf, aku lupa jika kau berada di pundakku, Lux,” ungkapku dengan mengangkat kedua tanganku yang saling menempel.
Byurr!
Suara percikan air bergantian terdengar, beriringan dengan gelombang yang sedikit menggoyangkan tubuhku yang berenang di tempat. Aku beralih kepada Haruki, Eneas dan, “apa yang kau lakukan, nii-chan?!” Kepalaku kembali terangkat kepada Izumi yang masih duduk di punggung Kou menatapi kami.
“Apa kau tidak paham betapa beratnya tas ini? Jika aku berenang sambil membawanya, aku sudah dipastikan tenggelam,” Izumi balas berteriak dari atas.
“Serahkan tasnya kepada Kou. Dia akan melemparkan tas tersebut ke pesisir dari atas, kita akan mengambilnya kembali ketika kita berenang ke sana,” tukasku kembali padanya.
Aku berenang, mengikuti Haruki dan juga Eneas yang sudah terlebih dahulu sampai di pesisir pantai, “apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Aku tidak tahu kita sekarang berada di mana, dan juga aku bisa memastikan jika kita semakin jauh dari Ardenis,” ucap Haruki saat aku melangkahkan kaki ke bibir pantai.
Aku berbalik menatapi laut, “hanya tunggu saja, nii-chan. Ini, satu-satunya jalan aman untuk kita ke sana tanpa diketahui oleh Kaisar,” ungkapku, pandangan mataku menyipit berusaha mencari sesuatu di permukaan laut yang luas itu.
“Kuro!” Teriakku sambil melambaikan tangan ke arah ekor berwaran hitam keunguan yang kadang timbul dan tenggelam di permukaan laut.
“Kemarilah!” Tukasku berbalik lalu melambaikan tangan ke arah mereka.
Aku berjalan membelah air laut lalu menghentikan langkah kaki saat air laut itu telah menyentuh pinggang, kubenamkan kepalaku ke dalam air laut itu … Berenang mendekati Kuro dengan tiga ekor Hippocampus di belakangnya. Leher ketiga ekor Hippocampus itu, terikat dengan tali terbuat dari air yang terhubung di tubuh Kuro.
Aku meraih kalung terbuat dari lilitan air di leher Kou, lilitan air itu terpecah menjadi buih ketika aku menyentuhnya hingga tiga buah sisik duyung yang ada di dalamnya melayang keluar. Aku memungut satu per satu sisik tersebut sebelum kembali berenang ke permukaan. “Nii-chan, Eneas, kemarilah!” Aku lagi-lagi memanggil mereka yang berjalan semakin mendekatiku.
“Makanlah sisik ini,” ucapku dengan mengarahkan tiga buah sisik yang ada di tanganku ke arah mereka.
__ADS_1
“Apa ini, sisik duyung?”
Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Izumi, “manusia akan bisa bernapas di dalam lautan jika memakannya. Dengan kata lain, seorang duyung memberikan sedikit sihirnya kepada seorang manusia yang memakan sisiknya itu.”
“Semua duyung?”
“Tidak, bukan semuanya. Hanya duyung dari kalangan bangsawan, seperti Ebe dan Kakeknya yang bisa melakukannya. Jangan terlalu banyak bertanya, makan saja. Waktu kita tidak banyak,” ungkapku kembali mengarahkan sisik-sisik tadi kepada mereka.
Kutatap mereka yang bergantian mengambil sisik tersebut, Haruki mengarahkan sisik tadi mendekati mulutnya diikuti Izumi dan juga Eneas yang juga telah melakukan hal sama sepertinya. “Jika kalian telah selesai memakannya, ikuti aku berenang ke dalam laut,” ungkapku berenang lalu menenggelamkan kembali kepalaku ke dalamnya.
Aku berbalik, menatap mereka yang telah berenang di belakangku, “buka mulut kalian,” ucapku yang dibalas tatapan membelalak dari mereka.
“Bernapas dan berbicaralah,” ucapku lagi kepada mereka.
“A-A-A, apa kalian mendengar suaraku?” Tanya Izumi, aku menganggukkan kepala membalas tatapannya.
“Kuro, mendekatlah!” Aku kembali berteriak dengan mengangkat telapak tanganku ke atas.
“Pilih salah satu Hippocampus selain Kuro, pilih dengan menggunakan hati kalian. Jika telah dirasa cocok antara kalian dan Hippocampus tersebut, sentuh kepalanya lalu berikan mereka nama untuk sebuah kontrak,” ucapku dengan kembali berenang mendekati Kuro.
“Apa seorang manusia biasa dapat melakukannya?”
“Apa aku, bukanlah seorang manusia?” Aku balas bertanya kepada Haruki.
“Kau manusia, hanya sedikit berbeda,” ungkap Haruki berenang mendekat.
“Kenapa kau pikir, kami bisa melakukannya juga? Maksudku, sebelumnya kau sudah melakukan kontrak dengan Kou. Jadi, menurutku wajar, jika kau bisa melakukan kontrak dengan hewan mana pun. Sedangkan kami,” sambung Haruki lagi, dia berhenti di depan seekor Hippocampus berwarna perak kehitaman.
“Kenapa tidak mencobanya, nii-chan? Aku akan menjelaskan semuanya, ketika kalian telah melakukannya,” ungkapku sembari membalas tatapan Haruki yang melirik ke arahku.
__ADS_1