Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXVII


__ADS_3

Aku berjalan mengikuti langkah kaki Izumi yang memapah tubuh Haruki, sesekali Izumi melirik ke arah Haruki yang berjalan di sampingnya itu. Aku kembali melirik ke arah Cia yang berjalan di sampingku, ikut kurasakan genggaman tangan yang ia lakukan di tangaku menguat tatkala topeng-topeng kayu yang dikenakan para penduduk desa itu menatapi kami sepanjan jalan.


Perempuan bertopeng serigala yang berjalan di depan kami menghentikan langkah kakinya, kami mengikuti dia yang berlutut di depan perempuan tua yang sebelumnya mengenakan topeng kayu berbentuk singa sebelumnya. “Angkat kepala kalian,” suara perempuan tua itu kembali terdengar.


Aku mengangkat wajahku menatapnya yang tengah duduk di atas kursi yang terbuat dari anyaman akar-akar pohon, perempuan tua tersebut mengangkat tangannya yang memegang lempengan emas milik Haruki ke arah kami, “apa kalian bertemu dengan Kakakku?” Dia kembali bersuara, mengucapkan kata-kata yang sama seperti sebelumnya.


“Tidak, kami hanya bertemu dengan Putrinya,” Haruki ikut membuka suaranya, “kalian laki-laki, bertemu dengan anak dari Kakakku?” Perempuan tersebut kembali menatap Haruki, kutatap Haruki yang menganggukan kepala padanya.


Laki-laki? Anak? Apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan?


Aku kembali menatap perempuan tua tadi yang telah melirik ke arahku, “bolehkah, aku melihat cincin yang ada di tanganmu?” Perempuan tua itu mengangkat sebelah tangannya ke arahku, aku sedikit melirik ke arah Haruki yang telah menganggukan kepalanya menatapku.


Aku melepaskan genggaman tanganku pada Cia, tubuhku beranjak lalu berjalan mendekati perempuan tua tadi. Perempuan itu mendongakkan kepalanya menatapku yang telah berdiri di hadapannya, dengan perlahan kedua kakiku bergerak berlutut di hadapannya, “tanganmu,” ucapnya pelan sambil terus menatap ke arahku.


Dengan perlahan, aku meletakan tanganku di atas telapak tangannya yang mengarah padaku. Perempuan tersebut memejamkan matanya seraya tangannya mengenggam telapak tanganku itu, “jadi seperti itu,” ucapnya kembali membuka kedua matanya menatapku.

__ADS_1


“Kalian ke sini, untuk meminta kami membantu kalian dalam peperangan bukan?” Perempuan tua tersebut kembali menatapku, aku sedikit mengerutkan kening menatapnya, “maaf, tapi apakah...”


“Aku sebenarnya salah satu Putri di Kerajaan tersebut, Ibunya Ratu Alelah adalah Kakakku,” ucapnya kembali menatap cincin besi pemberian Ratu Alelah yang ada di jariku.


“Cincin ini, adalah cincin milik Ratu pertama. Aku tidak menyangka jika Alelah akan memberikan cincin tersebut kepada orang asing, tapi setelah aku melihat isi hatimu … Aku sedikit mengerti kenapa dia memberikannya,” ucapnya dengan sedikit mengelus cincin besi yang ada di tanganku tadi dengan pelan.


“Tapi kami, tidak akan membantu kalian,” sambung perempuan tua itu melepaskan genggaman tangannya padaku, “sejak aku, diusir dari Kerajaan oleh Ibuku. Aku, tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Kerajaan itu. Kami, hidup di tempat terpencil seperti ini, hanya karena aku tak menginginkan mereka pergi ikut campur dengan permasalahan dunia luar,” ucap perempuan itu tertunduk.


“Aku, benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi,” ucapku, aku kembali melirik ke arah Haruki yang berlutut di belakang, “aku, akan menceritakannya dari awal,” suara perempuan tua itu kembali mengalihkan perhatianku.


“Ibunya Ratu Alelah, sebenarnya adik perempuanku, di sana … Sebutan Kakak maupun Adik, bukan berdasarkan dari siapa, yang lahir telebih dahulu. Aku, membenci Ibuku sendiri … Semua perlakuannya membuat hatiku sakit.”


“Aku dipaksa untuk memberikan statusku sebagai pewaris tahta pada Adikku karena kondisi tubuhku. Setiap hari, aku selalu dibanding-bandingkannya. Semua yang aku lakukan, semua usaha yang aku lakukan … Tak berarti apa pun di matanya, dan itu sungguh-sungguh menghancurkan hatiku.”


“Aku tidak membenci Adikku, karena aku tahu itu bukan kesalahannya. Aku, hanya membenci diriku sendiri, karena aku merasa sebagai anak, aku tidaklah berguna. Puncaknya, aku sangatlah ketakutan saat seseorang memanggil namaku, aku tidak tahu … Mungkin itu karena, aku selalu dipanggil Ibuku hanya untuk menerima amarahnya,” ucap perempuan tua itu kembali menundukan kepalanya.

__ADS_1


“Aku memutuskan untuk melarikan diri dari Kerajaan, melarikan diri dari rumahku, seperti yang kalian lihat sekarang … Tempat ini adalah rumahku,” sambungnya dengan mengarahkan pandangan menatapi sekitar, “ada apa? Apa ada yang mengganjal di hatimu?” Aku kembali menatapnya saat pipiku disentuh oleh telapak tangan perempuan tua tadi.


“Ada bagian yang tidak aku pahami, nenek melarikan diri … Tapi bagaimana Kakakku bisa mengetahui tempat ini,” ucapku sedikit melirik menghindari tatapannya, “mungkin, Ratu Alelah memberitahukan tempatku bernaung kepada Kakakmu. Kami lahir dari air terjun suci, selama air terjun tersebut berada di tubuh kami. Ratu yang memimpin Kerajaan akan tetap bisa menemukan kami di mana pun kami berada,” ucapnya kembali menatap padaku.


“Kami?” Aku kembali bertanya padanya, “semua yang ada di sini, beberapa dari mereka adalah pelayan yang ikut melarikan diri bersamaku. Dan dia, cucu perempuanku,” ucap perempuan tua tadi mengenggam tangan perempuan bertopeng serigala yang berdiri di dekatku.


“Saat kami melarikan diri, kami bertemu dengan beberapa Kesatria yang dibuang oleh Kekaisaran. Setiap Keatria tersebut pasti kehilangan anggota tubuh mereka termasuk dia yang menjadi suamiku, aku bahkan bisa berbicara lancar seperti ini karena dia mengajariku,” ucapnya kembali padaku.


“Karena itulah, kami tidak bisa membantu kalian dalam peperangan. Aku tahu jika niat kalian baik, akan tetapi … Aku, tidak ingin ikut campur dengan permasalahan dunia kalian,” ucapnya kembali mengarahkan pandangan ke arah belakang tubuhku.


“Omong kosong macam apa yang kau katakan Perempuan tua?!” Suara Lux yang tiba-tiba terdengar kuat di telingaku sedikit membuat tubuhku terhentak, aku sedikit melirik ke arah Lux yang telah terbang dari pundakku yang tertutupi rambut, “apa kau mengatakan jika kalian tidak akan ikut campur dengan permasalahan yang ada di dunia ini?!”


“Lux,” ucapku pelan saat Lux meninggikan suaranya di hadapan perempuan tua tadi, aku kembali melirik ke arah para penduduk yang semakin melangkahkan kakinya mendekati, “apa kau tidak tahu apa yang akan terjadi?!” Suara Lux kembali terdengar lebih kuat dibanding sebelumnya.


“Apa karena suamimu dulu adalah Kesatria Kekaisaran, karena itulah kau menolak kami sebelum kami menawarkan kerja sama?!” Lux kembali berucap lantang dengan jari telunjuknya mengarah pada perempuan tua tadi, “inilah kenapa aku membenci manusia! Kalian egois, kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri. Apa karena kehidupan kalian di sini sangatlah nyaman, membuat kalian menutup mata pada mereka yang ada di luar sana!”

__ADS_1


“Dengarkan aku manusia tua! Jika kami gagal, bukan hanya kami saja yang mati. Tapi kau, dia dan mereka semua,” ucap Lux mengarahkan jari telunjuknya kembali ke arah para penduduk yang mengitari kami, “akan ikutan mati, walau kalian menyembunyikan tubuh di ujung dunia sekali pun,” sambung Lux kembali padanya.


__ADS_2