Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXXI


__ADS_3

"Apa yang tengah kalian perbincangkan?" terdengar suara Izumi, menoleh aku ke arahnya yang tengah berjalan mendekat dengan Zeki yang ikut berjalan di belakangnya.


"Bukan hal yang penting, bagaimana dengan lenganmu?"


"Aku baik-baik saja," sambung Izumi membalas perkataan Haruki, kutatap ia yang berjalan dan duduk di salah satu kursi.


"Bagaimana dengan punggungmu?"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Zeki ikut membalas perkataan Haruki, kualihkan pandanganku padanya yang juga menarik salah satu kursi lalu mendudukinya.


"Berapa pasukan kita yang tewas?"


"Sekitar seribu," ucap Adinata membalas perkataan Haruki, kutatap ia yang tengah menyandarkan lengannya di meja.


"Bagaimana menurutmu Sa-chan? Apa kau telah memikirkan rencana untuk besok?"


"Izu nii-chan dan Zeki sekarang sedang terluka, aku kemungkinan besar tidak akan menggunakan mereka di pertempuran besok," ungkapku seraya kugerakkan tubuhku duduk di kursi yang ada di sampingnya.


"Aku ingin perang ini cepat berakhir, jadi mau tidak mau... Jenderal musuh harus jatuh besok," ucapku lagi kepada mereka.


"Dan aku telah memikirkan rencana untuk besok, akan tetapi... Rencana ini bisa dikatakan bunuh diri, karena kalau ada sedikit saja kesalahan, nyawa kalianlah yang akan terancam."


"Karena itu, aku masih memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Aku hanya berharap, besok cuaca mendukung semua rencana yang akan aku lakukan," sambungku kembali.


"Kau terlalu memikirkan banyak hal," ucap Zeki, kuarahkan pandanganku menatapnya yang juga balas menatapku.


"Apa aku dan Izumi selemah itu hingga kau berpikir untuk tidak mengikutkan kami dalam pertempuran?"


"Apa maksudmu?" ucapku lagi padanya.


"Jika kau mengkhawatirkan Kakakmu, aku tidak mempermasalahkannya. Tapi, apapun yang terjadi... Ikutkan aku dalam pertempuran," balasnya lagi padaku.

__ADS_1


"Aku mengerti, pastikan jangan mengecewakanku."


"Dan jangan lupakan aku!"


"Tapi nii-chan," ungkapku membalas perkataannya, kuarahkan pandanganku menoleh padanya.


"Apa kau pikir, luka kecil ini akan menghentikanku?"


"Kenapa tidak ada seorangpun yang mencoba mengerti kekhawatiran yang aku miliki, menjengkelkan sekali," ucapku beranjak berdiri, kugerakkan tubuhku berjalan menjauhi mereka.


"Kau menggerutu dengan keras sekali."


"Jangan mengajakku berbicara Haru-nii, apa kau tidak tahu, panasnya hatiku mendengar perkataan mereka berdua," ucapku dengan suara meninggi, kuarahkan tubuhku tetap berjalan ke depan tanpa menoleh sedikitpun.


"Kita masih belum selesai mendiskusikan strategi, Sa-chan."


"Hime-sama, apa kau ingin melakukan semuanya besok tanpa strategi apapun?"


"Jangan samakan kemampuan berpikirku dengan kemampuan berpikir kalian, aku bisa dengan mudah membalikkan serangan musuh tanpa harus membuang-buang waktu... Lagipun, aku lapar... Aku tidak bisa memikirkan apapun dengan kondisiku yang seperti ini..."


"Kau bodoh, apa kau ingin membunuh kami semua!" terdengar teriakan Izumi dari arah belakangku.


"U-ujung te-tendanya te-terbakar."


"Danur, jangan diam saja. Bantu kami memadamkan apinya!" Ikut terdengar teriakan Adinata yang menyertai, kuhentikan langkah kakiku sejenak seraya kugerakkan kembali kedua kakiku berjalan menjauh tanpa menoleh kepada mereka.


_________________


Beranjak berdiri seraya kugerakkan tubuhku keluar dari dalam tenda, kualihkan kedua mataku menatap tajam Haruki, Izumi, Zeki, Adinata dan Danurdara yang mengalihkan pandangannya menghindari tatapan mataku...


Kembali kuarahkan pandanganku pada tenda semalam yang habis terbakar, kualihkan pandanganku ke arah depan mengikuti langkah kaki yang membawaku berdiri mendekati Lintang.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" ucapku, kuarahkan pandanganku menatap padanya.


"Lihatlah," ungkapnya, kugerakkan kepalaku mengikuti arah yang ia tunjukkan.


"Kemana para pasukan musuh?" ungkapku kembali padanya.


"Entahlah, aku meminta beberapa orang Kesatria untuk mengeceknya. Para pasukan musuh tiba-tiba telah menghilang sejak pagi-pagi sekali."


"Apa mereka kabur?" ungkapnya lagi padaku.


"Entahlah, aku mengkhawatirkan adanya jebakan. Aku tidak bisa memastikannya sekarang," balasku seraya kuangkat dan kugigit pelan ujung jariku.


Kuarahkan pandanganku pada beberapa orang Kesatria yang menunggangi kuda mereka ke arah kami, kuda yang mereka tunggangi semakin cepat bergerak melalui lapangan berumput kosong yang ada di hadapan...


"Pasukan musuh melarikan diri!" teriak mereka berulang-ulang dengan tombak terangkat di tangan mereka masing-masing.


"Apa yang terjadi?" ikut terdengar suara Adinata, kugerakkan kepalaku mencarinya yang telah berdiri di samping Lintang.


"Pasukan musuh melarikan diri, Yang Mulia," jawab Lintang menanggapi perkataannya.


"Apakah pertempuran berakhir secepat ini?" ikut terdengar suara Haruki, kurasakan sesuatu menindih kepalaku.


"Sepertinya," jawab Adinata menanggapi perkataan Haruki.


"Kalian dengar itu para pasukanku! Para pasukan musuh melarikan diri, persiapkan diri kalian. Kita akan pulang ke Kerajaan!" terdengar teriakan Adinata, kutatap para pasukan kami yang berjejer memenuhi bukit melayangkan pandangan padanya.


Gemuruh teriakan-teriakan para pasukan mengiringi perkataan Adinata pada mereka. Beberapa dari mereka ada yang saling berpelukan dengan rekan yang ada di sebelahnya, beberapa dari mereka juga ada yang tertunduk dengan lengan menutupi wajah mereka...


"Kau berhasil Sa-chan," ucapnya, kembali kurasakan jari telunjuknya menyentuh pipiku.


"Aku tidak sedang bermimpi bukan?"

__ADS_1


"Apa pemandangan di hadapanmu masih belum cukup untuk membuatmu yakin, Sa-chan?"


"Kau menyelamatkan Kerajaan Balawijaya, kau membawa kemenangan besar untuk mereka Jenderal Takaoka Sachi," sambung Haruki kembali, kurasakan beban di kepalaku berganti menjadi sebuah tepukan pelan yang mengikuti.


__ADS_2