
"Apa kau mengerti tulisan yang ada di batu itu?" Ucap Haruki, aku menggeleng menjawab pertanyaannya.
"Ini pertama kalinya untukku melihat tulisan ini," ucapku beranjak berdiri, kutundukkan kepalaku sembari ku usap kedua mataku yang perih beberapa kali oleh pasir yang sempat diterbangkan angin sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?" Suara Zeki terdengar, ikut kurasakan sesuatu meraih wajahku lalu mengangkatnya.
"Tidak apa-apa, hanya kemasukan pasir sedikit," ucapku mengedipkan kedua mataku berulang-ulang, berusaha menatapnya yang terlihat sedikit mengabur di pandangan.
"Coba kulihat," ucapnya, kurasakan sesuatu menyentuh pelan kelopak mataku sembari kurasakan udara berembus menyentuh mataku.
"Bagaimana? Apa masih sakit?" Ucapnya kembali saat sebelah mataku yang lain merasakan hal yang sama.
"Sudah lebih baik, terima kasih," ucapku menggerakkan telapak tangan mengusap pipiku yang basah.
"Apa yang terjadi padamu, Aydin?" Ucap Izumi, aku berbalik ikut menatap Aydin yang tertunduk dengan menyembunyikan kepalanya di kedua kakinya yang tertekuk, tampak juga terdengar helaan napas yang kuat dikeluarkan olehnya.
"Hatiku sakit melihat calon isteri ku bermesraan dengan laki-laki lain," ucapnya tanpa mengangkat kepalanya.
Zeki berjalan mendekatinya, langkah kakinya berhenti tepat di hadapan Aydin yang duduk berjongkok dengan kepala tertunduk. Zeki menggerakkan kakinya menendang pasir yang ada di hadapan Aydin...
"Sialan!" Ungkap Aydin dengan nada meninggi, tampak Aydin mengangkat kepalanya dengan sebelah telapak tangan menyapu bibirnya, beberapa kali Aydin seperti mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
"Aku hanya membuatmu menyadari kenyataan yang ada," ucap Zeki berbalik lalu melangkah meninggalkannya.
"Kau!"
__ADS_1
"Inilah kenapa aku tidak menyarankan ada yang ikut pergi kecuali kita bertiga," ucap Izumi menghentikan perkataan Aydin, Izumi beranjak berdiri disusul Haruki yang terlihat memijat-mijat kepalanya.
"Aku tidak menyangka, akan mengajak dua orang bodoh yang menyia-nyiakan tenaganya di tempat seperti ini," ucap Haruki menurunkan tangannya dari kepala, ia berbalik melangkah meninggalkan kami.
"Sa-chan, mendekatlah! Dan menjauhlah dari mereka berdua," ucap Haruki menghentikan langkahnya, dia berbalik dengan melambaikan telapak tangannya kepadaku.
Aku berjalan mendekatinya, Haruki kembali berbalik lalu melangkahkan kakinya di sampingku. Aku berbalik menoleh ke belakang, tampak Izumi tak henti-hentinya menggerutu dengan Zeki dan juga Aydin yang berjalan di belakangnya.
"Apa kau benar-benar tidak merasakan apapun?" Ucap Haruki, aku menoleh menatapnya yang juga telah menatap ke arahku.
"Karena seperti yang kau lihat, kita bahkan tidak tahu... Jalan mana yang dapat kita ambil untuk kembali," ucapnya kembali, Haruki menggerakkan kepalanya menatapi sekitar.
"Nii-chan, apa kau mendengar sesuatu?" Ucapku menarik lengannya, Haruki menghentikan langkah kakinya lalu menatapku.
"Aku tidak mendengarkan apapun."
"Mendengar apa?" Ungkap Izumi yang dibantu oleh gelengan kepala oleh Zeki maupun Aydin.
"Aku mendengar sebuah suara, seperti suara ular yang..."
"Aydin, dibelakang kakimu!" Teriakku, kugenggam lengan pakaian Haruki sambil bernapas lega saat Zeki dengan cepat menarik pedangnya lalu memotong tubuh ular tersebut menjadi dua.
"Bagaimana kalian bisa tidak mendengar suara sejelas itu!" Teriakku pada mereka bertiga, diam mereka bertiga dengan saling tatap antara satu sama lain.
"Kami tidak mendengar apapun," ucap Izumi melangkah mendekatiku.
__ADS_1
"Kalian sungguh-sungguh tidak mendengarnya?" Ucapku pada mereka, aku bergantian menatapi mereka yang menganggukkan kepala.
"Apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" Ucapku menggigit kuat ujung jempol tangan kananku.
"Sa-chan, apa kau yakin baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini," ucapku kembali mengangkat kepala menatapi mereka.
"Di sini tidak aman, kita akan mencari tempat yang lebih aman untuk berlindung," ucap Haruki berjalan lalu meraih tanganku, digenggamnya kuat telapak tanganku tadi sembari ia melangkahkan kakinya dengan menarik pelan tanganku itu.
Kedua kakiku melangkah mengikuti Haruki, semakin jauh kami berjalan... Semakin kuat juga angin yang menerbangkan pasir. Aku mengangkat telapak tanganku menutup hidung, sesekali aku menoleh ke samping menatapi sebuah pasir yang terbang berputar menjauhi tempat kami berdiri sekarang.
"Bukankah lebih baik kita membangun sebuah tenda daripada melanjutkan perjalanan. Dengan banyaknya pasir yang terbang, kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan. Jika terus melanjutkan perjalanan, kita tidak tahu... Bahaya apa yang akan kita hadapi," ucap Zeki, dia berjalan di sampingku dengan sebelah lengannya menutupi hidung.
"Zeki benar, jika kita terus melanjutkan perjalanan. Itu akan sangat berbahaya, Haruki. Kau lihat, bahkan angin yang bertiup semakin kuat dibandingkan sebelumnya," sambung Izumi diikuti suara batuk beberapa kali yang ia keluarkan.
"Aku mengerti, kita akan beristirahat di sini," ucap Haruki melepaskan genggaman tangannya padaku.
Aku berbalik dengan sedikit menyipitkan mata berusaha melihat mereka. Izumi mengeluarkan sebuah kain dari dalam tas yang ia bawa, turut dikeluarkannya seutas tali dari dalam tas miliknya.
"Aydin pedangmu," ucap Zeki mengangkat tangannya ke arah Aydin, Aydin mengangkat pedang miliknya lalu diberikannya pedang tadi kepada Zeki.
Zeki mengangkat pedang milik Aydin lalu ditancapkannya di atas pasir, ia berjalan beberapa langkah sembari menarik pedang miliknya lalu ditancapkannya pedang tadi ke atas pasir seperti sebelumnya.
"Sachi, pisau yang ada di kakimu," suara Izumi terdengar, aku menoleh ke arahnya yang tengah memegang ujung kain yang ia keluarkan sebelumnya.
__ADS_1
Kugerakkan tubuhku berjongkok sembari tanganku meraih pisau kecil yang selalu aku selipkan di dekat sepatu yang aku kenakan. Kuberikan pisau kecil tadi kepada Izumi, Izumi meraih pisau tadi lalu ditancapkannya pisau milikku itu di atas ujung kain yang ia pegang sebelumnya.