
“Ada apa?” Tanyaku dengan berusaha menoleh ke belakang.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang berusaha untuk menangkapmu.”
Aku berbalik meliriknya saat kurasakan sesuatu mencium kepalaku, “kau membohongiku,” tukasku dengan mencubit kuat lengannya.
“Aku hanya mencoba menggapai hak sebagai pasangan,” balasnya sembari tersenyum menatapku.
“Putri,” aku kembali menoleh ke belakang saat suara laki-laki terdengar.
“Tsu nii-chan? Apa kau mencariku?” Tukasku dengan memperkuat cubitanku di lengan Zeki yang merangkulku.
“Pangeran Haruki memintaku untuk memastikan Putri beristirahat yang cukup sebelum melanjutkan perjalanan,” ucapnya dengan melirik ke arah Zeki yang ada di dekatku.
“Aku mengerti,” ungkapku dengan berbalik menatap Zeki, “aku harus segera kembali, lepaskan pelukanmu,” tukasku kepadanya.
“Mengganggu sekali,” bisik Zeki, dia memiringkan kepalanya sedikit ke samping, “aku akan mengantarkannya kembali ke paviliun. Kau bisa kembali,” tukas Zeki diikuti kedua matanya yang melirik tajam ke depan.
“Sudah menjadi tugasku untuk menjaganya,” aku kembali berbalik menatap ke arah Tsubaru saat dia menjawab perkataan Zeki.
“Dia sekarang bukanlah lagi anak kecil yang kau urus. Sadarilah, statusmu,” ungkap Zeki terdengar.
Aku berbalik menatap Zeki, “apa yang kau katakan Zeki? Bagaimana bisa kau mengatakannya pada seseorang yang telah merawatku?”
“Aku tidak pernah memandang Putri dengan pandangan tak sopan seperti yang kau miliki, Raja Zeki.”
“Apa yang kau katakan?!” Zeki melepaskan pelukannya lalu berjalan melewatiku, “pandangan apa yang kau maksudkan itu?” Tukas Zeki kembali dengan melangkahkan kakinya semakin mendekati Tsubaru.
“Pasangan seperti apa yang mempermalukan pasangannya sendiri di hadapan kedua kakaknya, teman dan Kesatrianya?”
“Apa kau tidak tahu? Apa yang harus ditempuh Putri untuk bisa seperti sekarang? Untuk bisa mendapatkan pengakuan dan sikap hormat dari Kesatria yang lainnya?”
“Apa karena Sachi sudah menganggapmu seperti kakaknya, jadi kau bisa berbicara dengan leluasa seperti itu?”
__ADS_1
“Zeki!” Tukasku berbalik, kutatap dia yang telah mencengkeram kerah pakaian Tsubaru.
“Tsu nii-chan, aku akan kembali bersamamu,” ungkapku melangkahkan kaki mendekati mereka.
“Lepaskan tanganmu Zeki, aku harus segera kembali,” sambungku dengan melanjutkan langkah melewati mereka berdua.
Langkah kakiku terus bergerak hingga paviliun yang aku tempati kian terlihat. “Aku akan berjaga di depan, Putri,” suara Tsubaru menghentikan langkah kakiku di depan pintu paviliun itu.
“Tsu nii-chan, kau tidak harus mengatakan hal tersebut padanya,” ungkapku dengan membuka perlahan pintu tersebut.
“Beberapa wakil kapten, masih belum bisa menerimamu Putri. Pelayanmu ini tidak ingin, jika apa yang Putri perjuangkan selama ini berakhir sia-sia,” ungkapnya yang membuatku menoleh.
“Aku bahkan tidak memikirkan hal tersebut sampai sejauh itu. Sepertinya, Putri yang kau besarkan ini masihlah membutuhkanmu, Tsu nii-chan,” ungkapku tersenyum menatapnya.
Tsubaru membungkukkan tubuhnya ke arahku, “beristirahatlah Putri. Pelayanmu ini, akan menjamin keselamatanmu hingga kau bangun,” ungkapnya dengan tetap membungkukkan tubuhnya.
“Tsu nii-chan, terima kasih karena telah menerima tawaran Ayah untuk menjagaku dulu. Aku benar-benar bersyukur memilikimu,” ungkapku berjalan masuk lalu menutup kembali pintu tersebut.
_______________
“Tsu nii-chan, bantu aku! Tas ini seakan mengambil sedikit demi sedikit tinggi badanku,” rengekku menatapnya yang tengah melangkahkan kakinya mendekatiku.
Aku meletakkan tas itu kembali saat Tsubaru telah berdiri di hadapanku, dia membungkukkan tubuhnya lalu meraih dan meletakkan tas tersebut di pundaknya. Aku lagi-lagi melanjutkan langkah saat dia telah ikut melangkahkan kakinya di sampingku.
“Tsu nii-chan, apa kau mengetahui tempat yang akan kami kunjungi nanti?”
Tsubaru menoleh ke arahku, “Tatsuya mengatakan, jika kalian akan mengunjungi Kerajaan kecil yang ada di Utara, bernama Turgen,” ucapnya kembali mengangkat wajahnya.
“Mereka dahulu termasuk salah satu Kerajaan besar sebelum dihancurkan oleh Kekaisaran. Yang Mulia, merangkul Raja yang memimpin Kerajaan itu … Pertemanan mereka berlangsung sampai saat ini,” sambung Tsubaru kembali.
“Jika itu benar Turgen? Maka aku pernah mengunjunginya sekali … Para petarung mereka, sangat mengagumkan Putri. Mereka hidup berpindah-pindah, mereka membangun tenda … Dan jika cuaca yang ada di sekitar mereka tak mendukung, maka mereka akan pindah dengan membawa rumah yang terbuat dari tenda itu. Karena mereka dihancurkan Kaisar, mereka sedikit tidak mempercayai orang asing … Jadi, berhati-hatilah,” ungkapnya kembali menoleh ke arahku.
“Apa ada lagi yang kau ketahui nii-chan?”
__ADS_1
“Aku mengunjungi Kerajaan itu, sebelum aku memutuskan untuk merawatmu. Jadi, aku tidak tahu … Apa saja yang telah berubah dari tempat itu,” ungkapnya tanpa menoleh ke arahku.
“Apa kau merindukannya nii-chan? Maksudku, berkelana seperti wakil kapten yang lainnya?”
“Aku merindukannya, karena aku bisa mendapatkan banyak sekali pelajaran dari tempat yang aku kunjungi. Akan tetapi, dibandingkan itu … Pelayanmu ini, lebih merindukan saat-saat di mana, engkau membutuhkan bantuanku, Putri,” ungkapnya tersenyum menatapku.
“Apa pembicaraan kalian telah selesai?”
Aku berbalik ke belakang, menatap ke arah suara laki-laki terdengar, “Zeki. Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku saat dia telah berjalan lalu berhenti di hadapanku.
“Aku berniat menjemputmu tadi,” ungkapnya ikut berjalan di samping saat aku telah kembali melangkahkan kaki.
“Begitukah? Jika kakakku mengatakan pagi, maka aku harus telah selesai bersiap sebelum mereka datang menjemputku, kalau tidak … Mereka akan menyindirku selama perjalanan, dan itu memusingkan,” ungkapku kembali menghentikan langkah.
“Nii-chan!” Aku berteriak kuat, saat pandangan mataku terjatuh pada punggung Haruki dan juga Izumi yang berjalan tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri.
Mereka berdua menghentikan langkah dengan berbalik ke arahku, dengan cepat kedua kakiku berlari menyusul mereka, “di mana Eneas dan juga Lux?” Tanyaku berdiri di hadapan mereka berdua dengan kepalaku yang bergerak ke kanan dan kiri bergantian.
“Eneas dan Lux telah bersama Tatsuya, mereka mungkin telah menunggu kita di gerbang.”
“Salam, Pangeran,” suara Tsubaru menimpali perkataan Haruki, aku kembali menoleh ke arahnya yang telah membungkukkan tubuhnya ke arah kami.
“Angkat wajahmu Tsubaru, kau tidak perlu melakukannya hampir setiap kali kita bertemu,” tukas Haruki berbalik lalu melangkahkan kembali kakinya.
“Haru-nii,” ucapku berjalan lalu merangkul lengannya.
Haruki melirik ke arahku, “ada apa?” Tanyanya sembari mengarahkan pandangannya lagi ke depan.
Aku mengangkat kepalan tanganku mendekati bibir, “aku menagih janjimu padaku, nii-chan,” bisikku dengan sangat pelan di dekatnya.
Haruki menghela napas, “Tsubaru!” Tukasnya kembali bersuara.
“Ada apa Pangeran Haruki? Apa ada yang harus aku lakukan?” Timpal suara Tsubaru dari arah belakangku.
__ADS_1
“Jika kalian telah sampai di Sora, pinta kotak yang telah aku persiapkan pada Tatsuya. Bawa dan simpan kotak itu di kamar Putri Sachi!”