
"Ikuti aku," ucapnya kembali menggerakkan ekornya.
Kugerakkan kedua tanganku ke depan membelah air laut yang ada di hadapan sembari kedua kakiku bergerak mendayung tubuhku berenang ke depan. Sesekali kepalaku menoleh ke arah kanan dan juga kiri secara bergantian... Tak ada terumbu karang seperti halnya laut pada umumnya, yang ada hanyalah bebatuan yang bersusun sembarang di dalamnya.
"Lewat sini. Berhati-hatilah, di sana sangat gelap. Yang harus kau lakukan hanyalah berenang lurus dan jangan pedulikan apapun di sekitar. Apa kau paham?" Ucapnya berhenti lalu berbalik menatapku, kugerakkan kepalaku mengangguk pelan di hadapannya.
Perempuan itu kembali berenang meninggalkan, kugerakkan kedua kakiku berenang mengikutinya. Kakiku terhenti, kutatap mulut goa besar yang ada di hadapanku itu, bahkan dari kejauhan... Aku tak bisa melihat apapun di dalamnya.
"Apa yang kau lakukan? Cepatlah masuk!" Teriakan perempuan terdengar dari dalam mulut goa tersebut, kembali kugerakkan kakiku berenang mendekati goa itu.
Pandangan mataku menggelap, aku... Tak dapat melihat apapun di sekitar. Kedua kakiku masih bergerak pelan berenang lurus seperti yang perempuan itu katakan. Jika pun ini sebuah jebakan atau ada musuh yang mengintai, sudah dipastikan aku akan mati tanpa sempat melawan di sini.
Sebuah cahaya tiba-tiba terlihat dari jauh, kedua kakiku semakin kuat berenang menyusul perempuan itu, yang telah berenang terlebih dahulu melewati celah bebatuan. Perempuan itu menghentikan ekornya, lalu berbalik menatapku...
"Kau melakukannya dengan sangat baik. Jika saja, kau tak mendengarkan perkataanku dan tidak berenang lurus seperti yang aku katakan. Sudah dipastikan, kau akan terjebak di dalam goa itu selamanya," ucapnya kembali berbalik lalu berenang menjauh.
"Namamu?" Ucapku semakin kuat menggerakkan kaki berenang menyusulnya.
"Ebe, dan kau?" ungkapnya sedikit melirik saat aku telah berenang di sampingnya.
"Sachi," ucapku kembali mengarahkan pandangan menatap lurus ke depan.
"Baiklah Sachi, kita telah hampir mendekati daratan. Berhati-hatilah," ucapnya mendongakkan sedikit kepalanya, digerakkannya kembali ekornya berenang ke permukaan.
Aku ikut menggerakkan kedua kakiku berenang menyusulnya. Ku pejamkan sedikit kedua mataku saat sinar matahari menjatuhi wajahku yang mengapung di permukaan laut. Kugerakkan sebelah tanganku menepuk-nepuk pelan dadaku yang masih terasa penuh oleh sesuatu...
__ADS_1
"Sachi, mendekatlah," ucapnya menoleh ke arahku, diarahkannya sebelah tangannya melambai padaku.
Aku kembali berenang mendekatinya yang tengah menempelkan tubuhnya di sebuah batu besar yang ada di pesisir. Kedua kakiku bergerak mendayung air agar tak tenggelam di belakangnya...
"Apa kau lelah?" Ucap Ebe menolehkan kepalanya berusaha melirik aku yang ada di belakangnya.
"Kau bisa bersandar padaku. Karena kita tidak tahu kapan makhluk itu akan muncul," ucapnya sekali lagi sembari kepalanya kembali diarahkannya menatap lurus ke arah pantai dengan beberapa batu yang bersusun di sana.
"Kalau begitu, aku mengandalkanmu," ungkap ku mengarahkan kedua lenganku melingkari lehernya.
"Kau berat sekali," ucapnya mengarahkan kedua tangannya meraih batu besar yang ada di hadapan kami.
"Tutup mulutmu. Atau aku akan mematahkan lehermu," ucapku pelan sembari kepalaku bersandar pada salah satu lenganku yang melingkar pada pundaknya.
"Pastikan, kau jangan membuat suara apapun ketika nanti kau melihat sesuatu yang menjijikan. Atau, rencana yang telah kita buat akan gagal," ucapnya dengan sedikit menggerakkan kepalanya ke samping batu yang ada di hadapan kami.
"Karena dari banyaknya makhluk yang pernah aku temui, mereka semua membenci manusia," sambungku kembali padanya.
"Kau benar, aku membenci kalian. Ibuku meninggal saat berusaha melindungi ku dari serangan manusia," ucapnya dengan suara bergetar, dia kembali mengarahkan pandangannya menatap hamparan pasir pantai bercampur bebatuan yang jauh di depan kami.
"Lalu? Kau ingin membalaskan dendam mu itu?"
"Aku tidak akan melakukannya. Karena setelah aku mengetahui kebenarannya, para aanjing itulah yang membuat hubungan diantara duyung dan juga manusia memburuk. Karena itulah, aku akan membalaskan semua dendam yang aku miliki pada mereka," ucapnya dengan sebelah tangannya tampak mencengkeram erat permukaan pada batu besar yang ada di hadapan kami.
"Berenang, berenang ke samping," ucapnya kembali dengan menggerakkan kedua tangannya di permukaan batu. Aku ikut berenang pelan mengikuti tubuhnya yang bersembunyi diantara bebatuan besar yang ada di sekitar kami.
Ebe menurunkan tubuhnya ke dalam air hingga hanya setengah wajahnya saja yang muncul di permukaan. Aku ikut melakukan apa yang ia lakukan sembari kepalaku tertuju ke arah sesuatu berwarna hitam yang mengambang lepas di sana.
__ADS_1
Benda berwarna hitam tadi semakin bergerak mengapung ke atas. Ku tatap seorang perempuan cantik berkulit putih dengan rambut panjangnya yang mengapung di sekitar tubuhnya.
Perempuan tersebut menggerakkan tubuhnya berenang semakin mendekati pantai yang penuh akan bebatuan itu. Mulutku tiba-tiba tertutup, aku melirik ke arah Ebe yang menggerakkan jari telunjuknya mendekati bibir seakan memintaku untuk diam.
Perempuan yang aku lihat tadi menggerakkan kembali tubuhnya merangkak di pesisir pantai yang lumayan jauh dari tempat kami bersembunyi sekarang. Yang lebih membuatku terkejut...
Perempuan itu, memiliki ekor layaknya aanjing laut dengan bulu-bulu berwarna cokelat yang menutupi setengah tubuhnya.
Perempuan berwujud setengah aanjing laut tersebut merangkak ke pinggir pantai lalu berbalik duduk menatap laut. Perempuan itu menyibakkan rambut panjangnya ke belakang sembari kedua tangannya bergerak menelusuri tubuhnya yang dipenuhi bulu-bulu cokelat seperti aanjing laut tersebut.
Perempuan tersebut menggerakkan jari-jemarinya menyentuh batas kulit antara tubuh manusianya dan juga tubuh aanjing lautnya itu. Dia menundukkan pandangannya seraya jari-jarinya itu bergerak menarik kulitnya yang dipenuhi bulu itu.
Ebe semakin menekan telapak tangannya di mulutku, aku sedikit melirik ke arahnya sebelum berbalik kembali menatap perempuan setengah aanjing laut itu. Perempuan itu... Dan kulit aanjing lautnya perlahan saling terpisah diikuti tangan perempuan itu yang bergerak seakan melepaskan kulitnya itu.
Ku tatap dada perempuan tersebut yang telah berlumur darah, anehnya... Ia masih saja menggerakkan jari-jemarinya menguliti tubuhnya sendiri.
Perempuan itu dengan perlahan beranjak berdiri. Tubuhnya yang penuh darah itu dibawanya berjalan membelah air laut... Dan apa kalian tahu? Lebih anehnya lagi, tak ada darah yang menggenang ataupun dia yang merasa kesakitan karena luka-luka di tubuhnya tadi.
Perempuan itu kembali berbalik, ia kembali melangkah mendekati pesisir pantai. Tubuhnya, maksudku luka di tubuhnya... Telah menghilang entah kemana.
Perempuan tersebut membungkuk seraya meraih kulit aanjing laut yang ia letakkan di pasir pantai. Ia menggerakkan kedua tangannya melipat kulit yang ia genggam itu lalu berbalik melangkah mendekati sebuah batu besar.
Perempuan itu berlutut dengan sebelah tangannya menggali pasir yang ada di bawah batu besar tersebut. Diletakkannya kulit yang ia pegang tersebut ke dalam lubang yang ia gali lalu menguburnya kembali dengan pasir yang ada di sekitarnya. Perempuan itu menggerakkan kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum tubuhnya beranjak berdiri lalu berjalan melangkah meninggalkan pantai tanpa mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya.
"Apa kau sudah siap? Kau paham apa yang harus kita lakukan bukan?" Bisik Ebe saat ia melepaskan telapak tangannya yang menutupi bibirku.
__ADS_1