Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLIX


__ADS_3

"Apa kau baik-baik saja?" Ucapku berjalan mendekatinya, tampak dia mundur beberapa langkah menghindar.


"Kami telah mencoba mengajak dia berbicara sebelumnya, dia tidak mengerti ભાષા," ucap Haruki berbalik menatapku.


"Jadi dia tidak mengerti bahasa ya," ungkapku menimpali perkataan Haruki.


"Aku akan menyiapkan makan malam, tapi sebelum itu... Apa kau mau mengikutiku?" Tukasku tersenyum seraya kuarahkan telapak tanganku padanya.


Anak kecil tadi terlihat ragu mengangkat tangannya, kugerakkan dengan pelan telapak tanganku tadi meraih tangannya. Aku bergerak perlahan menggendong tubuhnya yang kecil itu... Aku tidak tahu berapa usianya, tapi melihat kondisinya yang seperti ini. Benar-benar membuat dadaku sesak.


"Aku akan membersihkan tubuhmu, setelah itu aku akan memasakkan makanan yang sangat banyak dan lezat untukmu," ucapku kembali sembari kedua kakiku melangkah menaiki tangga.


Aku berjalan mendekati kamarku yang terbuka pintunya, kutatap Lux yang berbaring tidur di ranjang saat aku menurunkan anak tadi dari gendonganku. Aku duduk berjongkok di hadapannya seraya jari-jemariku bergerak membuka pakaian yang ia kenakan.


Seluruh tubuhnya dipenuhi luka gores, lebam membiru juga ikut menghiasi tubuhnya. Dia tertunduk dengan kedua tangannya yang tergenggam kuat, kuraih kedua tangannya tadi lalu menggenggamnya. Anak perempuan yang malang...


_________________________


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucapku kembali masuk ke dalam kamar, kutatap dia yang duduk di atas kursi dengan sehelai handuk menyelimuti tubuhnya.


"Aku meminjam pakaian lama yang dimiliki oleh Adikku, aku akan membelikan pakaian baru untukmu lagi nanti," ungkapku berbalik menutup pintu, kembali kugerakkan tubuhku berjalan mendekatinya.


"Kemarilah, aku akan mengenakan pakaian ini padamu. Kau terlihat cantik, dan matamu... Mirip sekali dengan Kakakku Izumi," ucapku meletakkan pakaian yang aku bawa ke atas meja rias milikku.


"Sachi, siapa dia?" Tukas Lux terbang mendekati kami.


"Aku tidak tahu, tapi mereka mengatakan... Kalau mereka menemukan dia saat dia hampir dijual ke pelelangan," ungkapku melepaskan handuk yang ada di tubuhnya saat dia beranjak turun dari atas kursi.


"Matanya sama seperti Izumi, mungkinkah berasal dari suku yang sama seperti Ibunya Izumi," ucap Lux menggerakkan tubuhnya duduk di pinggir meja rias.


"Mungkin. Apa kau ingin berkenalan dengannya?" Ungkapku menatapnya yang tengah melirik ke arah Lux.


"Namanya Lux," ucapku meraih telapak tangannya lalu kuarahkan kepada Lux.


"Lux," ucap Lux meraih jari telunjuk anak perempuan tadi dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Lux," tukasnya menatapku, kubalas perkataannya dengan anggukan pelan dariku.


"Sachi, panggil aku Sachi," ucapku berlutut di sampingnya, kembali kugerakkan tanganku memasang kancing di pakaiannya.


"Sachi," ucapku kembali membalas tatapannya, tanganku bergerak meraih rambutnya yang pendek untuk ku selipkan di daun telinganya.


"Sachi," ungkapnya menatapku, kugerakkan bibirku tersenyum membalas perkataannya.


"Sachi, Lux," ucapnya bergantian menatap kami.


"Cia," ucapnya menggerakkan telapak tangannya menepuk pelan dadanya.


"Nama yang cantik sekali, senang berkenalan denganmu, Cia," ucapku meraih dan menggenggam kedua tangannya.


_________________________


"Anak siapa itu?" Ungkap Solana yang tiba-tiba berdiri di belakangku.


"Mereka menemukannya saat Cia hampir dijual ke pelelangan," ucapku meniup udara pada sesendok sup yang ada di tangan lalu mencicipinya.


"Itu namanya. Ini pertama kalinya untukku bertemu seseorang yang punya mata abu-abu selain Kakakku, melihatnya seperti itu sangatlah menyiksa," ucapku kembali mengaduk-aduk pelan sup yang aku masak.


"Terserahlah. Aku akan menyiapkan meja, apakah nasinya sudah masak?"


"Sudah, bantu aku mengisi mangkuk-mangkuk tersebut dengan nasi," ucapku menoleh menatapnya.


"Baiklah," tukasnya berbalik diikuti langkah kaki yang menjauh.


Kuraih dua helai kain di masing-masing tanganku, dengan perlahan kuangkat panci berisi sup yang aku masak. Aku melangkah dengan sangat hati-hati mendekati meja, asap putih yang mengepul dari panci memenuhi pandanganku.


"Kalian telah datang, aku baru saja mau memanggil kalian semua," ucapku menatap mereka yang berjalan satu-persatu mendekati kursi kosong.


"Ikan bakar. Kesukaanku," ucap Eneas mengangkat piring berisi seekor ikan bakar di atasnya.


"Itadakimasu," sambung Haruki dan Izumi bergantian terdengar.

__ADS_1


Pandangan mataku teralihkan pada Cia yang terdiam menatapi mereka, tangannya bergerak menggenggam sendok yang ada di sampingnya. Seraya digerakkannya sendok tersebut meraih nasi seperti yang dilakukan Eneas.


"Apa kau ingin mencobanya? Ikan bakar?" Ucapku meraih sumpit, kuarahkan sumpit tadi memotong ikan bakar yang ada di hadapannya.


"Cobalah," ucapku kembali saat potongan ikan bakar tadi kuletakkan di atas nasi yang ada di sendoknya.


"Kau menyukainya?" Ungkapku, diarahkannya kembali sesendok penuh nasi ke arahku.


"Apa dia baik-baik saja?" Ucap Izumi melirik ke arahku.


"Dia baik-baik saja. Dan juga nii-chan, panggil dia Cia. Namanya Cia," ucapku membalas tatapan Izumi.


"Cia," ungkapku yang dibalas tatapan olehnya.


"Haruki, Izumi, Eneas, Costa dan juga Solana," ucapku pelan seraya sebelah tanganku bergerak mengarah kepada mereka bergantian.


"Ha-ruki, Izu-mi, Ene-as, Co-sta, Sola-na," ucapnya dengan terbata mengikuti perkataanku.


"Kau melakukannya dengan sangat baik, Cia," ucapku tersenyum dengan sebelah tanganku menepuk pelan kepalanya.


"Aita, Ama," ucapnya berulang-ulang dengan kepala tertunduk.


"Aita? Ama?"


"Ayah, Ibu. Begitulah yang ia katakan," ucap Haruki menimpali perkataan Izumi.


"Bagaimana kau mengetahuinya?"


"Ibumu, yang mengajarkannya langsung padaku," ucap Haruki kembali dengan kepala tertunduk menanggapi perkataan Izumi.


"Kau mengerti bahasa mereka nii-chan?"


"Aku tidak bisa. Aku hanya mengetahui dua kata itu olehnya dulu," sambung Haruki meraih nasi dengan sumpit di tangannya lalu memakannya.


"Dia pasti merindukan orang tuanya," ungkap Eneas, diletakkannya sendok yang ada di tangannya seraya wajahnya tertunduk menatap sisa nasi yang ada di mangkuk.

__ADS_1


"Sepertinya sudah saatnya kita pergi dari sini. Bagaimana jika kita kembali berjalan-jalan," ungkap Haruki menatap kami bertiga bergantian.


__ADS_2