Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXXXVIII


__ADS_3

"Naiklah Yoona," ucapku mengarahkan telapak tanganku padanya, Yoona meraih telapak tanganku tadi sembari tubuhnya bergerak naik ke atas kuda.


Kuda yang kami tunggangi bergerak mendekati rombongan. Jabari kembali memimpin perjalanan, sesekali kuda yang ia tunggangi berhenti sembari diangkatnya telapak tangannya ke atas mencoba memastikan sesuatu.


Kami berbelok ke kanan, dengan sangat perlahan kuda milikku berjalan menuruni sebuah bukit pasir. Pandangan mataku tertuju pada sebuah pemukiman, jauh di hadapan kami berdiri sekarang ini...


Jabari kembali mengangkat sebelah telapak tangannya yang tergenggam. Dua orang laki-laki menunggangi kuda miliknya berlari meninggalkan kami. Bayangan mereka berdua semakin mengecil terlihat di pandangan seiring waktu.


"Apa yang mereka berdua lakukan?" Ucap Izumi dengan sebelah tangannya menarik penutup kepala Cia yang hampir jatuh ke belakang.


"Aku meminta mereka berdua untuk memastikan keadaan di sana. Jika di sana terdapat bahaya, kita bisa langsung menghindarinya," ucap Jabari tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.


Jabari menggerakkan kudanya berlari cepat saat kepulan asap yang membumbung di atas langit tampak terputus-putus terlihat. Ikut kugerakkan kuda milikku berlari cepat menyusul mereka diikuti genggaman kuat di pakaian yang aku kenakan.


Langkah kaki kuda milik kami terhenti, sebuah desa dengan pagar kayu yang telah lapuk terpampang di hadapan kami. Jabari dan Haruki menggerakkan kuda milik mereka melewati gapura desa yang telah hampir roboh dimakan usia.


Kedua laki-laki yang dipinta pergi tadi telah kembali dari samping luar desa. Kugerakkan kudaku berjalan mengikuti Jabari berserta Haruki yang telah menghentikan kuda milik mereka di tengah-tengah desa.


Haruki dan Jabari menunggangi kuda mereka ke samping, tampak terlihat rombongan para laki-laki berjalan mendekat dengan sebuah tandu berselimut kain putih yang telah usang di tengah-tengah mereka.


Tubuhku sedikit terperanjat saat kurasakan tepukan menyentuh pundakku, aku menoleh menatapi Izumi yang telah menggerakkan kudanya ke samping. Ikut kugerakkan kuda yang aku tunggangi bergerak ke arah sebaliknya untuk memberikan para rombongan tersebut jalan.


Penutup kepala yang hampir terjatuh sebelumnya seketika langsung kutarik kembali ke depan. Kulirik rombongan tadi yang berjalan tertunduk, tampak seorang laki-laki tak henti-hentinya mengusap wajah dan matanya yang tertunduk.

__ADS_1


Aku memperhatikan dengan seksama rombongan tadi, beberapa di antara mereka memiliki bercak-bercak berwarna merah di kulit. Bahkan ketika mereka berjalan, sesekali diantara mereka tak henti-hentinya menggaruk-garuk tubuh mereka sendiri.


"Apa yang mereka lakukan di tanah terkutuk ini?"


Sebuah bisikan yang samar terdengar tiba-tiba menembus telinga. Aku berbalik menatap seseorang laki-laki yang memukul kepala laki-laki lainnya sedangkan tangannya yang lain bergerak menutupi mulut laki-laki tersebut.


Ada apa ini?


Apa terjadi sesuatu pada tempat ini?


Tubuhku kembali terhentak, kali ini Yoona yang menepuk pelan punggungku sembari sebelah tangannya yang lain bergerak menunjuk ke arah Jabari dan juga Haruki yang telah menunggangi kuda mereka kembali.


Aku kembali menggerakkan kuda mengikuti mereka. Pandangan mataku bergerak bebas ke kanan dan ke kiri memperhatikan keadaan desa. Kembali, langkah kaki kuda kami terhenti saat seorang anak laki-laki berlari di hadapan kami.


Berkali-kali anak laki-laki tersebut menggerakkan telapak tangannya memukul-mukul lengannya yang dikerubungi lalat. Pandangan mataku kembali teralihkan pada suara teriakan yang terdengar menggema...


Kutukan terjadi lagi!


Kira-kira seperti itu suara yang sempat terdengar di telinga. Haruki menunggangi kuda miliknya berjalan ke arah sumber suara tadi. Aku pun, ikut mengikuti langkah kaki kuda-kuda mereka di belakang.


Tubuhku tertegun dengan pemandangan yang aku dapatkan... Kenapa tidak, sekitar tiga orang laki-laki renta, lima orang laki-laki dewasa berserta dua orang laki-laki balita tengah dikerubungi oleh banyak sekali orang...


Kesepuluh laki-laki tersebut kondisinya sama, mereka sama-sama tertidur di atas kain putih yang dibentangkan di atas tanah. Mereka tidur tanpa bergerak sedikitpun, lengan dan wajah kesepuluh orang yang tertidur tersebut juga dipenuhi bercak-bercak merah.

__ADS_1


"Apakah anakku masih hidup?"


"Bagaimana dengan Ayahku?" Ucap beberapa orang laki-laki itu bergantian. Seorang laki-laki dengan tubuh tegap berjalan melangkahi barisan laki-laki yang tertidur itu sesekali dia berhenti mengarahkan kakinya ke arah salah satu laki-laki tua renta dan seorang anak kecil yang masih diam tak bergerming.


"Mereka masih hidup," ucap laki-laki itu kembali seraya diangkatnya kaki miliknya yang sempat menempel pada anak kecil yang lain.


"Sebenarnya, apa yang terjadi?" Bisik Yoona pelan, kugerakkan kepalaku menggeleng menjawab pertanyaannya.


"Kou, apa kau merasakan sesuatu di sini?"


"Tidak, aku tidak merasakan apapun, My Lord," jawab Kou yang terngiang di kepalaku.


Kou tidak merasakan apapun, tapi kenapa mereka terlihat seperti itu?


Apa ada sesuatu atau terjadi sesuatu di desa ini?


Mereka berteriak kutukan bukan? Jika aku tidak salah mengingat.


Kutukan, yang mengingatkan aku akan desa Kuma.


"Sepertinya kita mempunyai banyak sekali pendatang, dan juga makanan," ucap laki-laki yang sebelumnya berjalan melangkahi orang-orang itu, laki-laki tersebut berbalik menatap kami.


"Kami hanya sedikit tersasar. Bisakah salah satu dari kalian menunjukkan jalan?" Ungkap Jabari sedikit menggerakkan kuda miliknya berjalan maju.

__ADS_1


"Sayang sekali, kalian akan berakhir mengenaskan di tanah terkutuk ini," ucap laki-laki itu kembali dengan kedua tangannya berkacak ke pinggang.


__ADS_2