
"Apa kalian telah selesai memilih senjata yang akan kalian gunakan?" ucap Haruki menatap ke arah kami.
"Jika telah selesai, ikuti aku menyusul para perempuan memilih bahan-bahan makanan," sambung Haruki seraya berjalan menjauh meninggalkan kami.
Berjalan kami mengikuti langkah kakinya, sesuatu menyentuh kepalaku. Kualihkan pandangan mataku ke sisi kanan, tampak terlihat Izumi berjalan disampingku. Matanya sendiri tampak fokus menatap kedepan, inilah ekspresi yang selalu kutunggu... Saat ia sedang serius, ia akan terlihat... sama seperti Ayahku.
Berhenti kami di hadapan Luana, Sasithorn, Julissa dan juga Arion yang tengah berdiri didepan peti-peti kayu berisi berbagai macam makanan. Berbalik Haruki melirik ke arahku, kututup wajahku menggunakan telapak tangan seraya memijat-mijat pelan kepalaku.
"Izumi, aku menyerahkan semuanya kepadamu," ucap Haruki mengalihkan pandangan matanya kearah Izumi, maju Izumi kedepan seraya menghela nafas beberapa kali.
"Apa kalian ingin menyebabkan kita terbunuh?" ucap Izumi berjalan mendekati mereka.
"Kita akan ke hutan, bagaimana caranya membawa peti-peti kayu sebanyak itu," sambung Izumi menatap mereka.
"Sa-chan," ucap Haruki menatapku.
Maju aku mendekati mereka, kuperiksa kembali bahan-bahan makanan yang mereka kumpulkan. Kuambil hanya gula, garam, dan beberapa bahan makanan yang aku anggap penting. Kuletakkan semua bahan yang telah aku pilih di tengah-tengah mereka.
"Tapi bagaimana kita bertahan hidup?" ucap Luana menatapku.
"Tentu saja, berburu. Hutan tidak akan disebut hutan jika tak ada satupun hewan didalamnya," sambung Zeki yang ikut menatapku.
"Kau paham soal itu rupanya," ungkap Izumi mengalihkan pandangannya kepada Zeki.
"Apa kau pikir, gelar wakil kapten yang aku dapatkan hanyalah sebuah gelar?" ucapnya balas menatap Izumi.
"Aku hanya menyiapkan bahan-bahan pokok yang harus kita bawa, akan tetapi jika kalian ingin membawa makanan yang lainnya. Aku tidak akan melarangnya, namun jangan terlalu berlebihan. Sesuaikan kemampuan kalian masing-masing," ucapku, kuraih tas yang diletakkan Haruki disebelahku sebelumnya seraya kumasukkan semua bahan yang telah aku pilih kedalam tas.
"Apa kalian telah selesai? jika sudah, kita akan segera berangkat," ucap laki-laki tua tadi beberapa kali.
__ADS_1
Berjalan kami semua mengikuti langkah laki-laki tua tersebut, berhenti kami di depan barisan kereta barang yang tersusun rapi.
"Ini kendaraan yang akan mengantarkan kalian kesana, jadi naiklah sesuai kelompok yang telah kalian tentukan!" ucap laki-laki tua tersebut berbalik menatap kami.
"Apa kau sudah gila?"
"Kami yang seorang bangsawan diperintahkan menaiki kereta tersebut, bagaimana jika kami nantinya kepanasan atau kehujanan?" ucap mereka semua bergantian.
"Ini perintah Kaisar, apa kalian ingin menentang Kaisar?" jawab laki-laki tua tersebut yang berhasil membungkam semua perkataannya yang ada.
Berjalan kami mendekati salah satu kereta, terlihat Adinata dan Izumi tengah sibuk memindahkan barang ke atas kereta.
"Kemarilah, aku akan membantumu menaikinya," ucap Izumi menatapku.
"Tapi aku bisa melakukannya sendiri," ungkapku seraya menginjakkan kaki di salah satu jari-jari roda, kuangkat tubuh dan kakiku hingga berhasil berdiri diatasnya.
"Kemarilah Julissa, aku akan membantumu," ucapku lagi, kuarahkan telapak tanganku padanya.
"Apa kau tidak bisa sedikit lebih seperti wanita?" gumam Zeki yang telah naik dari sisi lain kereta, duduk ia disamping tempatku berdiri.
"Kau tidak akan menjadi sedekat denganku seperti sekarang, jika aku bersikap seperti halnya para perempuan pada umumnya," ucapku yang juga ikut disampingnya.
"Aku sudah pernah mengatakannya bukan? kau akan berada dalam bahaya jika terlalu terlihat menonjol," ucapnya lagi, diangkatnya kepalanya keatas.
"Apa kau merasa tidak percaya diri menjagaku? Haruskah aku yang menjagamu?" ucapku menatapnya.
"Aku seorang pengecut bukan?" tukasnya, diletakkannya kepalanya di pundakku.
"Kau memang seorang pengecut," ucapku menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"Maaf."
"Itu bukan kesalahanmu, untuk apa meminta maaf jika itu sendiri bukan kesalahan yang kau perbuat."
"Lagipun, masih delapan tahun lagi bukan?"
"Kalian terlihat sedang bersenang-senang, apa aku salah, Tupai?" ucapnya berdiri dihadapan kami dengan lengan yang ia silangkan di dada.
"Tupai?" ucap Zeki mengangkat kepalanya lalu menatapku.
"Kau tahu, seperti panggilan kesayangan," ucapku mengalihkan pandangan darinya.
"Aku katakan, apa yang sedang mereka lakukan?" ungkap Izumi menatap ke arah Julissa, menggeleng Julissa dengan kuat seraya ikut membuang pandangannya dari Izumi.
"Sachi," sambungnya tersenyum menatapku.
"Apakah ada yang salah? kami hanya berkomunikasi sebagai tunangan. Kau juga bisa melakukannya dengan tunanganmu sendiri," ungkap Zeki balas menatap Izumi.
"Dia adikku, kau tahu."
"Dan dia tunanganku, setelah usianya menginjak tujuh belas tahun. Dia akan menghabiskan seluruh waktunya denganku."
"Aku tidak akan membiarkan adikku jatuh di tanganmu," ucap Izumi seraya memicingkan matanya ke arah Zeki.
"Maksudnya seperti ini," ucap Zeki, diraihnya pipi sebelah kiriku menggunakan telapak tangannya seraya diciumnya pipi sebelah kananku dihadapan Izumi.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Izumi menarik lenganku, digosok-gosoknya pipiku tadi menggunakan pakaiannya.
Apa ini? Selama hidupku, Ayah, Haruki maupun Izumi sering mencium dahiku. Tapi kenapa? kenapa juga ketika Zeki...
__ADS_1
Aaahh sialan, kembalilah normal jantungku. Dia hanya anak laki-laki berusia empat belas tahun.