
Kudaku kembali berjalan beriringan dengan kuda milik Haruki, kedua mataku masih melirik ke arah penduduk yang mencuri pandang menatapi kami. Haruki membawa kami menjauhi pasar, aku sedikit bernapas lega ketika pandangan-pandangan mata dari para penduduk itu berakhir.
“Ryu, bisakah kau menumbukan akar berduri lagi? Agar mereka berdua dapat menemukan kita,” tukas Haruki saat kuda yang ia tunggangi itu berjalan mendekati Ryuzaki.
Ryuzaki menganggukkan kepalanya, aku ikut melirik ke arah pandangan matanya yang terjatuh ke tanah. Akar berduri dengan setengah terbenam ke tanah tumbuh menjalar, memanjang dan terus memanjang tumbuh semakin menjauh. “Kita akan beristirahat di sini sambil menunggu mereka. Jangan lengah,” sambung Haruki dengan membuang pandangan ke arah Tsutomu, Arata dan juga Yuki.
Aku menggerakkan kudaku mendekati pohon yang tak terlalu jauh, kuarahkan tanganku menyentuh batang pohon tersebut. “Apa yang kau lakukan, Sachi?” bisik Lux saat aku mengangkat pandangan menatap dedaunan pada pohon tersebut.
“Aku hanya berpikir, jika saja aku bisa mengendalikan mereka seperti bangsa Elf yang lain. Itu mungkin lebih berguna dibanding sihir yang merugikan untukku sendiri,” gumamku dengan menggerakkan telapak tangan mengusap batang pohon itu kembali.
“Kalau benar begitu, maka aku akan merasa kasihan pada Kou,” sambung Lux yang membuatku mengerutkan kening.
“Apa maksudmu, Lux?” Aku balik bertanya dengan melirik ke sudut mata.
“Apa kau ingat, waktu pertama kali Kou menyembuhkanmu?”
“Aku sudah mengatakannya dulu, bukan? Jika sihir Naga akan mengikuti sihir Tuannya, Kou bisa menyembuhkanmu karena kau memiliki sihir itu. Bayangkan saja, bagaimana menderitanya Kou jika ketika dia mengeluarkan napas yang keluar justru akar berduri seperti Ryu. Kou mungkin akan mati dengan mulut terluka saat itu juga,” sambung Lux, aku menutup mulutku berusaha untuk menahan tawa akan apa yang ia ucapkan.
Aku mengangkat kembali tanganku mengipasi wajahku sendiri, “astaga Lux, aku bahkan tidak berpikir jauh sampai ke sana,” timpalku dengan menghela napas ketika kepalaku mendongak, “terima kasih, Lux. Kau benar, seharusnya aku lebih bersyukur dengan apa yang aku miliki,” sambungku sambil menggerakkan kudaku kembali mendekati mereka.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau merasakan sesuatu lagi?”
Aku menggelengkan kepala sembari menghentikan langkah kaki kudaku, “aku hanya ingin berteduh sejenak tadi, nii-chan,” ucapku menjawab perkataan Izumi yang menatapku.
“Sachi, katakan kepada Haruki … Banyak sekali manusia yang mendekat, penuh amarah. Katakan, aku merasakannya dengan sangat jelas, lebih baik setidaknya kita sambil berjalan menghindari mereka.”
__ADS_1
Aku tertegun ketika bisikan Lux terdengar, kugerakkan kudaku mendekati Haruki dengan membisikkan apa yang diucapkan Lux sebelumnya kepadaku. Haruki lama menatapku sebelum dia membuang pandangannya kembali ke arah Izumi dan yang lainnya, “kita akan tetap maju. Ryu, apa kau bisa melakukannya selagi kita melanjutkan perjalanan?” tanya Haruki yang mengarahkan pandangannya kepada Ryuzaki.
“Aku akan melakukannya sesuai perintah darimu, Kak. Serahkan semuanya kepadaku.”
“Jika kau lelah, beritahu aku saat itu juga, apa kau mengerti, Ryu?” tanya Haruki lagi yang langsung dibalas oleh anggukan kepala Ryuzaki.
“Semuanya, ikuti aku!” perintah Haruki ketika kuda miliknya telah berbalik lalu melangkah menjauh.
Kugerakkan kembali kudaku menyusul Haruki, kami terus melanjutkan perjalanan hingga kembali berhenti di sebuah bangunan yang terbuat oleh batu-batu yang disusun, “apa ini kuil?” bisikku saat kedua mataku mengarah kepada beberapa patung batu tak berbentuk yang tersusun di sepanjang jalan setapak menuju bangunan itu.
Aku tertunduk saat rasa sakit tiba-tiba menjalar di dadaku, kuangkat telapak tangan menekan dadaku itu yang kian sakit seiring, “Sachi,” bisik Lux kembali, aku terperanjat dengan secepat mungkin mengangkat kedua tangan menangkap tubuhnya yang jatuh dari atas pundakku.
“Pangeran!”
Aku mencoba melirik ke belakang, ke arah Ryuzaki yang telah hampir terjatuh dari kuda miliknya jika saja Arata tidak cepat menangkap tubuhnya. “Nii-chan,” suaraku bergetar, bibirku terbuka ketika rasa sakit dan sesak yang bercampur itu semakin menjadi-jadi.
“Nii-chan, ada sesuatu," ucapku terhenti, kugigit kuat bibirku sambil membenamkan wajahku di pundak Haruki, “ada, ada sesuatu di hutan. Ada sesuatu di hutan yang ada di samping bangunan itu. Bawa aku ke sana, bawa aku ke sana, nii-chan,” ungkapku dengan mengangkat wajah menatapnya.
“Apa kau yakin?”
Aku menganggukkan kepala dengan sangat perlahan, “bawa aku ke sana, kita … Tidak boleh melepaskan makhluk apa pun itu,” jawabku, embusan napasku semakin kuat saat aku menggenggam kuat pakaian yang ia kenakan.
“Aku mengerti,” sambung Haruki, dia memperkuat rangkulan tangannya di pinggangku sebelum mengangkatku duduk di hadapannya.
“Berpeganglah yang erat,” ucap Haruki kembali sambil menatapku.
__ADS_1
“Izumi, aku menitipkan mereka semua kepadamu. Kami, akan segera kembali.”
“Mau ke mana kalian? Jika kalian pergi, aku pun akan ikut!”
“Izumi! Mereka yang ada di sini lebih membutuhkanmu,” tukas Haruki lagi dengan pandangannya melirik ke arah Lux.
“Kau sudah siap?” Haruki mengalihkan pandangannya ke arahku, aku mengangguk pelan dengan semakin memperkuat genggaman tanganku di pakaiannya.
Baru beberapa langkah saja kuda tersebut berlari … Bangunan yang seperti Kuil itu telah menghilang entah ke mana. Yang ada di sekitar kami hanya hutan penuh pepohonan, “tempat apa ini?” gumam Haruki sambil menggerakkan pandangannya ke semua arah.
“Yang jelas, ini bukan lagi dunia manusia,” tukasku, aku meneguk air ludahku sendiri ketika kabut asap tiba-tiba menjalar mendekati kami.
Kabut tersebut semakin meninggi dan semakin meninggi hingga telah menyentuh leher kuda yang kami tunggangi, “nii-chan, apa kita sekarang telah berada di perbatasan Ardenis?”
“Mustahil, bagaimana bisa kita mencapai tempat itu dengan waktu yang sangat singkat.”
“Tapi nii-chan, apa kau lupa perkataan Sano? Perbatasan Ardenis, dikelilingi oleh kabut tebal. Apa kau yakin, kita tidak salah menerima informasi? Mungkinkah, ini perbatasan Ardenis?” tukasku beruntun kepada Haruki yang masih diam tak bersuara.
“Tapi, Kapten kapal itu mengatakan … Jika kita harus melewati dua kerajaan terlebih dahulu sebelum sampai ke sana.”
“Tapi dia tidak memberitahukan kita, di mana letaknya perbatasan itu. Mungkinkah yang dimaksud Kerajaan itu, hanyalah benteng? Benteng, melambangkan Kerajaan, bukan?”
“Dan juga, reaksi penduduk yang mencurigakan. Mereka seakan membiarkan para pendatang datang, karena mereka tahu jika para pendatang itu bisa hancur dengan sendirinya,” sambungku kembali kepada Haruki yang membalas tatapanku.
“Kau mungkin benar, kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana,” gumamnya, aku melirik ke arah genggaman tangannya yang semakin memenggam erat tali kekang.
__ADS_1
“Nii-chan, mari kita lupakan semua ini sejenak. Aku akan memanggil Kou, kita juga harus menemukan Tsubaru dan juga Tatsuya. Dan yang lebih penting, menghancurkan lalu menangkap makhluk yang membuatku sesak napas seperti ini. Jadi kakak, bantu aku untuk memburu mereka," tukasku, Haruki masih terdiam diikuti tatapannya yang masih terpaku menatapku.