
Kutatap salah seorang pasukan musuh yang berlari ke arah benteng, tubuh laki-laki itu terhenti saat panah dari salah satu pasukanku menembus mulutnya yang terbuka lebar. Laki-laki tersebut jatuh tersungkur ke depan diikuti ujung anak panah yang mencuat ke luar bagian belakang lehernya. Tubuhku tertarik ke belakang, kutatap Adofo yang telah berdiri di hadapanku. Kuarahkan kepalaku ke samping menatapi beberapa pasukanku yang telah mengalami nasib yang serupa.
“Adofo, apa kau baik-baik saja?” Tanyaku kepadanya dengan suara yang bergetar, kutatap empat buah anak panah tertancap di punggungnya saat dia berbalik membelakangiku. “Aku baik-baik saja. Jangan kehilangan konsentrasi Hime-Sama, ini pertempuran bukan arena bermain,” ucapnya tanpa menoleh ke belakang.
Dia benar. Ada apa denganmu Sachi? Sekali saja kau kehilangan konsentrasi, akan ada banyak nyawa yang menghilang.
Aku berbalik melangkahkan kaki meninggalkan mereka, kutatap para pasukanku yang menunggu di bawah benteng tengah mempersiapkan senjata-senjata yang akan kami gunakan untuk menyerang. “Apa kalian telah melakukan apa yang aku peritahkan?” Tanyaku dengan sedikit lantang kepada para Kesatria.
“Kami telah melakukannya, Hime-Sama,” ucap salah seorang Kesatria yang aku perintahkan untuk mengawasi pasukan.
“Bawa semuanya ke atas, kita akan mengakhiri ini semua dengan kekalahan mereka sekali lagi,” ucapku kembali lantang kepada mereka. “Sesuai perintah darimu, Hime-Sama.” Para Kesatria tersebut kembali bersuara menjawab perkataanku.
Aku kembali membalikkan tubuh, kedua kakiku kembali melangkah melewati Gritav dan juga Adofo yang berdiri mengawasiku. “Jangan lengah kalian semua! Tetap serang mereka apapun yang terjadi!” Aku berjalan dengan memberikan perintah, ikut kuangkat juga telapak tangan kananku ke arah para pasukan.
Aku melangkah maju dibandingkan sebelumnya aku berdiri, kuarahkan kedua mataku melirik pada tembok benteng yang hampir berlubang. Kugerakan kedua tanganku meraih busur panah yang menggantung di punggungku, kembali kugerakan tangan kananku meraih anak panah yang juga ada di punggungku. Kuarahkan anak panahku tadi melubangi kepala salah satu pasukan pejalan kaki musuh yang masih hendak berlari mendekat.
Kuambil anak panahku lagi, kuarahkan kembali anak panahku itu menembus dada salah satu pasukan yang lainnya. Adofo berdiri di samping kiriku dengan perisai yang ia dapatkan sedangkan Gritav berdiri di samping kananku dengan busur panahnya yang membantuku menjatuhkan pasukan musuh yang ada. Beberapa kali kelopak mataku terpejam, berusaha menahan keringat yang hendak jatuh ke mata.
Entah sudah berapa anak panah yang aku tembakkan, pandangan mataku kembali melirik ke arah beberapa pasukanku yang tengah sibuk menyiram pasukan musuh yang hendak memanjat naik dengan minyak panas yang mereka masak sebelumnya. Minyak-minyak panas yang jatuh menimpa tubuh para pasukan musuh tersebut dengan sekejap langsung melelehkan kulit-kulit mereka. Bahkan, bola mata mereka ikut mencair saat salah satu pasukan musuh sempat menoleh ke arahku sebelum dia terjatuh keras ke tanah.
Aku menundukkan kepala, suara terompet pertanda hari berakhir terdengar di telingaku. Kugerakan sebelah tanganku memukul-mukul pelan dadaku yang masih sedikit bergemuruh. Helaan napas kuat aku keluarkan saat aku mengangkat kembali kepalaku menatapi para pasukan musuh yang mulai berjalan menjauh. Telapak tangan kiriku bergerak menutupi wajahku saat terdengar teriakan riuh penuh semangat dari para pasukan yang aku pimpin.
__ADS_1
“Bisakah aku mendapatkan air? Aku merasa kesulitan bernapas,” ucapku pelan kepada Gritav, Gritav menatapku dengan sedikit tersenyum, “tentu, aku akan segera kembali mengambilkan air untukmu, Hime-Sama,” ucapnya seraya membalikan tubuh lalu berjalan pergi.
Aku kembali menjatuhkan pandangan kepada beberapa Kesatria yang tengah membahu mendorong beberapa batu besar yang menimpa mayat teman mereka. Dua dari mereka duduk berlutut menangisi kematian Kesatria yang tubuhnya tertimpa batu besar tadi. Dari pinggang hingga ke kaki, semuanya hancur … Tubuh Kesatria yang tertimpa batu tadi hancur dari pinggang hingga ke kaki.
“Hime-Sama,” suara Gritav kembali terdengar diikuti tepukan pelan di pundakku.
Aku berbalik lalu mengangkat tangan meraih gelas besi yang ia arahkan padaku, “terima kasih,” ucapku, kugerakkan gelas tadi mendekati bibirku lalu meminumnya.
_______________
Aku berjalan mendekati kursi yang telah dipotong keempat kakinya hingga menjadi pendek, kugerakan tubuhku menduduki kursi tadi dengan menjulurkan kedua kakiku ke depan. Tubuhku bergerak ke belakang hingga punggungku bersandar pada punggung kursi kayu itu. Kuarahkan kedua mataku menatap beberapa Kesatria yang tengah membuat api unggun untuk kami semua.
Aku ingin ini cepat berakhir. Tubuhku terasa remuk karenanya, berapa hari lagi yang harus kami lewati.
“Sachi!”
Suara teriakan laki-laki terdengar di telingaku, kupaksakan tubuhku yang enggan beranjak tadi bergerak ke arah suara yang memanggil namaku. “Ada apa nii-chan?” Tanyaku kepada Izumi yang telah melangkahkan kakinya mendekat.
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?” Dia berlutut di hadapanku seraya tangan kirinya yang mencengkeram pelan daguku tadi ia gerakan ke kanan dan ke kiri.
“Aku baik-baik saja nii-chan,” ucapku kepadanya, kuangkat telapak tanganku meraih pergelangan tangan kirinya tadi.
__ADS_1
“Maaf, aku baru menerima kabar kalian saat perang hari ini berakhir,” ucapnya terlihat lesu, “tidak apa-apa, aku mengerti keadaan kalian,” ucapku tersenyum menatapnya.
“Jadi nii-chan, bagaimana keadaan kalian?” Aku kembali bersuara, kugerakan tubuhku bersandar kembali ke kursi.
“Tidak seperti kemarin, jika kemarin mereka sama sekali tidak menyerang. Maka hari ini, mereka menyerang dengan menggunakan pasukan yang lebih sedikit dibandingkan hari pertama maupun kedua. Aku tidak menyangka, jika mereka memindahkan sebagian pasukan mereka untuk menyerang benteng utama. Sialan,” ucap Izumi mengepalkan telapak tangan kanannya lalu memukulkan telapak tangannya tadi ke tanah yang ada di sampingnya.
“Aku juga mendengar kabar tersebut,” ucapku, kugerakan kepalaku berusaha menghindari tatapan matanya.
“Apa kau yakin baik-baik saja?” Dia kembali bertanya padaku, “mana mungkin aku baik-baik saja, saat pasukanku hampir hancur karena mereka. Aku bahkan tidak bisa melindungi mereka sepenuhnya,” ucapku dengan suara bergetar.
“Aku tahu, jika itu sudah menjadi risiko mereka ketika memutuskan untuk terjun ke dalam perang. Akan tetapi, melihat teman-teman mereka menangisi mayat temannya tetap saja membuat dadaku sesak melihatnya,” sambungku diikuti helaan napas kuat yang keluar dari bibirku.
“Berikan kedua telapak tanganmu,” ucapnya, aku sedikit melirik ke arahnya yang telah mengangkat kedua telapak tangannya ke arahku.
Kugerakkan kedua tanganku menyentuh telapak tangannya, digenggamnya kuat telapak tanganku tadi olehnya, “Putri, semua ini bukanlah kesalahanmu. Percayalah pada pelayanmu ini,” ucap Izumi mengikuti gaya berbicara Tsubaru, kubalas tatapannya tersebut dengan sedikit senyuman yang aku keluarkan.
“Atau seperti ini, Putriku adalah anak yang baik, Ayah mengerti kesusahan yang kau rasakan,” kali ini dia mengikuti gaya berbicara Ayah kami.
“Aku menyukainya, apakah ada lagi?” Tanyaku sedikit antusias kepadanya, “apa ya?” Izumi terdiam sejenak diikuti kepalanya yang sedikit tertunduk.
“Bagaimana dengan ini,” sambungnya, Izumi terdiam sejenak lalu menghela napas panjang, “aku, ingin selalu melihatmu tersenyum, Darling,” ucapnya yang langsung tertunduk menahan tawa.
__ADS_1
“Apakah kau tidak bisa berhenti tertawa? Kau menyebalkan sekali, nii-chan,” ucapku memukul-mukul punggungnya, masih terdengar suara tawa Izumi yang semakin jelas mengetuk telingaku.