Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXCV


__ADS_3

“Izumi, kau … Kau tumbuh lebih tinggi dibanding Ibu sekarang,” tukas Ibu dengan menyentuh pipinya.


“Ibu,” ucap Izumi dengan mengangkat telapak tangannya menyentuh telapak tangan Ibuku, “apa kau, benar-benar Ibuku?” sambung Izumi kembali yang dibalas dengan anggukan pelan dari Ibu.


Izumi dengan serta-merta memeluk kuat Ibu diikuti kepalanya yang terbenam di pundak Ibu, “aku sedang tidak bermimpi, bukan? Kau benar-benar Ibuku, bukan?” tukas Izumi kembali dengan suara yang hampir sulit terdengar.


Ibu berbalik ke samping dengan tubuhnya memeluk Izumi, “Izumi, masih menganggap Ibu sebagai Ibumu, bukan?”


“Ampuni Izumi, Ibu. Ampuni semua kata-kata kasar yang dulu selalu aku ucapkan padamu … Aku menyesal, aku sungguh-sungguh menyesal melakukannya,” tangis Izumi dengan wajahnya yang masih enggan terangkat dari pundak Ibu.


“Ibu bahkan sudah lama sekali memaafkanmu. Putraku, apa kau masih memikirkannya?” balas Ibu yang juga ikut turut menangis memeluk Izumi.


“Pukul saja aku, Ibu. Marahkan saja aku, Ibu … Tapi kumohon, maafkan Izumi,” sambung Izumi dengan mengangkat wajahnya dari pundak Ibu, “aku, benar-benar menyayangimu, Ibu. Jangan meninggal sebelum aku kehilangan nyawaku … Karena aku, tidak akan memaafkan diriku sendiri,” tangis Izumi lagi dengan menundukkan wajahnya.


Ibu mengangkat kedua tangannya memegang pipi Izumi, “hatiku, justru sakit mendengarmu mengatakannya, Izumi. Ibu, hanya ingin melihat semua anak-anakku bahagia … Karena itu, bahagialah untuk Ibumu ini. Lihatlah, mata abu-abumu akan terlihat lebih indah tanpa air mata,” tukas Ibuku sambil mengusap kedua mata Izumi bergantian menggunakan telapak tangannya.


Ibu berbalik ke samping dengan mengangkat sebelah tangannya, “Haruki,” ungkap Ibu sambil masih menatap Haruki yang masih tertunduk.


Izumi melepaskan pelukannya pada Ibu lalu mengangkat kedua tangan mengusap matanya. Ibu berjalan mendekati Haruki ketika pelukan Izumi terlepas darinya, “Haru-chan,” tukas Ibuku dengan suara yang terdengar gemetar saat Haruki berjalan mundur menghindarinya.


“Apa sekarang, Haruki membenci Ibu?”


Haruki masih terdiam, lengannya bergerak menutupi hidung diikuti wajahnya yang terbuang ke samping, “aku … Tidak pantas untuk berada di dekatmu, Ibu,” wajah Haruki tertunduk diikuti kedua lengannya terangkat menutupi wajahnya.


“Aku terlalu banyak melakukan kesalahan padamu, Ibu. Aku terlalu malu untuk menatap wajahmu,” sambung Haruki dengan suara bergetar menusuk telinga.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan? Haruki, sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun pada Ibu,” tukas Ibu sambil tetap berjalan mendekatinya.


“Aku dulu, hanya memanfaatkan Ibu … Aku berpura-pura menyayangimu, agar Ibu tidak perlu memperhatikan Izumi. Aku, terlalu munafik untuk menjadi Putramu.”


“Haruki. Mendekatlah, nak! Selama ini, tak ada sehari pun tanpa Ibu memikirkanmu. Apa Haruki, benar-benar tidak menyayangi Ibu?”


Haruki mulai berjalan mendekat lalu berhenti dengan duduk berlutut di hadapan Ibu, “maafkan Haruki, Ibu. Maaf, karena selalu menyusahkanmu,” tangis Haruki, dia meraih kedua tangan Ibu lalu menempelkannya di keningnya.


“Harusnya Ibu yang meminta maaf, maafkan Ibu karena tiba-tiba meninggalkan kalian begitu saja,” Ibu ikut menangis, dia berjongkok dengan menyentuh kepala Haruki yang tertunduk.


“Haruki menyesal, Ibu … Haru-”


Ibu langasung memeluk Haruki saat perkataannya yang sempat terucapkan itu terhenti, “apa kau makan dengan baik? Putraku, tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tampan,” tukas Ibu sambil mengusap tengkuk Haruki yang membenamkan wajah di pundaknya.


“Ibu bahagia melihatmu baik-baik saja, Putraku.”


Aku tertunduk dengan mengusap kedua mata lalu berbalik ke belakang saat suara Ayah terdengar. “Ardella, mereka baru saja pulang dari perjalanan, biarkan mereka beristirahat,” sambung Ayah dengan tetap melanjutkan langkah kakinya mendekat diikuti beberapa orang Kesatria yang berjalan di belakangnya.


Ibu menundukkan wajahnya lalu mengangkat kedua tangannya mengusap mata bergantian, “Ayah kalian benar, beristirahatlah … Ibu, akan memasakkan makan malam untuk kalian,” ucapnya yang beranjak berdiri saat Haruki juga telah beranjak berdiri di sampingnya.


“Eneas, namamu Eneas, bukan?” sambung Ibu sambil membuang pandangannya kepada Eneas, “sama seperti yang lain, panggil aku Ibu juga,” ucap Ibu yang dibalas anggukan pelan dari Eneas.


Ayah berjalan dengan menghentikan langkahnya di depan Haruki, dia mengangkat telapak tangannya menepuk pundak Haruki sebelum Ayah berjalan melewatinya. “Kemarilah Ardella! Mereka pasti ingin membicarakan banyak hal, dan aku pun … Ingin memakan cemilan yang dulu sering kau buatkan untukku,” ungkap Ayah mengangkat tangannya menyentuh punggung Ibu yang telah berdiri di sampingnya.


Ayah jalan berdampingan dengan Ibu diikuti beberapa Kesatria yang berjalan di belakang mereka. “Jadi Sachi, jelaskan pada kami … Apa yang sebenarnya terjadi?” tukas Izumi yang tiba-tiba bersuara terdengar.

__ADS_1


Aku melirik ke arahnya yang telah melangkah mendekat, “ceritanya panjang, nii-chan … Dan juga, Ibu bukan satu-satunya yang aku bawa pulang.”


“Apa maksudmu, Sa-chan?” sambung Haruki yang mendongakkan wajahnya diikuti sebelah lengannya mengusap kedua matanya itu.


“Ikuti aku,” ucapku berbalik lalu melangkahkan kaki meninggalkan mereka.


Aku terus melangkah disusul suara langkah kaki yang mengikuti dari belakang. Langkah kakiku terhenti di depan sebuah pintu cokelat penuh ukiran, “Tsubaru, Arata … Apa kalian berdua ada di dalam?” tukasku yang masih saja berdiri menatapi pintu itu.


Berselang, pintu itu terbuka … Tsubaru dengan segera membungkukkan tubuhnya saat dia menoleh ke arahku. “Masuklah nii-chan,” ucapku sembari berjalan masuk ke dalam ruangan.


“Ryu, pakaian itu cocok sekali untukmu,” tukasku yang tersenyum sambil melangkahkan kaki mendekati Ryuzaki yang duduk menatapku dari atas ranjangnya.


Aku duduk di samping ranjang sembari kurapikan selimut yang menutupi kedua kakinya. “Sa-chan, apa yang sebenarnya terjadi? Dan, siapa dia?”


Aku menoleh lalu melirik ke arah mereka bergantian, “dia saudara kembarku, nii-chan. Dia lahir, tak lama berselang ketika Ibu kembali ke dunianya. Dia hanya bisa berbicara menggunakan bahasa Latin, maksudku … Bahasa yang sering digunakan oleh makhluk selain manusia,” tukasku sambil membuang kembali pandangan kepada Ryuzaki yang juga ikut melirik ke arah mereka.


“Ryu, mereka berdua kakak kita … Haruki dan Izumi. Dan dia, Eneas … Adik kita,” ucapku sambil mengangkat telapak tangan ke arah Haruki, Izumi dan juga Eneas bergantian.


“Sachi, apa kalian … Keturunan Elf?”


Aku kembali melirik ke kanan ketika suara Lux tiba-tiba terdengar mendekat, “kau mengenal Elf, Lux?” Aku balik bertanya saat dia telah terbang di hadapanku.


“Aku mengenal mereka, dulu … Nenek moyang kami, menjaga Robur Spei bersama-sama. Dan sekarang, aku bahkan merasakan sihir yang sama seperti Ibumu di dalam tubuhmu,” ucap Lux kembali kepadaku.


“Aku, tidak mengerti apa yang kalian maksudkan?”

__ADS_1


Aku berbalik menoleh ke arah Izumi yang terlihat sangat kebingungan dari tempatnya berdiri, “Ibu, bukanlah manusia, nii-chan. Dan kami berdua, juga bukan sepenuhnya manusia,” aku menghentikan sejenak perkataanku sebelum aku menarik napas dalam menatapi mereka, “aku, akan menceritakan semuanya … Bagaimana aku dapat bertemu dengan mereka, dan bagaimana aku bisa mengetahui semuanya,” sambungku kembali dengan menatap mereka bergantian.


__ADS_2