Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLII


__ADS_3

Aku berjalan mengikuti langkah kaki mereka yang berjalan di hadapanku. Aku melirik ke kiri, ke arah seorang perempuan yang terlihat bersembunyi memperhatikan kami dari kejauhan sebelum kedua kakiku berjalan memasuki tenda. “Kalian ingat untuk melakukan apa setelah ini, bukan?” Tukas Haruki, aku melirik ke arahnya yang telah membaringkan tubuhnya di sehelai kain lebar.


“Apa kau yakin ini akan berhasil?” Izumi berjalan mendekatinya dengan meraih sebuah lipatan kain di dekat Haruki.


Haruki berbaring dengan beralaskan lengan sebagai bantalnya, “kemungkinan, akan gagal,” ungkap Haruki bergerak menyamping membelakangi kami.


Aku melangkah mendekat lalu duduk di dekat mereka, “sepertinya aku paham apa yang kau maksudkan itu, nii-chan,” ungkapku sembari meluruskan kaki, ikut kugerakkan telapak tangan memijat-mijat kakiku yang sudah mengejang itu.


“Seperti yang diharapkan dari saudari kita,” timpal Haruki yang telah kembali membalikkan tubuhnya ke arah kami.


Izumi meletakkan lipatan kain yang dia ambil ke atas kepalanya, “aku tidak begitu paham apa yang kalian maksudkan,” ucapnya tertunduk dengan menggosok-gosokkan lipatan kain tadi di rambutnya yang basah.


“Aku harus menunggu Lux untuk memastikannya,” tukasku sambil mengusapi kening yang dipenuhi keringat.


Aku menoleh ke arah Haruki, “nii-chan,” ucapku hingga dia melirikkan matanya ke arahku.


“Apa kau, menebarkan pesonamu pada salah seorang perempuan yang ada di sini?” Tanyaku lagi yang dibalas keningnya yang mengerut menatapku.


“Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan,” ucapnya dengan melirik ke arah Izumi, “mungkin itu Izumi,” sambungnya kembali yang dibalas tatapan melotot dari Izumi.


“Duke akan mengadu kepada Ayah jika dia mengetahui aku menggoda perempuan saat tunanganku ada di sini. Ayah akan menguliti aku hidup-hidup, jika dia tahu aku mempermainkan perempuan,” ungkap Izumi, dia menggoyangkan kepalanya hingga rambutnya sedikit bergerak sebelum dia menyisir rambutnya itu menggunakan telapak tangannya sendiri.


“Lagi pun, apa yang sebenarnya kau maksudkan, Sachi,” ucapnya lagi dengan meletakkan kain yang ia gunakan untuk mengusap kepala ke samping tubuhnya.


“Aku melihat-”


Perkataanku terhenti saat tirai tenda terbuka, Eneas berjalan masuk dengan membawa sebuah keranjang anyaman besar berisi buah di tangannya. “Untunglah kau membawa buah Eneas, perutku sudah lapar sekali,” ucap Izumi saat Eneas telah duduk di hadapan kami.

__ADS_1


“Ada seorang perempuan yang memberikannya padaku, aku menerimanya saja karena tidak mengerti apa yang ia katakan,” ucap Eneas meletakkan keranjang penuh buah tadi ke hadapan kami.


“Surat,” aku menoleh ke arah Izumi yang kembali bersuara, “heh, aku tidak menyangka, jika adik laki-laki kita ini, akan mendapat pengagum secepat itu, “ ucap Izumi lagi, dia menyerahkan selembar kulit yang sebelumnya dia baca kepada Haruki.


Aku melirik ke arah Haruki yang telah beranjak duduk menatapi lembaran kulit di tangannya, “apa kau bodoh, Izumi,” ucap Haruki meletakkan kertas yang terbuat dari kulit tadi di atas tumpukan buah yang ada di keranjang.


Aku meraih kertas tersebut, kutatap gambar seorang laki-laki dan perempuan yang tengah bergandengan tangan, terlukis di kertas tersebut. “Apa maksudmu?” Tukas Izumi yang membuat pandangan mataku beralih padanya.


“Eneas akan tumbuh tampan setelah beberapa tahun lagi. Apa kau tidak bisa melihatnya?”


“Izu nii-chan, memang tidak akan mengerti perihal seperti ini,” ungkapku menimpali perkataan Haruki.


“Apa kau tidak bisa melihatnya, nii-chan? Hidungnya yang mancung, matanya yang besar dan bola matanya yang hitam pekat itu. Bibirnya yang penuh, terutama gingsul yang terlihat sangat manis ketika dia tersenyum. Aku bertaruh, Eneas akan menjadi rebutan para wanita ketika dia dewasa,” ucapku dengan melirik ke arah Eneas yang meraih kertas kulit yang ada di tanganku.


“Aku tidak paham, apa yang sedang kalian bahas,” ungkap Eneas, dia kembali meletakkan kertas kulit yang ada di tangannya itu ke samping keranjang yang ada di hadapan kami.


“Kau akan menjadi orang pertama yang menangis jika aku menikah lalu pergi meninggalkan rumah, nii-chan. Jadi, sayangilah adikmu ini, sebelum seorang laki-laki datang membawaku pergi,” ungkapku beranjak dengan meraih Apel yang ada di keranjang.


Aku berjalan mendekati ranjang, “Lux, rupanya kau ada di sini. Aku menunggumu dari tad-” ungkapku terhenti, aku berjongkok di dekat ranjang kayu diikuti jari telunjukku yang bergerak menyentuhnya.


Tubuh Lux sedikit terhentak saat jariku menyentuh kepalanya, “Sachi,” ucapnya menoleh dengan mengedipkan matanya berulang kali, “kalian telah sampai?” Sambung Lux lagi, dia beranjak duduk dengan mengusapi kedua matanya.


“Apa kau tidak menyadari kedatangan kami?” Aku beranjak berdiri lalu duduk di pinggir ranjang menatapnya.


“Aku terlalu lelah karena membawa botol tersebut pulang-pergi. Lagi pun, cuaca dingin membuatku sulit menahan kantuk,” ungkapnya dengan menutup mulutnya yang menguap lebar menggunakan telapak tangan.


“Apa itu Lux?” Lux beranjak terbang ketika suara Haruki terdengar.

__ADS_1


“Apa kau sudah melakukan hal yang aku perintahkan?” Sambung Haruki lagi padanya.


“Aku telah melakukannya,” ucap Lux, masih kutatap bayangannya yang telah mendarat di atas tumpukan buah.


“Di mana mereka meletakkan tas-tas kami?” Bisik Haruki sedikit membungkukkan tubuhnya menatapi Lux.


“Aku hanya mengetahui letak tas Sachi dan juga Eneas. Itu karena mereka berdua menyimpan obat herbal maupun racun di dalam tas mereka, karena itu … Aku dapat dengan mudah menemukannya, sedangkan untuk tas milikmu ataupun Izumi, aku tidak menemukannya,” ungkap Lux terdengar.


“Seperti dugaanku,” timpal Haruki, dia kembali mengangkat tubuhnya duduk dengan tegap.


“Sepertinya mereka sudah waspada jika kita bisa kabur sewaktu-waktu,” tukasku ikut menimpali perkataan Haruki, aku meletakkan apel yang aku genggam ke samping.


“Jika itu yang kalian khawatirkan, kita hanya tinggal mencari tas kita sebelum pergi,” Haruki menggelengkan kepalanya ketika Izumi selesai berbicara.


“Terlalu berisiko, nii-chan,” aku kembali beranjak lalu berjalan mendekati mereka.


“Walau Eneas mengatakan jika racun itu hanya bisa bertahan sehari, itu tidak menutup kemungkinan jika dia pulih lebih cepat dibanding perkiraan.”


“Lagi pun, jika kita dipinta kembali berlatih, waktu kita akan habis sia-sia,” aku menganggukkan kepala saat Haruki menimpali perkataanku.


“Dan juga, aku bertaruh jika mereka akan lebih ketat mengawasi kita setelah apa yang terjadi. Salah satu cara hanyalah, kita harus melarikan diri dari sini malam ini juga,” aku berbisik saat aku telah kembali duduk di dekat mereka.


“Jadi, apa kau telah menyimpan rencana di dalam kepalamu itu, adikku?” Haruki tersenyum dengan mengangkat pandangannya menatapku.


“Sesuai ajaran dari kalian, wahai Kakak-kakakku. Jika ingin kotor, maka kotorlah sepenuhnya.”


“Karena itu, aku ingin kita semua melakukan hal ini untuk nanti malam,” aku sedikit bergerak maju dengan setengah berbisik ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2