
“Lalu, siapa kau?” Aku balik bertanya kepadanya.
Aku berjalan sedikit maju dengan melirik tajam ke arah rusa yang ada di belakang tubuhku saat dia hendak berjalan mendekati. “Kau, campuran,” ucapnya, langkahku yang hendak mendekatinya terhenti saat bola matanya berubah menjadi hitam pekat.
Aku menunduk dengan memeluk tubuhku sendiri saat angin kencang tiba-tiba menerpa tubuh. Kedua mataku membesar tatkala tanah yang aku pijak bergetar kuat, aku melirik ke sekitar … Ke arah pepohonan yang tiba-tiba tumbuh tinggi menjulang mengelilingi.
Lupakan padang rumput, keadaan di sekitar telah berubah menjadi hutan suram yang terlihat tak pernah dijamah oleh sesuatu. Aku bergerak mundur, dan semakin mundur ke belakang saat akar belukar penuh duri, merambat di tanah, berusaha untuk mendekatiku.
Jantungku bergemuruh, suara Kou pun sama sekali tak terdengar menyentuh pikiranku. Dengan cepat aku berbalik lalu berlari menyelip di antara sekawanan rusa. Kedua kakiku semakin cepat bergerak, lalu kadang menghindar ke kanan dan ke kiri, hanya untuk menghindari semak-semak berduri yang hendak menangkapku.
Langkahku terhenti saat semua pohon yang ada di sekitar bergerak, mereka merapatkan diri satu sama lainnya hingga membentuk sebuah dinding rapat yang menjulang tinggi ke atas. Aku berbalik, ketika bunyi gemerasak terdengar dari arah belakang. Napasku semakin tak beraturan ketika semak-belukar yang mengejarku itu semakin mendekat.
Aku kembali berbalik, dengan semua sisa-sisa tenaga yang aku miliki … Aku mencoba memanjat dinding-dinding dari pohon itu. “Ah, sakit,” bisikku lirih menahan sakit, ketika tubuhku terjatuh ke atas semak berduri yang mengejarku itu.
Aku melirik ke atas, ke arah dinding pohon yang bagian tengahnya terbuka lebar layaknya sebuah mulut yang hendak menelanku sebelumnya. Mulut menganga pada pohon tadi bergerak secara perlahan, menutup dengan sendirinya. Aku sedikit mencoba beranjak, kuangkat telapak tanganku mengusapi telinga sembari kugenggam kembali telapak tanganku tadi yang telah penuh akan darah.
__ADS_1
Aku beranjak lalu berdiri dengan merapatkan diri pada dinding pepohonan. Tubuhku gemetar hebat menahan sakit, tangan kiriku mencengkeram lengan kananku sendiri, dengan sesekali mencabuti duri-duri yang terbenam di tubuh sebelah kananku.
Aku menghela napas, genggaman tangan di lenganku itu semakin menguat saat angin yang berembus ikut turut seperti menusuk-nusuk luka-luka yang ada di lenganku. Aku menatap kosong ke depan, ke arah semak-semak berduri yang menghampar di hadapanku itu. “Apa yang harus aku lakukan? Jika aku memanjat, pohon-pohon itu akan menelanku. Jika aku berjalan mundur, semak-semak itu akan menghancurkan tubuhku dengan perlahan."
Aku menggigit kuat bibirku tatkala aku, mencoba untuk beranjak berdiri kembali. Dengan perlahan, aku berjalan ke samping sembari menyandarkan tubuh di dinding pepohonan itu. Air ludahku semakin mengering … Aku berjalan seperti tanpa ujung. Semakin aku melangkah, semakin aku tersadar jika aku hanya berkeliling di tempat yang sama.
Aku kembali duduk, kepalaku mendongak sedikit ke atas, “Kou, datanglah! Aku membutuhkanmu,” bisikku pelan dengan kembali menundukkan kepalaku. Aku mencengkeram kuat lenganku, “Ibu, apa kau baik-baik saja? Tunggulah sebentar lagi, aku akan menyelamatkanmu,” sambungku berbisik lirih dengan kembali menyandarkan tubuh di dinding popohonan yang ada di belakang.
“Pohon sialan! Semak sialan! Apa kau pikir, dua hal ini akan membuatku putus asa, kau rusa sialan! Tunggu saja, kau akan kubuat menjadi santapan para Manticore!” teriakku kuat dengan memukul pohon yang ada di belakangku.
Aku menarik napas dalam sebelum beranjak berdiri lagi. Ketika aku melangkah maju, semak berduri itu ikut maju mendekat. Aku berdiri menyamping, dengan sekali hentakan napas … Kedua kakiku berlari cepat, lalu melompat saat semak belukar itu hendak menghalangi jalanku. Aku terus melakukan hal itu berulang-ulang sebelum aku menarik napas panjang lalu mempercepat lariku menuju sebuah tangkai pohon yang sedikit menjulur ke depan.
“Jadi seperti itu,” gumamku dengan tetap menatapi kulit pohon yang mulai menutup kembali.
Aku melirik ke sekitar, kugerakkan kembali tubuhku beranjak berdiri di atas ranting pohon yang sebelumnya aku duduki. Aku mengangkat kedua tanganku ke atas, berusaha untuk meraih ranting pohon yang tumbuh tak terlalu jauh dari ranting pohon yang aku tempati. Tubuhku bergelantung saat kedua tanganku tadi telah meraih ranting kayu tersebut, aku menarik napas dalam sebelum kugerakkan tubuhku memanjat ke ranting itu.
__ADS_1
Aku menundukkan pandangan saat aku telah berhasil duduk di ranting tadi, kugerakkan telapak tanganku mengusap keningku yang penuh akan peluh. Berkali-kali aku mencoba meneguk air ludahku sendiri yang telah hampir mengering saat aku pun berusaha untuk mengatur kembali napasku yang tak beraturan tersebut.
“My Lord!”
Kepalaku terangkat dengan cepat saat suara Kou tiba-tiba terngiang di kepalaku. Aku kembali tertunduk dengan mengusap kedua mataku yang telah basah tanpa aku sadari. Bayangan putih di langit bergerak cepat mendekat, diikuti serpihan-serpihan berkilau yang dengan sekejap membekukan semak-semak berduri yang menghampar di bawahku.
“Kau lama sekali,” ucapku gemetar sambil menatapnya dengan pandangan mengabur.
Kou berjalan mendekat di atas kepingan es yang ia buat, matanya yang merah menyala menatapku itu … Terlihat telah siap menghancurkan apa pun yang membuatku seperti ini. “Maafkan aku, My Lord. Beberapa saat yang lalu, aku tiba-tiba kehilanganmu. Terima kasih, karena telah memanggilku,” ungkapnya sembari menggerakkan wajahnya mendekat.
Tubuhku terangkat ke atas sebelum Kou menurunkanku di punggungnya. Aku memeluk lehernya sembari kutatap ekornya yang kembali bergerak ke belakang setelah melilit tubuhku. “Mereka tidak ada di sekitar sini. Kau, dibuat oleh mereka agar menjauh dari para makhluk-makhluk itu,” ucap Kou berjalan mundur menjauhi dinding pohon.
Kou mengepakkan sayapnya dengan sangat kuat, membawaku terbang ke udara. Dia membuka mulutnya hingga serpihan-serpihan es berterbangan ke udara membentuk suatu dinding kristal yang berkilau. Kou dengan cepat, terbang menerobos kristal tadi hingga terdengar suara seperti pecahan kaca yang terdengar.
Aku melirik ke belakang, tubuhku tertegun saat terlihat sebuah dinding kaca transparan yang melengkung di atas hutan tersebut. Retakan di dinding kaca itu semakin melebar hingga akhirnya hancur berkeping-keping, memperlihatkan hamparan rumput yang sebelumnya aku lihat.
__ADS_1
Pelukanku di leher Kou semakin menguat saat dia terbang lebih cepat dibanding sebelumnya. “Kau, ingin membawaku ke mana, Kou?” tanyaku dengan menatap ke arah lehernya.
“Ke tempat, di mana mereka yang memperlakukanmu seperti ini berada, My Lord,” ucap Kou yang kembali mengepakkan sayapnya dengan kuat.