Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXVI


__ADS_3

Ebe kembali menarik tanganku berenang di tengah-tengah tatapan para duyung yang memandang, mataku yang awalnya melirik ke arah mereka kembali kugerakkan menatap lurus ke depan.


Kakiku mendayung pelan saat dua duyung laki-laki bertubuh besar menghadang kami. Ebe melepaskan genggamannya sembari tubuhnya bergerak mendekati dua duyung tadi, kutatap mereka yang tampak saling beradu pendapat satu sama lain.


"Apa yang terjadi di sini?" suara laki-laki tiba-tiba terdengar, aku berbalik ke belakang menatap seorang duyung laki-laki yang berenang mendekati kami.


"Kakak," ucap Ebe, ia berenang mendekati duyung tadi.


"Apa yang kau lakukan Ebe? Dan siapa dia?" Ucapnya dengan sedikit mengarahkan pandangannya melirik padaku.


"Dia temanku, aku yang membawanya ke sini," jawab Ebe sembari ikut menatapku.


"Dia manusia."


"Lalu kenapa? Apa kau tidak..." Ucap Ebe terhenti, dia menggerakkan wajahnya mendekati laki-laki yang ia panggil Kakak sebelumnya.


"Apa kau yakin?" Tanya laki-laki itu saat menjauhkan kepalanya kembali dari telinga laki-laki itu.


Ebe berbalik lalu berenang kembali mendekat, duyung laki-laki itu juga ikut berenang mendekati kami. Aku tidak tahu apa yang mereka bisikan, rasa lelah di kakiku membuatku tak memikirkan apapun untuk saat ini.


"Sachi, kau ingin aku papah kembali?" Ungkap Ebe dengan menepuk kedua pundaknya bergantian.


"Rapikan terlebih dahulu rambutmu, atau mereka akan memenuhi wajahku nantinya," ucapku berenang pelan mendekatinya, Ebe mengangkat kedua tangannya meraih rambutnya yang mengambang di sekitar kepalanya.


Aku berenang semakin mendekati Ebe dengan melingkarkan lenganku di lehernya. Ebe menarik kembali tangannya yang menahan rambutnya sebelumnya, lalu berenang ke depan menyusul laki-laki tadi yang telah berenang mendahului kami.


"Apa dia Kakakmu?" Ucapku pelan saat Ebe telah membawaku berenang melewati dua duyung penjaga tadi.


"Dia, kakak sepupuku. Ayahnya, adalah Kakak Ibuku. Seperti itulah," ucap Ebe menjawab pertanyaanku.


Aku kembali menatap lurus ke depan, sebuah bangunan terbuat dari susunan reruntuhan batu berdiri kokoh di hadapan kami. Ebe berenang maju melewati sebuah gerbang besar tanpa pintu yang ada di hadapan kami...

__ADS_1


Tempat ini, lebih tepatnya hanyalah sebuah tumpukan batu yang disusun melingkar. Tak ada atap seperti sebuah kuil pada umumnya, hanya saja... Pandangan mataku terjatuh, pada sebuah meja kaca berbentuk kubus di samping Kakeknya Ebe.


"Mendekatlah ke sana Sachi, aku akan menunggumu di sini," ucap Ebe, kuangkat kedua tanganku yang melingkar di lehernya, aku berenang maju ke depan saat Ebe bergerak ke samping memberikan jalan untukku.


Kedua kakiku berhenti mendayung, pandanganku kembali tertuju pada meja kaca yang ada di hadapanku itu. Tampak di permukaannya, terdapat sebuah lubang dengan beberapa ukiran tulisan mengelilinginya.


"Letakkan, kristal jiwa itu di sana," ucap Kakeknya Ebe melirik ke arahku.


Aku menundukkan kepala, kugerakkan kedua tanganku membuka ikatan pada pakaianku yang menyelimuti bola kaca sebelumnya. Kuraih bola kaca itu dengan sebelah tanganku sembari kuletakkan bola tadi di atas lubang kecil yang ada di atas permukaan meja itu.


Aku melirik ke arah laki-laki tua itu yang meraih tanganku lalu digerakkannya tanganku itu menggesek kuat ujung meja yang tajam. Kugigit kuat bibirku, kepalaku seakan tertusuk saat air laut telah membawa darah yang keluar dari lenganku itu.


Laki-laki itu kembali menggerakkan jarinya, saat dia melakukannya... Sebuah gelang terbuat dari air telah mengelilingi lukaku, dan kembali... Luka di lenganku itu menghilang olehnya.


Jari telunjuk laki-laki tua itu kembali bergerak, kali ini... Perlahan demi perlahan, darahku yang awalnya telah menyebar, menyatu dengan air laut bergerak terkumpul kembali berbentuk sebuah bola kecil yang terbuat dari darah.


Bola dari darahku itu bergerak, menyelimuti bola kaca yang aku letakkan di atas meja. Pandangan mataku tertegun, saat ukiran tulisan yang ada di atas meja itu tiba-tiba berubah warna menjadi merah pekat.


Aku tertegun, pemandangan di sekitar membuatku tertegun. Aku tidak tahu ini di mana? Tapi dengan banyaknya pepohonan, mungkinkah ini hutan? Tapi, kenapa aku bisa sampai ke sini?


"Eneas, jangan memakannya. Tubuhmu masih belum kuat untuk memakan racun ini," terdengar suara laki-laki dari arah samping, aku berbalik menatap seorang laki-laki paruh baya tengah berjongkok di depan anak laki-laki.


"Tapi kenapa Ayah?" Suara laki-laki kembali terdengar, aku berbalik menatap Eneas yang telah berdiri dengan kepala tertunduk.


"Tapi kenapa Ayah?" Kali ini suara anak kecil yang terdengar, kubalikkan pandanganku menoleh ke arah anak laki-laki dan laki-laki paruh baya tadi.


"Eneas," ucapku berbalik mengejarnya saat dia berjalan meninggalkanku.


"Eneas," ucapku lagi, Eneas menghentikan langkahnya lalu berbalik ke belakang.


"Eneas, pulanglah denganku," sambungku mengarahkan sebelah tanganku mendekati telapak tangannya.

__ADS_1


Kugigit kuat bibirku sembari tanganku yang bergerak mendekatinya tadi kugenggam dengan sangat erat. Hatiku sesak, saat mataku melihat tangannya yang bergerak menembus tubuhku.


Aku kembali berlari menyusulnya, tanganku yang mencoba meraih tangannya bergerak sia-sia. Kuangkat sebelah tanganku yang menembus tubuhnya tadi...


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


Mataku kembali membesar saat kurasakan angin kuat tiba-tiba berembus, hutan yang sebelumnya mengelilingi tiba-tiba menghilang tergantikan dengan sebuah pantai. Eneas terus melangkah maju, tubuhnya perlahan demi perlahan basah oleh air laut saat tubuhnya semakin tenggelam oleh air laut itu.


Aku berlari cepat menyusulnya, tubuhku jatuh ke belakang saat kurasakan sebuah dinding tak terlihat menabrak tubuhku. Aku segera beranjak berdiri kembali, kugerakkan tanganku dengan kuat memukul-mukul dinding tak terlihat yang ada di hadapanku itu.


"Eneas!" Teriakku memanggilnya.


"Eneas!" Teriakku lagi, semakin kuat kedua tanganku memukul-mukul dinding tak kasat mata yang ada di hadapanku.


"Eneas!"


"Kau adikku bukan?" Sambungku, aku terduduk menatapnya yang masih melangkahkan kakinya.


"Dengarkan perkataan Kakakmu ini Eneas. Berbaliklah, kembalilah lagi bersama kami," tangisku menatapnya, sebelah tanganku masih bergerak memukul-mukul dinding tak terlihat di depanku.


"Aku akan memasakkan makanan apapun yang kau inginkan, aku akan memberikan barang apapun yang kau inginkan. Aku akan..." Ucapku terhenti, air mataku semakin deras keluar saat air laut itu telah mencapai lehernya.


"Kembalilah Adikku, kumohon. Izu nii-chan, Haru nii-chan, Lux, bahkan Cia menunggumu. Aku..." Ucapanku terputus, tangisanku semakin pecah saat...


"Sachi," sebuah suara samar terdengar, aku membuka kedua mataku pelan saat suara tersebut kembali terdengar di telinga.


"Di mana aku?" Ucapku menggerakkan mata melirik ke arah Ebe yang duduk di sampingku.


"Di kamarku. Kau, tak sadarkan diri saat..."


"Bisakah kau meninggalkanku sendirian saat ini Ebe. Kumohon," ucapku memotong perkataanya, kuangkat lengan kananku menutupi mata.

__ADS_1


"Baiklah. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu," suaranya kembali terdengar, kali ini sedikit lebih jelas di telingaku.


__ADS_2