
"Apa yang terjadi?" Ucapku kembali pada mereka saat Izumi melepaskan pelukannya dariku.
"Kau jatuh dari atas perahu, dan hampir tenggelam tadi... Zeki menyelamatkan mu," ucap Izumi membalas perkataanku.
"Benarkah?" Ungkapku menundukkan kepala dengan sebelah tanganku menggenggam pasir yang menghampar di sekitar.
"Terima kasih," ucapku menggerakkan kepala menatapnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Ucapku kembali, aku merangkak mendekatinya yang tengah duduk di belakang Izumi.
"Aku baik-baik saja, ini hanya luka gores," ucapnya saat aku memegang pelan lengan pakaiannya yang telah berubah merah.
"Apa karena kau menyelamatkanku?" Ungkapku menggerakkan jari-jemariku perlahan mendekati sobekan di lengan pakaian yang ia kenakan.
Aku membuka ikatan pita yang mengikat rambutku sebelumnya, kuarahkan kain pita tadi melilit lengan Zeki yang terluka. Wajahku bergerak mendekati kain pita tadi sembari kugigit lalu kutarik kain pita tersebut agar semakin kencang mengikat luka di lengannya.
"Apa yang kau dapatkan Aydin?" Terdengar suara Aydin, aku berbalik menatap mereka yang tengah berdiri dengan Aydin menggerakkan sebelah tangannya bergerak di udara.
"Aku tidak tahu, aku tidak mendapatkan apapun. Aku mencari angin untuk mengetahui arah laut, akan tetapi... Kalian rasakan saja sendiri," ucap Aydin, Izumi mengangkat sebelah tangannya ke atas.
"Aku tidak terlalu mengerti apa yang kau katakan," ucap Izumi kembali menurunkan telapak tangannya tadi.
"Angin berembus dari semua arah yang ada, aku tidak tahu tempat apa ini... Tapi ini benar-benar mengerikan, bagaimana tidak? Seharusnya sekarang kita berada di tepi pantai sekarang. Tapi lihatlah sekarang kita ada di mana," ucap Aydin menggerakkan pandangannya pada gurun pasir yang mengelilingi kami.
__ADS_1
"Apa kau dapat berdiri?" Suara Zeki terdengar di telingaku, kuraih telapak tangannya tadi yang mengarah ke arahku sembari sebelah tangannya merangkul pinggangku saat aku mencoba beranjak berdiri.
"Putri, bagaimana menurutmu?" Ungkap Aydin menggerakkan kepalanya menatapku.
"Aku tidak merasakan apapun di sekitar sini," ucapku melepaskan genggaman di telapak tangan Zeki.
Aku berjalan mendekati mereka bertiga dengan Zeki yang juga melangkahkan kakinya di belakangku. Haruki berbalik menatapku, tangannya bergerak memberikan tas kulit cokelat milikku yang berada di tangannya.
Ku raih tas yang ada di tangan Haruki sembari kuarahkan tas tersebut menggantung di pundakku. Aku menoleh ke belakang saat kurasakan beberapa kali tepukan pelan yang menyentuh kepala, kulirik Zeki yang tengah menggerakkan telapak tangannya mengusap kepalaku berulang-ulang.
"Jadi, ke mana kita akan pergi?" Ucap Izumi menatapi Haruki dan juga Aydin bergantian.
"Bagaimana ke kanan? Atau kiri?" Ungkap Aydin ikut mengalihkan pandangannya pada Haruki.
"Baiklah, kita ke kiri. Apa kau baik-baik saja?" Ucap Haruki menatapku, diangkatnya sebelah tangannya menyentuh daguku sembari digerakkannya ke kanan dan ke kiri wajahku olehnya.
"Aku baik-baik saja," ucapku saat Haruki mengangkat sebelah tangannya tadi dariku.
"Sebaiknya, kita pergi sekarang. Lebih cepat, lebih baik bukan?" Ungkap Aydin menggerakkan ibu jarinya menunjuk ke arah yang akan kami tuju.
Kami berlima melangkah menyusuri gurun pasir yang menghampar. Jika saat di gurun pasir sebelumnya udara yang terasa sangatlah panas, di sini jelas terasa berbeda... Walaupun gurun pasir, udaranya terasa sama seperti udara di Kerajaan kami. kugerakkan tanganku meraih lalu menggenggam jubah Zeki yang berjalan di sampingku.
"Apa ini?" Ungkap Izumi menghentikan langkahnya di sebuah gundukan pasir yang sedikit tinggi.
__ADS_1
Haruki dan juga Aydin ikut menaiki gundukan pasir tersebut dengan sangat perlahan. Mereka menyusul Izumi yang sudah lebih dahulu menuruni gundukan pasir itu dari sisi sebelah pada gundukan tersebut.
Digenggamnya telapak tanganku oleh Zeki, kuraih lalu kugenggam telapak tangannya tadi dengan kedua tanganku. Kami berdua melangkah perlahan menaiki gundukan pasir yang rapuh itu, berkali-kali aku hampir terjatuh karena setiap kakiku menginjaknya... Semakin banyak juga pasir yang turun terjatuh.
"Hati-hati," ucap Zeki semakin memegang kuat telapak tanganku saat kami berdua melangkah menuruni gundukan pasir tersebut.
Aku melangkah mendekati Haruki saat Zeki melepaskan genggaman tangannya dariku. Kedua mataku tertegun melihat apa yang ada di sekeliling kami. Haruki menggerakkan tubuhnya berjongkok, lama ia menatap sebuah tengkorak manusia yang setengah terkubur oleh pasir yang ada.
"Ini seperti kuburan massal," Ucap Izumi ikut berjongkok dengan menatapi sebuah tengkorak dengan rahang panjang yang mencuat dari balik pasir.
"Lihatlah ke sini," terdengar suara Aydin, aku bergerak mengikuti langkah kaki Haruki, Izumi dan juga Zeki yang juga telah melangkahkan kaki mereka mendekati Aydin.
"Ini kapal bukan? Tapi kapal ini terbuat dari besi bukan kayu," ucap Aydin memukul-mukul tangannya pada badan kapal yang dipenuhi karat.
Entah bagaimana? Tapi di sini, banyak sekali bangkai kapal yang terdampar. Mulai dari yang dibuat menggunakan kayu, hingga besi seperti yang sedang ditatap oleh mereka. Bahkan, tengkorak-tengkorak itu? Apakah mungkin mereka adalah orang-orang atau hewan-hewan yang juga terdampar di sini sama seperti kami?
"Kalian, kemarilah!" Teriak Zeki, aku membalikkan pandangan menatapnya yang tengah berjongkok menatap sesuatu dengan sebelah tangannya menyapu pasir yang ada di dekatnya.
"Ada apa?" Ucap Haruki ikut duduk berjongkok di sampingnya.
"Lihatlah," ucap Zeki mengarahkan kedua tangannya mengangkat sebuah lempengan batu yang tertimbun dalam pasir tadi.
"Sa-chan, apa kau dapat membacanya?" Ucap Haruki menggerakkan kepalanya menatapku.
__ADS_1
Aku kembali melangkahkan kaki semakin mendekati mereka. Kedua kakiku bertekuk ikut berjongkok di samping Zeki, Zeki mengangkat batu tadi di hadapanku. Kutatap lama batu tersebut dengan jari telunjukku bergerak menyentuh ukiran yang hampir mengabur pada lempengan batu tersebut.