Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLIII


__ADS_3

“Aku, tidak peduli akan apa yang akan kalian lakukan setelah kami pergi. Jika kalian ingin bersekutu dengan Kaisar pun, aku tidak mempermasalahkannya,” ucapku yang melemparkan pandangan ke arah Pangeran Ryszard, “akan tetapi, jangan salahkan siapa pun jika saja … Apa yang terjadi pada Ardenis, ikut terjadi kepada kalian. Dan juga, berhati-hatilah pada alam, entah apa yang akan dilakukan oleh alam untuk seorang pemimpin yang tamak sepertimu.”


“Sebenarnya, aku ingin sekali langsung menghancurkan Kerajaanmu ini. Sayangnya, jika aku tidak memikirkan mereka yang tidak bersalah, kau … Pasti sudah musnah bersamaan dengan Kerajaanmu ini,” ucapku yang juga berbalik dengan melangkah pergi menyusul Haruki.


Aku melangkah keluar dari dalam ruangan, langkah kakiku kembali berhenti ketika kedua mataku itu terjatuh ke arah Haruki yang tengah duduk berjongkok di halaman yang ada jauh di depan pintu. Langkahku berlanjut mendekatinya, “apa yang kau lakukan, nii-chan? Apa kau memanggil Kakek?” tanyaku sambil melirik ke arah gundukan kecil tanah yang tak terlalu jauh dari kakinya.


Haruki masih terdiam, dia berdiri di sampingku sambil tetap mengarahkan pandangan matanya itu ke arah gundukan yang ia buat. Pandangan mataku, teralihkan ke arah batang pohon yang terbelah menjadi dua. Aku turut membungkukkan tubuh mengikuti Haruki saat dia juga telah membungkukkan tubuhnya ke arah bayangan yang keluar dari batang pohon tersebut.


“Apa, terjadi sesuatu kepada kalian?”


Aku kembali mengangkat tubuhku saat suaranya itu terdengar, “kakek, kami tidak bisa membicarakannya di sini,” ucap Haruki yang diikuti lirikan matanya ke sekitar.


“Tidak perlu khawatir, aku … Akan segera tahu jika ada seorang manusia yang datang,” tukas kakek, aku melangkah semakin mendekati Haruki saat akar belukar tiba-tiba tumbuh di permukaan tanah yang mengelilingi kami.


“Kami, dikhianati oleh pemimpin Kerajaan ini, Kakek,” ungkap Haruki sambil menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada kami sebelumnya.


"Kami, ingin pergi meninggalkan tempat ini. Namun, jika kami pergi begitu saja ... Tidak ada yang tahu, apa yang akan dilakukan Raja tersebut tanpa sepengetahuan kami," sambung Haruki dengan kepalanya yang tertunduk.


"Kau ingin kakek, mengawasi mereka?"


Aku melirik ke arah Haruki yang diam tertunduk tak menjawabnya, "kakek mengerti. Kalian bisa pergi saja dari sini, serahkan semuanya pada Kakek. Sedikit pun, kabar mengenai keberadaan kalian tidak akan bisa keluar dari sini. Kakek pastikan itu."

__ADS_1


"Namun," ucapnya lagi yang melirik tajam ke arahku, "bawa laki-laki tersebut padaku. Ajak dia menemuiku saat ini juga, dan untukmu Haruki, ajak yang lain keluar dari sini! Kakek akan mengantar mereka berdua jika urusan di antara kami telah selesai," ungkap Kakek sambil berbalik, berjalan kembali masuk ke dalam batang pohon.


“Nii-chan,” ucapku sambil menoleh ke arahnya.


Aku mengangkat telapak tanganku saat Haruki sendiri pun telah mengangkat telapak tangannya. Dia menunduk sambil menuliskan satu per satu huruf di atas telapak tanganku itu, “berjuanglah?” tanyaku, ketika jari jemarinya itu berhenti bergerak.


Haruki melangkah maju, “jika Kakek marah, karena kau tidak mendengarkan perintahnya. Kau, masih ingat, apa yang diperingatkan oleh Duke kepada kita, bukan?” bisik Haruki yang membuat pandangan mataku tertunduk.


Haruki mundur beberapa langkah, dia tersenyum sebelum berbalik lalu melangkah meninggalkan aku yang masih berdiri sendirian. Aku, menarik napas dalam sebelum melanjutkan kembali langkah kakiku berjalan mengikuti Haruki dari belakang.


Aku turut menghentikan langkah saat Haruki pun melakukan hal yang sama, kuangkat telapak tanganku melambai sambil tatapan mataku mengarah ke arah Zeki yang berdiri di samping Adinata. Kening Zeki berkerut ketika gerakan lambaian tanganku itu semakin cepat, “kau lamban sekali, cepat ikuti aku!” ucapku berjalan mendekati sambil menarik tangannya.


“Ke mana? Aku, harus memerintahkan para Kesatriaku untuk bersiap pergi dari sini.”


“Ayolah Zeki, cepat sedikit!” seruku lagi, genggaman tanganku yang menarik tangannya itu semakin kuat tatkala mata kami berdua kembali bertatap.


Zeki menghela napas sebelum melangkah melewatiku, “kau ingin mengajakku ke mana?” tanyanya, ketika kami berdua telah berjalan sedikit menjauh dari mereka.


“Ada seseorang yang ingin berkenalan denganmu,” ucapku pelan diikuti cengkeraman tanganku di lengannya yang semakin menguat.


“Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?” Dia balas bertanya sambil menoleh menatapku.

__ADS_1


“Siapa, orang yang ingin berkenalan denganku itu?” tanyanya lagi kepadaku.


Aku menarik napas sambil membuang pandangan ke samping, “seorang laki-laki,” ucapku setengah berbisik dengan wajah tertunduk.


Aku turut berhenti bergerak, ketika dia yang berjalan di sampingku itu menghentikan langkahnya, “jangan katakan, itu salah satu dari laki-laki yang mengejarmu? Siapa lagi orang itu? Harus berapa banyak lagi, laki-laki yang menjadi sainganku?” tanyanya beruntun yang membuatku mengangkat pandangan.


“Dia, seorang laki-laki yang sangat dekat dengan keluargaku. Sangat dekat sekali,” jawabku pelan sambil tetap membuang pandangan ke samping.


“Lalu, siapa orang itu? Apa, menjawabnya sangatlah berat untukmu?”


“Aku, tidak bisa mengatakannya di sini. Lebih baik, kita langsung saja pergi menemuinya,” sambungku, aku mempererat rangkulan tanganku di lengannya sebelum menarik tubuhnya itu berjalan semakin mendekati pohon yang di mana sebelumnya aku dan Haruki bertemu kakek.


Batang pohon itu kembali merekah ketika aku dan juga Zeki telah menghentikan langkah di depannya, “apa ini, Sachi?” bisik Zeki sambil menoleh ke arahku.


“Jalan masuk, bahkan kedua kakakku pun belum pernah ke sini. Jadi,” ungkapku terhenti sambil mengangkat jari telunjuk mendekati bibir.


Aku melangkah maju dengan menarik lengan Zeki melewati lubang menganga yang dibuat oleh batang pohon yang merekah itu. “Kau, membawaku ke mana?” Zeki kembali berbisik setelah kami melewati pohon tersebut.


Aku melemparkan pandangan ke sekitar, hamparan rumput yang membentang terlihat memanjakan mata. Namun, bukan itu maksud tujuanku datang ke mari … Di mana kakek? Dia memintaku untuk datang ke sini mengajak Zeki, tapi dia sendiri yang tidak diketahui keberadaannya.


Aku menarik lengan Zeki ke arah kiri ketika kelopak-kelopak kecil bunga berterbangan di sekitar. Semakin kami berjalan maju, semakin jelas juga tercium bau semerbak dari bunga-bunga tersebut. Kedua kakiku terus melangkah diikuti mataku yang melirik ke bawah, ke arah akar merambat yang bergerak pelan di sela-sela rerumputan yang ada.

__ADS_1


Langkahku terhenti dengan menahan kuat lengan Zeki ketika tatapan mataku terjatuh ke arah barisan Elf yang berdiri menatapi kami. Dan, apa kalian tahu? Apa yang lebih membuatku tak habis pikir. Sebuah singgasana besar terbuat dari lilitan akar penuh bunga, berdiri kokoh di tengah-tengah barisan Elf tersebut.


“Astaga, sebenarnya apa yang beliau lakukan?” gumamku pelan dengan membuang pandangan ke arah Kakek yang duduk menatap kami dari singgasana akar yang besar itu.


__ADS_2