Fake Princess

Fake Princess
Chapter XXVIII


__ADS_3

"Semuanya telah siap, Putri. Lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" ungkap Tsutomu seraya membawa sabut kelapa di hadapanku


"Bisakah kau membuat lubang kecil di sisi bagian bawah kendi itu, Tsutomu. Dan letakkan bambu kecil ini di lubang yang telah kau buat, hal ini bertujuan supaya air nya bisa mengalir ke luar dari dalam kendi..." tukasku seraya memberikan potongan kecil bambu berlubang yang aku dapatkan dari Lux sebelumnya


"Tentu.." balas Tsutomu seraya meletakkan sabut kelapa yang di bawanya sembari mengambil potongan bambu yang ada di tanganku


Berbalik dan berjalan Tsutomu menjauh, duduk ia berjongkok di depan kendi seraya melakukan apa yang aku perintahkan padanya...


"Putri, kami sudah melakukan seperti apa yang diperintahkan." Tukas Tsubaru sembari membawa semangkok besar arang atau karbon aktif yang mereka hasilkan.


"Kalau begitu, bantu aku membawanya kesana.." ucapku seraya mengarahkan jari telunjuk ke arah Tsutomu


"Tentu, Putri." balas Tsubaru seraya berbalik dan berjalan menjauh


Kulangkahkan kakiku mengikuti langkah kaki Tsubaru yang telah terlebih dahulu berjalan di depanku...


"Apa kau telah selesai, Tsutomu?" ucapku seraya berjalan mendekati nya


"Aku telah menyelesaikan nya, Putri.." ungkapnya seraya beranjak berdiri


"Putri, kami telah membersihkan pasir, kerikil dan juga pecahan genteng, seperti yang telah Putri perintahkan..." ucap salah satu warga berjalan ke arahku yang diikuti dengan warga lainnya di belakangnya


"Kalau begitu, kalian perhatikan dan ingat ini baik-baik..." tukasku seraya menatap mereka


"Tsubaru, tolong masukkan secara berurutan batu kerikil, sabut kelapa, arang atau karbon aktif, sabut kelapa, pecahan genteng, sabut kelapa, pasir dan sabut kelapa lagi ke dalam kendi.." ucapku seraya mengalihkan pandangan kepada Tsubaru


Tsubaru melakukan nya sama persis seperti yang aku perintahkan. Diangkatnya kendi tadi dengan dibantu warga desa ke atas meja kecil yang berdiri di pinggir sumur.


Seorang laki-laki aku pinta untuk menuangkan air ke dalam kendi saringan yang kami buat. Air yang semula keluar berwarna keruh perlahan-lahan berubah jernih...

__ADS_1


"Ini kenyataan bukan?" Ucap seorang pria seraya menahan haru


"Putri, ini bukan khayalan kami bukan?" Ucap warga yang lain seraya menatapku yang kubalas dengan anggukan kepala


"Terima kasih... Terima kasih..." Tukas mereka bergantian seraya menutup mata mereka yang tampak memerah menggunakan telapak tangan


"Jika kendi ini kembali mengeluarkan air yang keruh, kalian ambil dan keluarkan isi di dalamnya lalu ganti dengan yang baru. Dan ingat, susunan nya harus sama seperti yang aku beritahukan sebelumnya." Ungkapku yang dibalas dengan anggukan kepala dari mereka


_________________


Kubuka kedua kelopak mataku, beranjak aku bangun seraya merangkak keluar dari dalam tenda. Hari ini, hari terakhir kami berada disini. Semua barang-barang kami sudah dipindahkan semua oleh para Ksatria ke atas kereta tadi malam.


Berjalan dan duduk aku di samping Tsubaru, kusentuh pelan lengan kirinya menggunakan jariku seraya memanggil namanya berulang kali.


"Tsubaru.." tukasku sekali lagi sembari menyentuh lengannya beberapa kali


"Putri? Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Ucapnya terbangun seraya mengusap kedua matanya


"Baiklah, Putri. Tunggulah sebentar, Tsubaru mu ini akan menyiapkan semuanya." Tukasnya seraya beranjak berdiri dan berjalan ke arah kereta


Dituntunnya aku oleh Tsubaru berjalan menyusuri desa, sebuah gaun kecil berwarna biru tampak menggantung di lengan kirinya. Berhenti kami di depan sumur, dilepaskannya genggaman tangannya dari tanganku..


"Bisakah kau memegang gaun ini sebentar, Putri?" Ucapnya seraya memberikan gaun yang dipegangnya padaku


"Tentu.." balasku seraya meraih gaun yang ada di tangannya


Berjalan dan berdiri Tsubaru di depan sumur, diambilnya ember kayu kusam berlilit tali yang tergeletak di tanah. Dimasukkannya ember kayu kusam tadi ke dalam sumur beberapa saat dan ditariknya kembali ke atas. Dituangkannya air yang ia dapatkan ke dalam kendi saringan air, sebuah kendi lainnya yang tergeletak di bawahnya tampak sudah dipenuhi oleh air yang berasal dari kendi saringan yang terletak di atasnya.


Diambilnya sedikit demi sedikit air yang berada di dalam kendi oleh Tsubaru, dituangkannya air yang diambilnya tadi ke dalam ember kayu berukuran sedang yang ditemukannya tergeletak di samping rumah warga. Diangkat dan dibawanya air tersebut ke sebuah bangunan kecil berbentuk segi empat terbuat dari kayu yang sudah lapuk.

__ADS_1


"Tunggu aku sebentar, Tsubaru. Aku akan mandi dengan sangat cepat." Ucapku seraya masuk dan menutup rapat pintunya


____________


Tsubaru kembali menuntunku menyusuri desa, di lengan kirinya kembali tergantung gaunku yang sudah kotor. Tampak terlihat dari jauh Haruki, Izumi dan yang lainnya tengah berbicara pada warga desa. Berjalan aku dan Tsubaru mendekati mereka..


"Apa ada masalah, nii-chan?" Ucapku melepaskan genggaman tangan Tsubaru seraya berjalan ke arah Haruki dan Izumi


"Tidak ada masalah, hanya berpamitan." Ucap Haruki singkat


"Putri, tidak bisakah kau tinggal bersama kami?" terdengar suara anak perempuan diiringi genggaman pelan di tangan kananku


"Maaf, tapi aku harus pulang dan menemui Ayahku. Jika kalian nanti datang ke Ibukota Kerajaan, kalian bisa bertemu lagi denganku.." ucapku menoleh kearahnya seraya menggenggam telapak tangannya


"Benarkah?" ucapnya kembali menatapku


"Aku berjanji.." balasku seraya tersenyum menatapnya


Kulepaskan genggaman tanganku di telapak tangannya, berbalik dan berjalan aku menuju ke Kepala desa yang berdiri tepat di hadapan Haruki.


"Kakek.." ucapku menatapnya


"Orange marmalade dan permen kulit jeruk yang kita buat kemarin, besok sudah dapat dipasarkan. Aku menyarankan kalian untuk menjualnya ke kedai-kedai yang menjual roti di kota-kota besar. Setelah kalian mendapatkan uang yang cukup, kalian dapat membeli buah-buahan yang lain seperti nanas, strawberry maupun blueberry dan membuatnya menjadi selai dengan proses pembuatan yang sama seperti yang aku ajarkan..."


"Kalian harus berkerja sama satu sama lain untuk membangun desa kalian kembali, laki-laki maupun perempuan mempunyai kewajiban yang sama untuk menyelamatkan desa kalian..."


"Kakek, kumohon jangan menyiksa perempuan yang ada di desa ini lagi..." ucapku seraya meraih dan menggenggam tangannya


"Jika kalian menyakiti perempuan, itu sama seperti kalian menyakiti ku. Karena aku, juga terlahir sebagai perempuan..."

__ADS_1


"Aku menitipkan desa ini padamu, Kakek. Kumohon jaga mereka semua untukku..." ucapku seraya tersenyum menatapnya


"Kami pamit pulang, jaga diri kalian baik-baik" ucapku seraya menatap ke arah mereka


__ADS_2