
“Nii-chan, apa kau telah membungkus semua makanannya dengan benar,” ucapku yang berjalan mendekati Izumi yang tengah membungkus sebuah rantang kayu berbentuk segiempat menggunakan kain berwarna merah.
“Aku telah melakukannya, dan … Bisakah kau menutup sedikit mulutmu itu?” Dia membalikan wajahnya menatapku.
“Aku lelah sekali, aku ingin beristirahat,” ucapku mengabaikan perkataanya, kuraih salah satu kursi yang ada di sana lalu mendudukinya.
“Aku tidak menyangka jika kau, nii-chan … Akan membantuku memasak, apa karena kau ingin sekali Ayah mengakui kemampuan memasakmu it...” Ucapanku kembali terhenti saat kurasakan pukulan yang menyentuh kepalaku, “kau benar-benar menjengkelkan nii-chan,” ucapku meletakan wajah bersandar di atas meja seraya sebelah tanganku mengusap-usap kepalaku berulang-ulang.
“Aku hanya bersikap seperti itu pada adikku,” ucapnya dengan kedua tangannya bergerak mengangkat kain merah berisi penuh dengan makanan yang kami masak.
“Cepatlah, Ayah mungkin telah menunggu kita,” ucapnya, kugerakan kepalaku menoleh ke arahnya yang berdiri di samping pintu menungguku. Aku beranjak berdiri dengan menggerakan kaki berjalan mendekatinya, “aku malah tidak yakin, mereka telah bangun saat ini,” ucapku melangkahkan kaki melewatinya.
Aku dan Izumi berjalan menelusuri lorong Istana, langkah kaki kami terhenti di ruang kerja yang Ayah kami gunakan, “Ayah, apa kau ada di dalam?” Izumi menggerakan sebelah tangannya mengetuk pelan pintu berwarna putih yang ada di hadapan kami itu.
“Masuklah,” tukas suaranya yang terdengar dari balik pintu.
Aku melangkahkan kaki sedikit maju ke depan saat Izumi menoleh ke arahku, kuangkat tangan kananku membuka pintu tersebut lalu berjalan masuk disusul oleh Izumi di belakang. “Kami membawakan makanan untukmu, Ayah,” ucap Izumi berjalan semakin mendekatinya, kugerakan kedua kakiku mengikuti langkah kakinya saat pintu ruangan itu kembali kututup.
“Kalian memasaknya sendiri?” Tanya Ayahku, dia beranjak berdiri dari meja kerjanya lalu berjalan mendekati kursi yang ada di tengah ruangan.
Izumi meletakan bungkusan tadi ke atas meja yang ada di hadapan Ayahku itu, “kami memasaknya agar Ayah dapat memakannya sebelum pulang,” ucap Izumi bergerak duduk di kursi yang berseberangan dengan Ayahku.
__ADS_1
Aku melangkah mendekati Izumi lalu duduk di kursi yang ada di sampingnya, “Ayah,” ucapku menatapnya, aku bergerak sedikit maju membuka ikatan di kain yang menyelimuti rantang kayu tersebut.
“Ada apa?” Dia balik bertanya saat aku menggerakan tangan membuka dan menyusun rantang kayu berisi berbagai macam makanan itu ke arahnya, “apa Ayah yakin?” Aku kembali bersuara dengan mengarahkan sebuah sapu tangan berisi sumpit kepadanya.
“Katakan dengan lebih jelas, Putriku,” ucapnya meraih sapu tangan putih yang aku berikan tadi.
“Apa Ayah yakin ingin mengajak Luana dan juga Sasithorn pulang ke Sora?”
“Apa yang kau maksudkan?” Izumi bersuara, aku bergerak menoleh ke arahnya, “aku hanya mengkhawatirkan keselamatan mereka, akan lebih aman jika tetap tidak ada yang mengetahui di mana keberadaan mereka,” ucapku beranjak berdiri, kugerakan kakiku berjalan mendekati meja kerja Ayahku.
“Haruki pun mengatakan hal yang sama, Tapi kelak mereka akan menjadi Putriku juga, karena itulah aku mengajak mereka tinggal di Sora, agar nanti … Ketika mereka telah menikah dengan Kakakmu, mereka telah terbiasa dengan semua kehidupan di Kerajaan kita,” ucap Ayahku meletakan sapu tangan putih yang menyelimuti sumpit tadi ke atas meja di sampingnya.
“Mereka nanti akan tetap beradaptasi cepat atau lambat selama tinggal di sana,” ucapku berjalan mendekatinya dengan sebuah teko berserta cangkir yang aku ambil di atas meja kerjanya, “akan tetapi, pikirkan juga kesela...”
“Ayah, pasti telah memikirkan semuanya dengan sangat matang,” ucapnya kembali melirik ke arahku, kugigit kuat bibirku sebelum mengalihkan pandangan darinya.
“Ayah, kumohon Ayah … Kenapa Ayah tidak mengerti apa yang aku maksudkan, di sana … Maksudku di Sora, itu adalah tempat yang paling tidak aman sepanjang yang aku tahu,” ucapku beranjak berdiri lalu melangkah pergi.
“Sachi! Apa seperti itu caramu berbicara kepada Ayah? Di mana sopan santunmu?!” Izumi beranjak berdiri menatapku, “jika Sora adalah tempat yang aman, Ibu kita tidak akan mati terbunuh! Jika Sora adalah tempat yang aman, kita tidak akan lari dari rumah hanya untuk bertahan hidup,” ucapku dengan suara bergetar, kugigit kuat bibirku yang bergetar mengikuti suara yang aku keluarkan.
“Tubuhku tidak ada bekas luka seperti ini, itu hanya karena Kou selalu mengobatinya. Tapi walaupun semua bekas lukanya menghilang … Aku, aku masih mengingat jelas semua rasa sakitnya.”
__ADS_1
“Saat tubuhku dipanah musuh, saat pisau menancap di belakang pundakku, saat tanganku patah atau saat aku kehilangan semua ingatan yang aku miliki. Aku, mengingat semuanya Ayah, nii-chan,” tangisku, kugerakan lengan kiriku mengusap kedua mataku.
“Aku, tidak ingin jika ada yang harus menjadi korban lagi. Aku, tidak ingin jika apa yang terjadi pada keluarga kita terulang kembali. Aku takut memikirkan semuanya, aku takut … Membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya,” ucapku dengan sedikit sesenggukan, aku berbalik membuka pintu lalu melangkah keluar.
Langkah kakiku terhenti saat kutatap Haruki yang telah berdiri di samping pintu menatapku, “ikuti aku,” ucapnya melangkahkan kaki meninggalkan aku.
Aku ikut melangkahkan kaki di belakangnya, Haruki membuka pintu balkon … Kuarahkan kedua tanganku saling bersilang di dada saat udara dari luar berembus masuk ke dalam. “Apa yang kau lihat, mendekatlah,” ucapnya yang telah menggerakan tubuhnya duduk di atas pagar batu yang ada di balkon tersebut.
Aku berjalan mendekatinya seraya kuarahkan kedua tanganku saling berpangku di atas pagar batu itu, “ada apa nii-chan? Apa ada yang ingin kau bicarakan?” Ungkapku kembali, kuangkat sebelah tanganku memangku wajah.
“Seharusnya, kau lebih berhati-hati. Jangan tiba-tiba langsung meluapkan semua yang kau rasakan dalam satu waktu,” ucapnya mengangkat pandangan matanya menatap langit.
“Aku, telah memberitahukan padamu bukan? Untuk menahan diri hingga aku telah berhasil mengumpulkan semua informasi.” ucapnya melirik ke arahku, kugerakan kepalaku menghindari lirikannya tadi.
“Aku, hanya tidak ingin ada yang jatuh menjadi korban lagi. Apa aku salah melakukannya?” Aku kembali bersuara pelan.
“Tidak ada yang salah, aku pun sebenarnya telah meminta Ayah untuk memikirkannya lagi. Tapi mungkin Ayah melakukannya karena kita tidak ada bersamanya, mungkin Ayah merasa kesepian karena anak-anaknya tidak berada dekat dengannya.”
“Dengan mengajak Luana dan juga Sasithorn ke Sora?” Aku balik bertanya padanya. “Ayah telah mengatakannya kepadamu bukan? Mereka berdua telah menjadi Putrinya karena aku dan Izumi telah memutuskan untuk menikahi mereka,” ucap Haruki menyandarkan tubuhnya bersandar di pagar batu yang ada di balkon dengan kedua tangannya yang bersilang ke dada, “Kemungkinan Ayah akan membawa mereka tinggal di yayasan yang sama dengan yayasan yang Yoona tinggali. Jadi, tidak akan ada yang tahu jika mereka berdua adalah tunangan kami,” ucapnya kembali menatap padaku.
“Aku mengerti,” ucapku melangkahkan kaki meninggalkannya, “kau mau pergi ke mana Sa-chan?”
__ADS_1
“Meminta maaf kepada Ayah,” ucapku kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti.