
Izumi melangkah maju mengikuti Haruki dengan sebelah tangannya memapah tubuh Eneas yang berjalan di sampingnya. Kugerakkan kepalaku ke arah kanan, "bagaimana kabar kalian?" Tanyaku pada Sasithorn yang berjalan di sampingku.
"Kami baik-baik saja. Saat aku hendak pulang kembali ke Kerajaan, beberapa orang laki-laki memintaku mengikuti mereka atas perintah Pangeran Izumi," ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Syukurlah kalian semua baik-baik saja, aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan kalian," sambungnya kembali, kepalanya masih tertunduk dengan kedua telapak tangannya bergerak saling menggenggam kuat.
"Bagaimana denganmu sendiri, Kak Luana?" Tanyaku, kepalaku bergerak ke arah kiri menatapnya.
"Aku sama baiknya, mereka juga memenuhi semua kebutuhan kami," balasnya sambil tetap menatap lurus ke depan.
Aku masih menatap lama dia, Luana menggerakkan kepalanya membalas tatapanku, "ada apa?" Tanyanya dengan sedikit mengerutkan dahinya.
"Ini hanya perasaanku, atau kau..." Aku kembali menatap lurus ke depan, merasa enggan untuk melanjutkan perkataan.
"Maaf," ungkapnya, perkataannya membuatku mengalihkan kembali pandanganku padanya.
"Aku ingin meminta maaf untuk semua sikap egois yang aku lakukan dahulu. Terima kasih, aku masih dapat hidup seperti sekarang, karena kalian semua," sambungnya membuang pandangan saat aku lama menatapnya.
"Keadaan kalian baik-baik saja sudah cukup untuk kami," ucapku kembali pada mereka berdua.
Sasithorn memintaku untuk mengikutinya saat Haruki, Izumi dan juga Eneas berhenti lalu masuk ke suatu ruangan. Luana sendiri telah pergi menyusul laki-laki berpenampilan perempuan yang aku lihat di depan rumah sebelumnya.
"Apakah dia Cia?" Sasithorn kembali membuka suaranya, kubalas tatapannya itu dengan anggukan pelan dariku.
"Apa Izu nii-chan menceritakannya padamu?" Tanyaku yang juga dibalas anggukan kepala darinya.
"Izumi, maksudku Pangeran Izumi ... Dia mengirimkanku surat, memberitahukan jika kalian menemukan seorang gadis kecil yang memiliki mata sama persis seperti dirinya," ucap Sasithorn, sebelah tangannya bergerak mengusap kepala Cia yang berjalan di tengah-tengah kami.
__ADS_1
"Seharusnya, kalian telah menjadi kakak iparku bertahun-tahun yang lalu."
"Tidak apa-apa, aku akan mendukung semua keputusan Kakakmu. Aku akan menunggunya, jika dia memintaku untuk menunggunya. Aku telah menunggunya selama lima belas tahun, menunggunya sedikit lebih lama ... Bukanlah masalah besar untukku," ucapnya tersenyum dengan kepala tertunduk menatap Cia, telapak tangannya masih bergerak mengusap kepala Cia.
"Lewat sini," ucapnya kembali, dia berjalan mendahului kami sebelum berbelok ke kanan.
Aku dan Cia berjalan mengikuti langkah kakinya, Sasithorn berhenti di sebuah pintu berwarna hitam. Dia membuka pintu tersebut lalu masuk ke dalamnya...
Aku ikut melangkah masuk mengikutinya dengan Cia yang berjalan di samping, kedua kakiku melangkah mendekati ranjang kayu yang ada di tengah ruangan, kuletakkan tas yang aku bawa di atas ranjang tersebut sembari tubuhku berbaring di samping tas tadi.
"Apa ada yang ingin kalian makan? Aku akan memasaknya," ucapnya, aku sedikit menyipitkan kedua mataku saat dia membuka tirai yang menutupi jendela kamar.
Aku kembali beranjak duduk, pandangan mataku menatap ke arahnya yang berjalan mendekat, "Kakak bisa memasak?" Tanyaku kepadanya, dibalasnya perkataanku tadi dengan anggukan pelan kepalanya.
"Aku mulai belajar memasak saat datang ke sini, bibi Gritav mengajari kami berdua apapun selama di sini."
"Laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan itu?" Bisikku sangat pelan kepadanya, Sasithorn kembali berbalik menatapku.
"Kau benar, dia. Apa kau bisa memberitahuku, makanan kesukaan Kakakmu?" Tanyanya kembali padaku, "aku akan membantumu," jawabku sembari beranjak dari ranjang.
"Benarkah? Terima kasih," ungkapnya yang juga ikut berdiri lalu melangkah mendekati pintu.
Aku berbalik lalu berlutut di depan Cia yang tengah duduk di samping ranjang, kuraih kedua tangannya saat dia menatapku, "Cia, jangan kemana-mana. Tidurlah di sini, kau mengerti?" Ungkapku dengan sangat pelan dengan kedua tanganku bergerak mengartikan ucapan yang aku katakan.
"Tidur?" Tanyanya dengan menempelkan kedua telapak tangannya, lalu digerakkannya telapak tangannya yang menempel tadi menyentuh pipinya.
"Kau benar, tidur," ucapku menjawab perkataannya dengan sedikit anggukan kepala dariku.
__ADS_1
Aku kembali beranjak berdiri, kedua kakiku melangkah mendekati Sasithorn yang telah menungguku di depan pintu. Ditutupnya kembali pintu itu saat aku berjalan melewatinya.
Kedua kakiku berhenti lalu bergerak melangkah kembali saat Sasithorn telah berjalan di hadapanku. Kepalanya tertunduk sepanjang kakinya melangkah ke depan...
Perempuan, yang membuat Kakakku berkata seperti itu. Jika itu Sasithorn, maka aku akan mendukung hubungan mereka.
"Kalian berdua, mau ke mana?"
Kedua langkah kaki kami terhenti, Sasithorn maju ke depan saat Izumi berdiri menatap kami dengan kotak kayu kecil yang ada di genggamannya, "apa dirimu membutuhkan sesuatu, Pangeran Izumi?" Tanyanya saat dia menghentikan langkahnya di hadapan Izumi.
"Mau ke mana kalian berdua?" Tanya Izumi kembali dengan sedikit melirik ke arahku.
"Aku, ingin memasak sesuatu untuk kalian. Dan Sachi, ingin membantuku," ucapnya menjawab pertanyaan Izumi, suaranya yang lembut semakin samar terdengar di telingaku.
"Kau tidak perlu melakukannya," Sasithorn semakin menundukkan kepalanya, kutatap Izumi yang menggaruk kuat belakang kepalanya sebelum menghela napas dengan kuat, "aku ingin sekali ikan bakar, dan juga sup miso. Dan juga, untukmu," ucap Izumi mengarahkan kotak kayu yang digenggamnya tadi ke arah Sasithorn.
"Untukku?" Tanya Sasithorn kembali menatap Izumi, kedua tangannya bergerak meraih kotak tersebut lalu membukanya.
"Sejujurnya, aku ingin membeli cincin. Akan tetapi, aku tidak mengetahui ukuran jarimu," ucap Izumi mengarahkan jarinya ke dalam kotak kayu tersebut, tampak sebuah kalung emas dengan liontin terbuat dari batu permata menggantung di tangannya.
Izumi bergerak maju dengan kedua tangannya bergerak memasang kalung tadi di leher tunangannya itu, "aku tidak tahu, bagaimana nasibku ke depannya. Tapi aku berjanji, aku akan menikah denganmu sesudah ini semua berakhir. Jika kau..."
"Aku akan menunggumu. Aku akan menunggu kepulanganmu," Sasithorn memotong perkataan Izumi, sebelah tangannya bergerak menggenggam liontin yang ada di lehernya itu.
Kedua tanganku bergerak menutup mulutku saat kutatap Izumi yang diam tertegun diikuti wajahnya yang berubah merah padam, "berhenti memanggilku Pangeran, hanya panggil aku Izumi. Aku tidak ingin dipanggil Pangeran oleh Isteriku sendiri nanti," ucap Izumi menepuk kepala Sasithorn sebelum ia melangkah meninggalkan kami.
Aku melangkah maju mendekati Sasithorn yang tertunduk dengan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. "Kak? Kak Sasithorn?" Ucapku berulang-ulang dengan telapak tanganku menepuk-nepuk perlahan pundaknya saat terdengar suara isak darinya.
__ADS_1
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanyaku kembali saat dia mengangkat wajahnya menatapku.