
"Di mana Lux?" Kepalaku bergerak mencarinya, tetap saja... Aku tak menemukannya di atas ranjang atau di manapun.
Pandangan mataku terjatuh pada bayangan laki-laki yang muncul dari balik pintu kamar mandi. Bayangan tersebut mengecil diikuti tubuh seorang laki-laki yang jatuh menelungkup tak sadarkan diri... Dia, laki-laki yang menatapku dari balik dinding kamar mandi.
"Lewat sini," ucap Lux yang telah terbang di atas tubuh laki-laki itu.
Lux menggerakkan telapak tangannya, Izumi bergerak menyamping seraya tangannya bergerak mendorong pundakku. Kutarik lengan Cia untuk mengikutiku, Haruki yang berjalan di depanku menggerakkan pedangnya menghalau sebilah pedang yang tiba-tiba muncul dengan seorang laki-laki yang menggenggamnya.
Mataku beralih pada pintu kamar yang telah hancur, kutarik lengan Cia ke belakang seraya tubuhku menunduk meraih pedang yang jatuh tak terlalu jauh dari tubuh laki-laki yang tak sadarkan diri tadi. Suara pedang yang saling bertabrakan memenuhi ruangan kamar yang memang tak terlalu luas.
Pedang yang sebelumnya telah aku genggam tiba-tiba kembali terlepas saat kurasakan cekikan kuat yang melingkar di leherku. Kutatap laki-laki yang tak sadarkan diri tadi, matanya balas menatapku dengan sebelah tangannya semakin kuat mencekik leherku...
Dadaku terasa sesak, mataku berkunang-kunang menahan cekikan darinya. Kugerakkan tangan kiriku ke belakang, kuraih satu anak panah yang ada di balik punggungku. Kuarahkan anak panah tadi menancap tepat di matanya, laki-laki itu menjerit kesakitan... Kuambil pedang yang sebelumnya terlepas seraya kuarahkan pedang tadi menembus kepalanya dengan kedua tanganku saat cekikan yang ia lakukan sedikit melonggar.
"Maaf, racun yang aku berikan masih terlalu lemah untuknya," ucap Lux yang telah terbang di hadapanku.
"Tidak apa-apa," ucapku dengan sebelah tangan mengusap leher.
Aku kembali beranjak berdiri, sebelah tanganku menarik pedang yang masih tertancap di mayat laki-laki tadi. Darah mengucur deras keluar saat pedang tadi tercabut dari kepalanya.
"Lux, bawa Cia bersembunyi," ungkapku mendorong pelan tubuh Cia ke depan.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu?" Jawab Lux bergerak terbang di hadapanku.
"Aku baik-baik..."
"Pergilah Sa-chan, kami akan mengurus mereka semua. Ajak Cia dan Lux bersamamu, dan juga Mas'ud," ungkap Haruki mengayunkan pedang miliknya merobek perut laki-laki yang ada di hadapannya.
"Pergilah," sambung Izumi ketika pedang miliknya menebas salah satu leher musuh hingga leher laki-laki itu hampir terpisah dengan kepalanya.
"Aku mengerti. Lux, Mas'ud," ucapku seraya berlari ke dalam kamar mandi dengan sebelah tanganku menggenggam erat tangan Cia di belakang.
Aku melangkah mengikuti Lux yang menuntun kami memasuki lubang berukuran manusia dewasa yang ada di dalam kamar mandi. Apakah laki-laki tadi yang membuat lubang besar ini?
Lux terbang semakin cepat lalu menghilang ke balik tembok saat kami melangkah melalui lubang tadi. Telapak tanganku yang menggenggam erat tangan Cia terlepas, kuarahkan telapak tanganku tadi menutup matanya saat pandanganku terjatuh pada mayat perempuan dengan kepala menghadap ke belakang tubuhnya.
Pandanganku kembali mengarah pada Cia yang memegang telapak tanganku tadi, kuangkat tanganku yang menutupi matanya sembari kembali kutarik tangannya mengikutiku berlari menjauh dari ruangan itu.
Langkah kakiku terhenti, kulepaskan pegangan tanganku pada Cia sembari kuarahkan tanganku tadi mendorong pelan tubuh Cia agar tetap di belakangku. Kugenggam dengan kuat sebilah pedang yang aku bawa ke arah laki-laki bertubuh besar yang ada di hadapan kami.
Tenangkan dirimu Sachi, dan ingat-ingat kembali. Semua, semua yang Kakakmu ajarkan...
"Perempuan seperti kalian, seringkali memiliki kekuatan yang jauh di bawah kekuatan laki-laki. Karena itulah, Sa-chan..."
__ADS_1
Ucapan Haruki terngiang di pikiranku. Kugerakkan sebelah tanganku yang menggenggam pedang tadi melepaskan semua benda yang sekiranya akan mengganggu pergerakan... Busur, tabung anak panah, bahkan tas yang aku bawa, ku jatuhkan ke lantai.
"Jika kau nantinya bertarung dengan seseorang yang mempunyai tubuh lebih besar darimu. Ingatlah pesan Kakakmu ini, Sachi..."
Suara Izumi yang ikut terdengar di pikiran menuntun langkahku. Aku melangkah maju perlahan dengan memperhitungkan jarak antara aku dan laki-laki bertubuh besar itu, Haruki, maupun Izumi dulu pernah mengatakan...
"Jika kau berhadapan langsung dengan mereka. Bisa dipastikan, nyawamu akan langsung melayang, Sa-chan."
"Apapun yang terjadi! Hindari semua serangan. Gunakan tubuh kecilmu itu untuk menghindari semua serangan yang akan aku lakukan, Tupai!"
Tubuhku bergerak menyamping saat pedang milik laki-laki tersebut berayun hampir membelah tubuhku. Pedang miliknya kembali berayun, tubuhku kembali bergerak menunduk lalu bergerak menyamping kembali, berusaha menghindari ayunan pedang dari laki-laki tersebut.
"Aku akan mengajarkanmu beberapa macam tendangan, Tupai."
"Tendangan?"
"Saat kau berusaha menghindari musuh dalam pertarungan, dan tanganmu tidak sampai untuk menyerang balik. Maka..."
Saat laki-laki tersebut sedikit lengah, aku berlari mendekatinya, memutar sedikit tubuhku hingga kakiku bergerak menerjang kuat wajah laki-laki itu. Aku melangkah mundur saat laki-laki itu juga mundur ke belakang beberapa langkah karena tendangan yang aku lakukan.
Kutarik napasku dalam-dalam dengan sebilah pedang yang aku genggam masih terarah pada laki-laki itu. Langkahku kembali mundur menghindari serangan darinya, ke kanan dan ke kiri, hingga jungkir balik ke belakang saat kakiku tak sengaja menabrak meja yang ada di sana...
__ADS_1
Berpikirlah Sachi, berpikirlah! Kau akan mati kehabisan tenaga jika hanya berusaha menghindari serangan darinya saja.