Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXXXVI


__ADS_3

Aku menggenggam kuat pakaian yang ia kenakan saat Qadan menunggangi kudanya sangat cepat menyusuri bukit berpasir yang terletak sangat jauh dari perkampungan mereka. “Turunlah!” Tukasnya sedikit melirik ke arah belakang ketika kuda yang kami tunggangi itu berhenti.


Aku bergerak turun dengan melepaskan genggaman tanganku di pakaian yang ia kenakan, “apa yang akan kita lakukan di sini?” Tanyaku dengan mengangkat kepala menatapnya.


Dia bergerak ke samping dengan menatapku, “apa kau melihat, kayu-kayu yang aku tancapkan di sana,” ucapnya dengan menunjuk ke arah kanan.


Aku menoleh ke arah yang ia maksudkan, kedua mataku bergerak melirik satu batang kayu ke batang kayu lainnya yang membentuk persegi jika dilihat dari kejauhan, “aku melihatnya,” ungkapku dengan mengalihkan pandangan kembali kepadanya.


“Sekarang, lepas sepatumu lalu berlarilah mengitari kayu-kayu tersebut. Lakukan itu hingga kau tak bisa menggerakkan kakimu lagi,” ungkapnya mengalihkan pandangan dariku.


“Apa aku harus melakukannya?”


“Berlari di pasir, akan memperkuat kakimu. Jika kakimu kuat, kau akan dapat berlari lebih cepat dibanding sebelumnya, jadi jangan banyak bertanya … Hanya lakukan, apa yang aku perintahkan,” ucapnya melirik ke arahku.


Lidahku berdecak saat aku mengalihkan pandangan darinya, aku membungkuk dengan kedua tangan membuka sepatu yang aku kenakan. Aku melirik tajam ke arahnya sebelum kedua kakiku bergerak maju menyusuri hamparan pasir yang ada.


Aku berlari mengelilingi empat buah batang kayu yang ia tunjukkan sebelumnya, “apa berlari di pasir, memang terasa berat seperti ini?” Gumamku dengan mengangkat kepala menatapi langit.


“Apa yang kau lakukan? Aku memintamu untuk berlari, bukan berjalan!”


“Apa kau buta? Ini juga aku sedang berusaha berlari!” Aku balas berteriak dengan kedua kakiku yang bergerak semakin cepat dari sebelumnya.


Kedua kakiku berhenti setelah berlari sekian lama, aku membungkukkan tubuh … Berusaha mengatur napasku yang sudah tak beraturan. “Apa yang kau lakukan? Apa hanya sampai di sana saja kemampuanmu?!”


“Tutup mulutmu! Aku hanya berhenti sejenak. Apa kau tidak paham dengan arti kata sejenak?!” Teriakku dengan melirik tajam ke arahnya.


“Jika kau mempunyai banyak tenaga untuk berteriak, gunakan tenagamu itu untuk menggerakkan kedua kakimu, anak manja!”


Aku menoleh ke arahnya yang tengah duduk di atas kudanya mengawasiku dari kejauhan, “aku benar-benar akan membunuhnya sebelum kami pergi meninggalkan tempat ini,” gumamku pelan dengan kembali berlari memutari batang-batang kayu.

__ADS_1


Langkah kakiku kembali terhenti, kedua kakiku menekuk sebelum akhinya aku menjatuhkan diri, menelungkup di hamparan pasir, “kakiku, rasanya sudah tidak bisa lagi digerakkan,” gumamku pelan dengan menatap dia yang membawa kudanya semakin mendekati.


“Hanya, dua puluh lima putaran,” ungkapnya melirik ke arahku dari atas kuda yang ia tunggangi.


“Kau mengatakan hanya?” Tukasku sedikit mengangkat kepala menatapnya.


Aku meneguk air ludahku yang telah mengering, “katakan, apa kuda yang kau tunggangi itu, memiliki susu,” ungkapku dengan melirik ke arah kuda berwarna hitam yang dia tunggangi.


“Apa maksudmu?” Dia balik bertanya dengan sedikit mengerutkan keningnya.


“Yang aku maksudkan, apa kau memiliki air?” Jawabku dengan berusaha untuk beranjak duduk.


“Aku tidak membawa air.” Kepalaku dengan cepat menoleh ke arahnya saat dia mengatakannya, “kau, membawaku untuk berlatih … Akan tetapi, kau juga tidak menyiapkan apa pun untuk menambah sisa-sisa nyawaku?”


“Jika yang kau katakan itu air, maka aku tidak membawanya. Lagi pun, kau lemah sekali, sudah memerlukan air dengan hanya berlari seperti itu.”


Aku menggenggam kuat kedua tanganku sebelum melengoskan pandangan berjalan melewatinya, “maafkan tubuhku yang lemah ini. Tapi seperti yang kau ketahui,” ungkapku menghentikan langkah menoleh ke arahnya, “Ayah, atau para Kesatria tercintaku, selalu tidak membiarkan aku untuk berjalan walau satu langkah pun,” ucapku tersenyum sebelum kembali berbalik lalu berjalan meninggalkannya.


Aku kembali melanjutkan langkah dengan membawa sepatu tadi di genggaman, sesekali kepalaku menatap ke atas, menatap ke arah langit biru yang kembali terlihat cerah hari ini. “Naiklah!” Langkah kakiku terhenti saat bayangan kuda tiba-tiba telah berdiri di samping.


“Apa kau akan membawaku pulang ke perkampungan?” Tanyaku dengan menoleh ke arahnya.


Qadan menatapku lama tanpa menjawab, “naiklah!” Perintahnya kembali, kali ini dia telah mengarahkan pandangan matanya ke depan.


Aku melangkah mendekatinya, kugenggam lengan pakaian yang ia kenakan sebelum tubuhku beranjak duduk di atas kuda yang ia tunggangi. “Aku, akan membawamu ke sungai. Kakek, memintaku untuk melatih pernapasanmu di sana,” ucapnya tanpa menoleh ke belakang.


“Apa dia memintaku menyelam di dalam sungai selama mungkin?”


“Jika iya, itu percuma,” sambungku lagi hingga dia sedikit menoleh ke arahku.

__ADS_1


“Aku bisa bernapas di dalam air, aku bisa menahan napasku selama mungkin yang aku inginkan.”


“Lalu, kenapa kau memberitahukan aku soal itu?”


“Eh?” Tukasku kebingungan dengan sedikit melirik ke arahnya.


“Harusnya, kau menyembunyikannya. Dengan begitu, kau akan dengan mudah melewati latihan berikutnya.”


“Tapi itu, tidak akan menguntungkan untukku. Aku, ingin memperkuat diri agar nantinya tidak merepotkan mereka yang perduli padaku. Aku ingin menjadi kuat, aku harus melakukan apa pun untuk mencapainya. Dunia luar, tidak sedamai seperti kalian yang hidup di sini,” ucapku sambil mengangkat wajahku ke atas.


“Jika Kakek, memintaku untuk melatih pernapasan … Maka, berikan aku latihan selain itu. Karena kami, tidak bisa berlama-lama di sini … Masih banyak tempat, yang harus kami kunjungi,” sambungku lagi kepadanya.


Aku menurunkan kembali pandangan mataku, “apa yang sedang mereka lakukan?” Tukasku dengan mengangkat tangan menepuk pundaknya.


“Mereka bersiap untuk berburu,” jawabnya, dia menggerakkan kepalanya menoleh ke arah yang aku tunjukkan.


“Berburu?”


“Mata kami, bisa melihat jelas walau dalam keadaan gelap sekali pun. Karena itu, kami sering memanfaatkannya untuk berburu ketika malam tiba.”


“Mata kalian memanglah sangat mengagumkan, sudah tak terhitung lagi … Berapa kali aku lolos dari kematian berkat mata yang dimiliki Kakakku itu. Aku sangat menyukai, saat mata abu-abu tersebut bersinar terang di kegelapan, sangat cantik hingga membuatku kesulitan berpaling darinya,” ucapku dengan masih menatap sekerumunan orang yang berdiri jauh di hadapan kami.


“Bagaimana bentuk Kerajaan kalian?”


“Bentuk Kerajaan kami?” Aku balik bertanya saat dia tiba-tiba bersuara.


“Kami diperintahkan untuk tinggal di Kerajaan kalian, karena dikhawatirkan … Jika, tempat yang kami tinggali sekarang, telah diberitahukan oleh pengkhianat itu kepada Kaisar,” ucapnya menjawab pertanyaanku.


“Kemungkinan, itu memang terjadi. Akan tetapi, untuk apa Ayah mengirimkan Sasithorn ke sini, jika pada akhirnya dia akan mengikuti kalian pulang ke Sora,” ungkapku dengan menyilangkan kedua lengan di dada.

__ADS_1


Sebenarnya, apa yang ada di dalam pikiran Ayah?


__ADS_2