Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXV


__ADS_3

Langkah kaki kuda Haruki semakin melaju cepat dan semakin cepat. Kuda yang ditungganginya bergerak maju membelah kerumunan manusia yang bergerak meminggir berusaha menghindar...


Niel memacu kudanya melewati kami, rambut hitamnya yang panjang semakin bertebaran tertiup angin. Kugerakkan tubuhku sedikit memiring ke samping, sebuah dinding batu tinggi tampak terlihat mengelilingi sebuah kastil besar yang berdiri di atas bukit...


Kuda yang kami tunggangi melaju semakin cepat berusaha menyusul Niel yang telah sampai di kaki bukit. Niel menggerakkan kuda putih milikku berbalik menatapi kami yang berjalan mendekati mereka.


"Istanaku ada di atas bukit ini, berhati-hatilah dan hanya ikuti saja langkahku. Jika tidak, jangan salahkan aku kalau salah satu dari kalian mati oleh jebakan yang tersebar," ungkap Niel seraya menggerakkan kembali kuda putih milikku itu berbalik membelakangi kami.


Kuda putih tersebut bergerak cepat mengikuti arahannya, semakin cepat menaiki bukit tinggi yang ada di hadapan kami. Haruki ikut menggerakkan kuda miliknya melaju dengan sangat cepat mengimbangi kecepatan Niel dan yang lainnya.


Haruki menggerakkan kudanya miring ke sebelah kanan, lalu digerakkannya lagi dengan tajam ke sebelah kiri. Kuda milik Haruki terhenti diikuti langkah kaki kudanya yang mundur sedikit beberapa langkah ke belakang.


Kuda itu berlari maju ke arah depan dengan kecepatan tinggi. Genggaman tanganku pada pakaian yang ia kenakan semakin kuat tatkala kuda miliknya melompat melewati... Aku tidak tahu, mungkin jebakan... Karena yang aku lihat hanyalah hamparan tanah seperti biasa.


Kuda tersebut kembali melaju cepat tatkala lompatannya terhenti. kualihkan pandanganku menatap ke arah kiri, rumah-rumah penduduk yang berada jauh di sana terlihat sangat kecil di pelupuk mata.


Kuda yang ditunggangi Haruki kembali berhenti, kuarahkan pandanganku menatap gerbang tinggi yang ada di hadapan kami. Warna emas yang menyelimuti pintu gerbang tersebut menyilaukan mataku saat sinar matahari tak sengaja jatuh di atasnya.

__ADS_1


Pandangan mataku terjatuh pada Niel yang bergerak semakin mendekati gambar. Berteriak dia dengan lantang beberapa kali, sebuah kata-kata asing yang belum pernah aku dengar sebelumnya terlontar kuat dalam teriakannya itu...


Pintu gerbang sedikit bergerak diikuti suara gesekan besi yang menyertai. Niel menggerakkan kuda milikku mundur ke belakang beberapa langkah... Beberapa sosok bayangan tampak menyusup di sela-sela gerbang yang semakin terbuka lebar.


Niel masih diam tak bergeming menatap pintu gerbang emas tersebut terbuka. Kualihkan pandanganku kepada puluhan laki-laki yang berjalan ke luar mendekati, baju-baju zirah berwarna hitam yang mereka kenakan semakin memperkuat sosok-sosok mereka.


Laki-laki yang berjalan memimpin laki-laki lainnya menghentikan langkah kakinya di hadapan Niel. Dia menggerakkan tubuhnya berlutut kepada Niel diikuti puluhan laki-laki lainnya...


"Yang Mulia," ucap mereka serentak terucap.


"Berdirilah kalian semua," ungkap Niel, para laki-laki tersebut beranjak berdiri seperti yang ia katakan.


"Aku baik-baik saja. Mereka semua telah menyelamatkanku, aku terlalu lelah untuk kau lontarkan banyak pertanyaan... Aku ingin beristirahat terlebih dahulu," ucap Niel kembali seraya memotong perkataan laki-laki yang berdiri di depan laki-laki lainnya.


"Baiklah, Yang Mulia... Hamba mu ini akan menyiapkan semua keperluanmu," ungkap laki-laki tersebut kembali dengan sebelah tangannya diarahkannya ke dada diiringi gerakan membungkukkan tubuh yang ia lakukan.


Laki-laki tadi kembali beranjak berdiri, berbalik ia menatapi puluhan laki-laki yang berdiri di belakangnya sebelumnya. Laki-laki tersebut berteriak lantang, semua laki-laki berbaju zirah tersebut bergerak menggerakkan tubuh mereka ke samping seakan memberikan jalan kepada kami.

__ADS_1


Niel menggerakkan kuda yang ia tunggangi melewati para laki-laki tadi. Ikut kurasakan Kuda yang kami tunggangi berjalan mengikuti langkah kaki kuda Izumi yang telah mengarahkan kuda miliknya berjalan di belakang Niel.


Pandangan di sekitar membuatku tertegun tatkala kuda yang kami tunggangi berjalan melewati pintu gerbang. Kuarahkan pandangan mataku melirik ke sekitar...


Bangunan-bangunan terbuat dari tanah tampak bersusun rapi sepanjang jalan. Semua laki-laki yang berlalu lalang mengenakan baju zirah tak terkecuali bagi mereka yang masih kecil pun.


Kualihkan pandanganku menatap kerumunan anak kecil yang tengah mengelilingi dua orang anak laki-laki yang tengah menggenggam sebuah pedang kayu di masing-masing tangan mereka...


Kedua anak tersebut bertarung satu sama lain menggerakkan pedang kayu yang ada di masing-masing tangan mereka. Suara riuhan dari beberapa anak kecil yang menonton mampu menarik beberapa laki-laki dewasa yang ikut penasaran dengan apa yang terjadi...


Pandangan mataku kembali terjatuh pada lima anak yang membungkukkan tubuhnya di samping kuda yang ditunggangi Niel. Busur dan beberapa puluh anak panah yang ada di punggung mereka seakan ikut membungkuk mengikuti punggung anak-anak kecil tadi.


Niel mengangkat sebelah telapak tangannya, diarahkannya telapak tangannya tadi menepuk-nepuk kepala salah satu anak laki-laki tersebut. Anak laki-laki tadi tampak tertunduk tersipu mendapat perlakuan dari Niel...


Niel mengarahkan telapak tangannya ke arah anak laki-laki tadi, diraihnya tangan Niel oleh anak laki-laki tadi seraya tubuhnya beranjak naik dan duduk di atas kuda bersama Niel.


Kuda kami kembali bergerak diikuti suara gesekan besi yang berjalan mengikuti. Kugerakkan kepalaku ke belakang melirik segerombolan laki-laki yang menyambut kami sebelumnya di gerbang tengah berbaris rapi berjalan mengikuti langkah kami...

__ADS_1


"Sa-chan," ucapnya, kembali kugerakkan kepalaku menatapnya yang masih menatap lurus ke depan.


"Persiapkan dirimu untuk memanggil Kou kapanpun," sambungnya kembali padaku.


__ADS_2