Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLIII


__ADS_3

Tepukan di wajahku mengusik tidur, kubuka dengan perlahan kedua mataku sembari kugerakkan tubuhku beranjak duduk. Aku melirik ke arah Cia, Luana dan juga Sasithorn yang tertidur lelap di kanan dan kiri tubuhku.


Kugerakkan tangan kiriku meraih kaki Cia yang menindih pahaku, tangan kiriku tadi dengan sangat perlahan mengangkat kakinya tadi dari atas pahaku. Tubuhku bergerak perlahan, merangkak mendekati tirai kain yang menutupi tenda.


Aku beranjak berdiri, telapak tangan kananku bergerak menutupi bibirku yang menguap lebar. Izumi yang tengah duduk di depan api unggun berbalik menatapku, telapak tanganku yang menutup bibir tadi bergerak mengusap kedua mataku seraya kedua kakiku melangkah mendekati mereka.


Aku duduk di samping Izumi, kepalaku masih tertunduk dengan beberapa kali kedua mataku berkedip cepat berusaha mengusir kantuk, "apa kau baik-baik saja?" Suara Izumi terdengar diikuti sentuhan pelan yang mengusap kepalaku.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit mengantuk," ucapku pelan membalas perkataannya, "minumlah air ini," suara Haruki ikut terdengar, kuangkat kepalaku menatapnya yang tengah mengarahkan sebuah gelas besi ke arahku.


"Terima kasih," ucapku mengarahkan tangan meraih gelas tersebut, kuangkat gelas tersebut hingga air yang ada di dalamnya mengalir di kerongkonganku.


"Nii-chan," aku kembali bersuara, kugenggam gelas besi tadi di atas pahaku.


"Ada apa?" Haruki kembali bersuara, kutatap dia yang menggerakkan kepalanya menatapku.


"Apa kita memiliki informasi lebih mengenai kota yang akan kita serang?"


"Kota?" Haruki balik bertanya padaku, "kita akan menyerang salah satu kota dari Kerajaan Tao bukan?" Kali ini aku berbalik bertanya padanya.


"Yang akan kita serang, adalah ibukota Kerajaan Tao langsung. Aku ingin langsung melengserkan Raja yang memimpin mereka?"


"I-bu-ko-ta?" Suaraku terasa enggan keluar, kutatap Haruki yang menganggukkan kepalanya padaku.

__ADS_1


Kualihkan pandangan mataku menghindari tatapannya sembari kugigit kuat bibirku, "lalu, bagaimana caranya kita semua melewati beberapa kota sebelum sampai di ibukota Kerajaan Tao?" Tanyaku, kembali kugerakkan kepalaku menatap Haruki.


"Itu tugasku, Hime-sama. Aku akan mengantar kalian semua menyusup ke sana melewati jalan rahasia yang aku temukan bersama anak buahku," kepalaku menoleh ke arah Arata yang tengah mendorong bara api menggunakan ranting kayu yang ia genggam.


"Sudah aku katakan ini akan menjadi rencana untuk membunuh diri sendiri," ungkapku, kugerakkan kepalaku bersembunyi di kedua kakiku yang bertekuk.


"Apa maksudmu?"


"Izu nii-chan, coba kau pikirkan ini," ucapku sambil tetap tertunduk, "bagaimana jika para Kesatria dari kota-kota Kerajaan Tao mengetahui ini? Bagaimana jika mereka membantu Ibukota mereka sebelum kita sempat merobohkannya," sambungku dengan sedikit helaan napas yang keluar.


"Itu kemungkinan besar terjadi, mustahil jika mereka akan membiarkan ibukota Kerajaan mereka jatuh begitu saja," Izumi kembali terdengar berbicara, "benar bukan?" Tanyaku seraya kuangkat kepalaku menatapnya.


"Jika itu yang kau khawatirkan, kita tinggal menyelesaikan semuanya sebelum bala bantuan dari mereka datang," ucap Haruki, aku berbalik menatapnya yang tengah menepuk-nepuk pelan belakang lehernya sendiri.


Apakah ini memang sifat turunan dari keluarga Takaoka? Darimana dia mendapatkan kepercayaan diri yang luar biasa seperti itu?


________________________


Kugerakkan tangan kananku meraih penutup kepala yang hampir tertiup angin, kilauan air laut tampak jelas terlihat dari atas bukit yang kami naiki. Aku menoleh ke belakang menatap para Kesatria yang berbaris rapi melangkahkan kakinya di belakang kami.


Pandangan mataku berbalik ke arah kereta kuda yang membawa Raja tambun kemarin, tampak bulir-bulir keringat mengalir deras di wajah beberapa Kesatria yang ikut mendorong kereta kuda tersebut dari belakang.


"Berapa lama lagi kita akan sampai? Apa kalian mempermainkan aku," suara Raja itu terdengar dari balik kereta kuda yang berhenti di samping Haruki, "ini jalan paling aman untuk kita langsung menuju Ibukota Kerajaan Tao," ucap Haruki tanpa menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Bocah rendahan, seperti itukah caramu berbicara pada seorang Raja?!" Terdengar suara bentakan dari arah kereta tersebut, aku berbalik menatap jendela pada kereta tersebut yang telah terbuka.


"Kalian manusia rendahan, setidaknya berikan hiburan padaku selama perjalanan. Berikan ketiga perempuan yang kalian ajak itu untuk menghiburku!" Raja tambun itu kembali meninggikan suaranya.


"Izumi!" Haruki ikut meninggikan suaranya, kedua matanya melirik ke arah Izumi yang hendak menarik pedang di pinggangnya.


"Gritav, berikan aku tombak!" Kali ini pandangan Haruki beralih ke arah Gritav, Gritav menggerakkan kuda yang ia tunggangi mendekati Haruki sembari diangkatnya tombak besar yang ia ikatkan di belakang punggungnya.


Haruki meraih tombak yang Gritav berikan padanya, "apa yang ingin kau lakukan dengan tombak itu?" Tanya Raja itu saat Haruki menatapnya dengan tombak terangkat di genggamannya, "menutup mulutmu," ucap Haruki santai, diayunkannya tombak yang ia genggam tadi ke arah Raja tersebut.


Raja tersebut berteriak kencang dengan kedua matanya yang tertutup. Tombak Haruki berayun kuat menghancurkan roda kayu kereta yang membawa Raja tersebut. Dengan cepat, kereta kuda tersebut terbalik ke samping diikuti laki-laki yang menjadi kusir kereta tersebut ikut jatuh tersungkur ke samping hampir terinjak kuda yang Haruki tunggangi.


"Semua Kesatria, ikuti langkahku tanpa terkecuali!" Haruki menghentikan kuda yang ia tunggangi, digerakkannya kuda miliknya itu berbalik menatap para Kesatria Kerajaan Niivan.


"Aku tahu jika dia Raja kalian, tapi sesuai perjanjian ... Kalian hanya akan patuh pada semua perintah yang aku berikan, jika kalian ingin membantu Raja kalian. Aku tidak akan melarang kalian melakukannya," ucap Haruki, dia menghentikan perkataannya sembari pandangan matanya melirik para Kesatria itu. bergantian.


"Akan tetapi," perkataan Haruki kembali terhenti, "apa yang kalian lakukan, cepat bantu aku!" Suara Raja itu kembali terdengar, kutatap Haruki yang menggerakkan kepalanya menatapi kereta yang membawa Raja tersebut.


"Aku akan memberikan penawaran kepada kalian para Kesatria Niivan," ucap Haruki kembali mengarahkan pandangan ke arah mereka.


"Aku akan mengangkat salah satu dari kalian menjadi Raja yang akan memimpin Niivan," sambung Haruki, kutatap mata para Kesatria tersebut yang sedikit membesar diikuti beberapa dari mereka yang mengarahkan pandangan menatap satu sama lain.


"Apa yang kau katakan Sialan! Kebohongan apa yang kau katakan?!" Teriak Raja itu kembali, aku sedikit melirik ke arahnya yang tengah berusaha keluar dari dalam kereta tersebut.

__ADS_1


"Aku akan mengangkat siapa saja di antara kalian menjadi Raja Niivan selanjutnya," Haruki kembali meninggikan suaranya.


"Asalkan, kalian menebas leher laki-laki ini tepat di hadapanku, saat ini juga!" Sambung Haruki dengan sedikit melirik ke arah kereta kuda yang terbalik itu.


__ADS_2