
"Kita mau ke mana?" Tanyaku pada Sasithorn yang berjalan membelakangi, kualihkan pandanganku ke sebelah kanan dan juga kiri, bunga-bunga yang tumbuh di sekitar benar-benar memanjakan mataku.
"Mengambil sayuran di belakang, kami menanam banyak sekali sayuran di sana," ucapnya berbalik lalu tersenyum menatapku.
"Apa kalian sungguh baik-baik saja?" Tanyaku kembali padanya, kedua kakiku berjalan cepat mendekatinya.
"Awalnya aku merasa kesulitan berada di sini. Aku tidak pernah berkerja sebelumnya, karena Ibuku dulu hanya membuatku belajar menjadi perempuan yang anggun. Sebenarnya, jika Kakakmu tak berniat menikah denganku, nyawa Ibuku yang menjadi taruhannya," ucapnya tertunduk, kutatap dia yang menggigit kuat bibirnya itu.
"Apa maksudnya?" Sasithorn mengangkat kembali kepalanya sebelum dia menoleh menatapku, "Karena bagi Ayahku, semua itu adalah aib. Dan Ibuku yang merawatku, bertanggung jawab akan hal itu. Jika aku dieksekusi, Ibuku akan mengalami hal yang sama di tangan Ayahku," ucapnya membuang pandangan, tampak juga terlihat helaan napas berat yang ia keluarkan.
"Apa kau mengkhawatirkan Ibumu?" Sasithorn menghentikan langkah kakinya dengan pergelangan tangannya bergerak mengusap kedua matanya yang tertunduk, "maaf, bisakah kau menyembunyikan ini semua dari Kakakmu?"
"Kenapa aku harus menyembunyikannya?" Sambungku, dia kembali menatapku dengan kedua matanya yang memerah. "Aku, tidak ingin membebaninya. Kalian, juga meninggalkan rumah untuk kebahagiaan semua orang bukan? Maka, aku tidak akan bersikap egois hanya karena keinginanku sendiri," ucapnya dengan suara bergetar.
"Izumi adalah Kakak yang paling dekat denganku. Dia mungkin akan memikirkan cara untuk membantumu dan mungkin Kak Sasithorn akan merasa sungkan untuk meminta tolong kepadanya. Aku pun merasakan hal yang sama kepada Zeki..."
"Akan tetapi, itulah gunanya pasangan. Berbagi kebahagiaan, berbagi keresahan. Kakakku selalu mengatakan tidak perlu, atau nanti kau terluka ... Akan tetapi, laki-laki juga butuh pengakuan dari pasangannya. Cobalah untuk meminta tolong pada Kakakku, dia mungkin menunggumu untuk melakukannya," ucapku kembali seraya tersenyum menatapnya.
"Kakakku Izumi merupakan tipe manusia yang selalu menyembunyikan perasaannya. Jika dia tak bertindak, maka kau yang harus bertindak calon Kakak Ipar," sambungku dengan kedua tanganku mencengkeram pelan kedua pundaknya.
"Aku? Bertindak?" Tanyanya yang kubalas dengan anggukan kepala, "dengarkan aku kak! Laki-laki, akan merasa senang jika dia dibutuhkan oleh pasangannya. Kakak bisa mencoba ini," ungkapku menggerakkan wajah mendekati telinganya.
_________________
"Cia mendekatlah, aku akan menyisir rambutmu," ucapku melambaikan tangan ke arahnya, sebelah tanganku yang lain menggenggam sisir kayu dengan kuat.
Cia merangkak mendekati, dia berbalik duduk membelakangiku. Kubuka kain putih yang menutupi rambutnya, rambutnya terlihat lebih panjang ketika basah. Suasana di ruang makan tadi benar-benar terasa sunyi sekali...
Baik Haruki maupun Izumi tak membuka mulutnya untuk berbicara selama makan malam. Sepertinya, aku membesarkan mereka dengan sedikit kekurangan ... Bagaimana bisa mereka bersikap seperti itu pada tunangan mereka masing-masing.
__ADS_1
Aku kembali mengalihkan pandangan ke rambut Cia, jari-jemariku bergerak menyisir rambutnya yang hitam. "Cia, bagaimana menurutmu perihal kedua Kakakku?"
Cia menatap wajahku lama, kubalas tatapannya itu dengan helaan napas dariku, "aku lupa, jika kau tak mengerti bahasa kami," ucapku dengan kedua tangan memeluk tubuhnya.
"Sachi, apa kau di dalam? Bisakah aku masuk?"
Suara Izumi tiba-tiba terdengar diikuti ketukan pintu yang mengiringinya. "Izu nii-chan? Masuklah," ucapku menjawab ketukan pintu tersebut dengan suara yang sedikit meninggi.
Pintu perlahan terbuka diikuti bayangan hitam yang berjalan masuk. Izumi melangkah dengan kedua tangannya kembali menutup pintu kamar yang dibukanya. Izumi berbalik, lalu melangkah mendekatiku dengan cepat.
"Apa yang kau ajarkan padanya?" Tanyanya berhenti di samping ranjang, kuangkat kepalaku menatapnya. "Aku? Apa yang aku lakukan?" Aku balik bertanya kepadanya, Izumi menghela napas sebelum ia bergerak ke atas ranjang.
Izumi diam tanpa menjawab perkataanku, kepalanya tak bergeming, masih terbenam di atas ranjang. "Izu nii-chan?" Aku kembali memanggilnya diikuti ujung jari kakiku yang mencolek punggungnya beberapa kali.
"Apa yang kau ajarkan padanya?"
"Apanya yang apa? Aku tidak paham apa yang kau maksudkan nii-chan?"
"Tadi, di teras rumah," ucapnya terhenti. "Di teras rumah? Kenapa dengan teras rumah?" Tanyaku berusaha memancing perkataannya.
"Aku, berbicara berdua dengan Sasithorn di sana."
"Lalu? Lalu?" Tanyaku dengan sedikit menggebu.
"Dia, menceritakan perihal keadaan Ibunya tadi."
"Lalu?"
"Ini hanya aku yang merasakannya, atau memang kau yang terdengar sangat bersemangat?" Izumi balik bertanya padaku, kutatap kedua matanya itu yang sedikit melirik ke arahku.
__ADS_1
"Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik," ucapku membuang pandangan darinya, "lalu, apa yang terjadi selanjutnya nii-chan? Bagaimana kau menanggapinya?" Aku kembali menggerakkan kepalaku menatapnya.
"Aku mengatakan padanya, jika nanti kita melewati Kerajaannya. Aku akan mencari informasi mengenai Ibunya lalu dia..."
"Lalu dia?" Tanyaku tak sabar saat Izumi menghentikan kata-katanya.
"Apa yang kau katakan nii-chan? Aku tidak mendengarmu," ucapku sedikit memajukan wajah saat dia bergumam pelan dengan lengannya yang menutup keningnya tadi bergerak menutupi kedua matanya.
"Dia men ... um pipiku," ucap Izumi dengan sangat pelan hampir tak terdengar, "katakan lebih jelas, aku tidak bisa mendengarnya nii-chan."
"Dia mencium pipiku!" Izumi mengucapkannya dengan sangat lantang, kutepuk-tepuk punggung Cia yang sempat terhentak karenanya.
"Dia mencium pipimu, lalu apa hubungannya denganku?"
"Sasithorn tidak akan berani melakukannya. Kau yang menghasutnya untuk melakukan itu bukan?" Tanyanya, Izumi mengalihkan wajahnya yang berubah merah padam itu padaku.
"Aku tidak pernah melakukannya. Mungkin, mungkin, mungkin dia melakukannya karena ingin menunjukkan rasa sayangnya padamu nii-chan," ucapku sedikit membuang pandangan menghindarinya.
"Apa kau ingin aku menceritakan kepada Haruki, apa yang kau lakukan kepada Zeki saat kalian berdua sedang berdiri di lempengan es tempo lalu?"
"Aku pikir, Haruki akan senang jika aku memberitahukannya," ucap Izumi beranjak duduk.
"Izu-nii! Haru nii-chan, akan langsung membunuhku jika kau menceritakannya," rengekku, Izumi membalikkan wajahnya menatapku, "maaf. Aku hanya ingin kalian dapat saling jujur dengan perasaan masing-masing," ucapku tertunduk saat Izumi menatapku tanpa mengeluarkan suara.
"Aku sudah berjanji akan menikahinya nanti. Kau pun pasti telah mendengar hal ini bukan?" Ungkapnya dengan menundukkan kepala, kedua tangannya bergerak saling menggenggam satu sama lain.
"Bukan itu yang aku maksudkan. Izu nii-chan, kau jatuh cinta pada tunanganmu itu bukan?"
Izumi menoleh ke arahku, "dia lembut, dia pemalu, untuk berbicara dengannya saja aku harus benar-benar membuat telingaku bekerja dengan sangat keras sejak pertama kali kami bertemu."
__ADS_1
"Aku, hanya ingin menjaganya," sambung Izumi, tubuhnya beranjak berdiri dari atas kasur sebelum melangkah pergi meninggalkan kami.