Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXI


__ADS_3

Langkah kakiku terhenti saat bau busuk yang ada semakin menusuk hidung, kugigit kuat bibirku dengan sesekali aku menahan kuat napas … Setidaknya, aku harus bertahan sampai bisa memastikan sesuatu yang mengganjal pikiranku itu.


Mataku membelalak lebar, langkah kakiku spontan terhenti ketika pandangan mataku yang terlempar ke depan itu, mendapatkan pemandangan yang tak mengenakkan. “Putri!”’ Lagi-lagi langkahku kembali terhenti, “ada apa?” Tanyaku ketika berbalik menatap pengawal tersebut.


“Dan juga, bisakah?” Aku kembali berucap dengan melirik ke arah lenganku yang ia genggam.


Dengan cepat dia menarik tangannya tadi dariku, “maafkan aku,” ungkapnya membuang pandangan ke arah belakang tubuhku, “aku akan memeriksanya terlebih dahulu, jika aku rasa aman, baru kau boleh pergi ke sana,” sambungnya kembali sembari berjalan melewatiku.


Aku berbalik menatap punggungnya yang semakin berjalan menjauh. Aku membuang pandangan ke sekitar, membuang pandangan ke arah tumpukan mayat membusuk dengan tubuh-tubuh mereka yang sebagian telah membengkak. Dengan cepat, aku berbalik ke belakang saat rasa mual semakin menjalar, memenuhi perut.


“Mendekatlah, Putri! Di sini, aman!”


Aku menghela napas kuat saat suara laki-laki itu terdengar, tubuhku kembali berbalik diikuti tarikan napas yang aku lakukan. Aku mulai berjalan maju, sekuat mungkin aku mencoba menahan napas ketika berjalan mendekati laki-laki tadi.


Aku menghentikan langkah di samping sesosok mayat yang tubuhnya telah menghitam, lengkap dengan belatung yang memenuhi rongga mulutnya yang sedikit terbuka itu. Aku berjongkok di dekat mayat tadi dengan mengangkat lengan pakaian yang aku kenakan itu menutupi hidung.


Mataku melirik ke arah sekujur tubuh mayat tadi, beberapa jarinya menghilang, bahkan telinganya pun ikut menghilang. “Tempat apa ini?” Aku melirik lalu beranjak melangkahkan kaki mendekati pengawal itu yang tengah berjongkok di samping salah satu mayat yang tergeletak di samping batu besar.


“Pembuangan mayat, mereka dijadikan mainan oleh penguasa di sini. Mereka disiksa habis-habisan, setelah mereka mati … Mayat-mayat mereka akan dibuang ke sini,” jawabku sembari ikut berjongkok di sampingnya.


Aku menghela napas dalam saat pandanganku mengarah pada mayat perempuan yang terkujur kaku di hadapanku, bagaimana tidak … Selain tubuhnya yang penuh dengan bekas luka, dia juga.

__ADS_1


Aku mengangkat telapak tanganku meraba perutnya yang sedikit buncit itu, mataku melirik ke arah dadanya yang telah menghilang dan hanya meninggalkan bekas luka penuh nanah mengelilinginya. Apa dadanya sengaja dipotong oleh para biadab itu? Mereka, kejam sekali.


Aku sedikit bergeser mendekati kepalanya, kuusap kedua matanya yang terbuka itu menggunakan telapak tanganku. Aku meringkuk, menyembunyikan wajahku di sela-sela kedua kakiku. Hatiku hancur melihat semua ini, dadaku sesak seakan aku sendiri yang langsung mengalaminya.


Aku kembali beranjak berdiri, kuusap kedua mataku diikuti embusan napas yang kuat keluar dari bibir. Aku berbalik, melangkahkan kaki menjauhi pengawal dan tumpukan mayat membusuk yang ada di sekitar. “Putri, jangan terlalu dekat dengan tebing di sana!” Teriaknya ketika aku melangkahkan kaki mendekati tepi jurang yang langsung berbatasan dengan lautan.


Aku berbalik, melirik ke arahnya yang berjalan mendekat, “namamu?” Tanyaku sembari mengalihkan pandangan kembali ke laut.


“Forza,” jawabnya singkat, aku sedikit menundukkan pandangan, menatap ke arah bayangan tubuhnya yang tercetak di dekat kakiku.


“Sudah berapa kali, Alma mengunjungi tempat ini?” Tanyaku datar tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.


Tubuhku berbalik menatapnya, “hanya katakan, kalian dipinta Alma untuk mengawasi kami, itu karena dia tidak ingin kehilangan jejak kami, bukan?”


“Alma, bersekutu dengan Kaisar. Dia juga, berkerja sama dengan Pamannya. Aku benar, bukan?”


“Apa, maksudmu?” Kedua matanya yang menatapku itu membesar.


“Aku bertemu dengan Alma di hutan, tujuh tahun yang lalu. Seingatku, hanya ada satu orang laki-laki penakut yang bergabung di kelompok kami. Orang itu, tidak lain adalah Alvaro, dan bukan Alma. Kenapa, dia terlihat takut secara berlebihan dengan keluarga pamannya. Itu, benar-benar tidak bisa dicerna oleh otakku,” ungkapku berjalan mendekatinya.


“Kau salah, semenjak pulang dari kekaisaran tujuh tahun yang lalu. Pangeran Alma, berubah menjadi sangat pendiam. Dia terlihat takut akan apa pun, dia bahkan tidak bisa tidur dalam keadaan gelap. Dia, menghabiskan waktu yang sangat lama, untuk bisa pulih seperti sekarang,” jawabnya dengan sangat pasti kepadaku.

__ADS_1


“Aku, bisa bersumpah atas nyawaku, jika apa yang aku katakan itu jujur apa adanya,” tukasnya lagi dengan meletakkan sebelah tangannya menyentuh dada.


Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya kembali, “baiklah,” ucapku sambil melangkahkan kaki mendekatinya, “aku tidak membutuhkan sumpah, aku membutuhkan bukti. Katakan pada Alma, habiskan semua kekayaannya untuk membebaskan para budak terutama anak kecil dan para perempuan di wilayah ini. Aku, hanya akan memberikannya waktu hingga tengah malam,” bisikku di sampingnya, aku melirik ke telapak tanganku yang telah menyentuh pundaknya.


“Kerahkan seluruh kemampuan kalian, habiskan seluruh harta kalian untuk melakukannya. Jika telah selesai, sampaikan kata-kata ini kepada keluargaku, ‘berlindunglah di suatu tempat, di mana kau bisa melihat langit tanpa halangan. Tempat, di mana angin akan berembus menyentuhmu tanpa terhalang apa pun.’ Apa kau, bisa melakukannya?” Tanyaku kembali padanya sembari menggerakkan kedua kakiku berjalan mundur menjauhinya.


Laki-laki bernama Forza itu masih mengarahkan pandangannya menatapku lengkap dengan keningnya yang terlihat sedikit mengerut. "Apa kau, tidak mengerti apa yang aku katakan?!" Kali ini, suara yang keluar sedikit meninggi, berubah menjadi bentakan untuknya.


"Aku telah kehilangan semua kesabaranku. Jangan, membuatku untuk mengatakan hal ini untuk yang kedua kalinya. Jika kau, tak ingin Kerajaan Juste kehilangan penerus dan hancur. Jika kau, tak ingin kehilangan nyawa tanpa melakukan apa pun. Maka, dengarkan perkataanku," ancamku, aku kembali membalikkan tubuh, berdiri membelakanginya.


"Kami, tidak memiliki kewajiban untuk melaksanakan apa yang kau perintahkan."


"Kau salah," tukasku memotong perkataannya. "Kalian, tidak memiliki hak untuk menolak perintahku. Tanyakan, kepada Pangeran yang kau layani itu ... Apa yang akan terjadi kepadanya dulu, jika saja dia tidak mendengarkan semua kata-kataku," ungkapku dengan tetap berjalan mendekati tepi jurang.


"Jangan meremehkanku hanya karena aku, seorang perempuan. Kau tidak akan bisa membayangkan, apa yang akan aku lakukan ... Jika aku, telah membuat suatu keputusan. Jadi, kau ingin melaksanakannya atau tidak? Kau ingin menyelamatkan hidup Alma atau tidak? Kau ingin menyelamatkan Kerajaan Juste atau tidak?"


"Semuanya, bergantung padamu. Satu hal yang pasti, aku hanya memberikan waktu hingga tengah malam," sambungku kembali padanya.


Aku melirik ke sudut kiri mataku, tubuhku berbalik saat suara decakan lidah terdengar. Kutatap punggung laki-laki itu yang kian berjalan menjauh menyusuri padang ilalang yang mengelilingi kami.


"Aku, akan membuat kalian semua, beristirahat dengan tenang," bisikku sambil melirik ke arah timbunan mayat yang ada di sekitar.

__ADS_1


__ADS_2