Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXXXVII


__ADS_3

Jabari menunggangi kuda miliknya memimpin perjalanan. Kuda-kuda milik kami bergerak perlahan menyusuri jalan yang hanya diterangi bias-bias cahaya dari obor yang menempel di beberapa dinding bangunan.


Jabari berkata, jika pasukannya lah yang selama ini menjaga tempat ini baik siang maupun malam. Jadi, para penduduknya tidak akan memperdulikan jika ada kejahatan atau apapun yang terjadi ketika mereka semua tertidur.


Dan serius, saat ini... Bahkan suara angin pun dapat kau dengar dengan jelas. Aku tidak tahu, mereka benar-benar tidak mendengar langkah kaki kuda kami, atau mereka hanya pura-pura tidak mendengarnya.


"Sachi," bisik Yoona di belakangku, aku sedikit melirik ke arahnya yang duduk di belakang.


"Ada apa?" Ungkapku menjawab panggilannya dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Apa kau tidak takut sama sekali? Maksudku, kau tahu sendiri bagaimana mengerikannya dunia luar untuk perempuan seperti kita?" Ungkapnya pelan terdengar.


"Aku takut, dan aku mengakuinya. Aku juga hampir beberapa kali terbunuh, tapi... Itu tidak berarti aku akan menyerah dengan keadaan begitu saja. Lagipun, semakin banyak kau melihat dunia luar, semakin itu juga kau akan merasa beruntung dengan kehidupan yang telah dimiliki," ungkapku menatap lurus ke depan, kugerakkan kuda yang aku tunggangi bergerak mendekati Haruki.


______________________


"Aku pikir kita telah sedikit menjauh dari tempat itu," ungkap Jabari menghentikan langkah kaki kudanya, kuangkat sebelah tanganku mengusap mata saat sinar matahari jatuh menusuk pandangan.


"Aku mengkhawatirkan mereka berdua yang terlihat kelelahan," sambungnya mengalihkan pandangan ke arahku.


"Kau benar, ini sudah sangat siang sekarang. Kita juga butuh istirahat," sambung Haruki menoleh menatapi kami berdua.


Haruki bergerak turun dari atas kuda yang ia tunggangi. Satu-persatu dari kami ikut bergerak turun dari atas kuda, bahkan beberapa dari mereka mengambil beberapa balok kayu dengan ujung bawah yang meruncing dari salah satu gerobak yang kamu bawa. Balok-balok kayu tadi ditancapkan kuat ke tanah sembari tali-tali kekang yang mengikat kuda kami diikatkan kuat di sana.


"Apa kau bisa turun dari atas kuda Yoona?" Ucapku sembari berusaha melirik kepadanya yang duduk di belakang.

__ADS_1


"Nii-chan," teriakku memanggil mereka berdua saat Yoona tak menjawab pertanyaan yang aku utarakan.


"Ada apa?" Sambung Haruki berjalan mendekat saat dia telah selesai mengikat tali kekang kuda miliknya pada salah satu balok kayu.


"Apa kau bisa membantunya turun?" Ungkapku melirik kepadanya saat Haruki telah berdiri di sampingku.


"Pegang pundakku," ucap Haruki berbalik menatap Yoona, Yoona mengangkat kedua tangannya menyentuh pundak Haruki.


"Maaf," sambung Haruki kembali, kedua tangannya bergerak memegang pinggang Yoona sembari kedua kakinya berjalan mundur ke belakang beberapa langkah.


Kugerakkan kuda milikku berjalan meninggalkan mereka, aku menghentikan langkah kaki kudaku di hadapan Izumi yang telah berdiri dengan menggenggam tangan Cia. Tubuhku bergerak turun dari atas kuda sembari Izumi menyerahkan tangan Cia ke padaku lalu meraih tali kekang kuda yang masih aku genggam sebelumnya.


Aku berbalik berjalan mendekati Haruki yang telah memerintahkan para laki-laki, beberapa dari mereka ada yang bergerak membangun tenda. Ada yang sibuk menyalakan api, bahkan beberapa dari mereka telah banjir keringat saat beberapa kotak kayu yang ada di atas gerobak telah turun bersusun rapi di samping tenda yang masih dibangun.


Aku berjalan dengan menggenggam erat tangan Cia mendekati Yoona yang telah duduk di sebuah kain merah yang terbentang di tanah berpasir. Langkah kakiku terhenti saat kurasakan Cia menarik pelan lenganku...


Cia masih diam membisu menatapku dari balik jubah yang ia kenakan. Kuangkat penutup kepala yang menutupi wajahnya, lengan kananku seketika bergerak mengusap keringat yang memenuhi wajahnya...


"Apa kau kepanasan?"


"Pa-nas?" Ucapku kembali dengan sedikit mengeja, kugerakkan sebelah tanganku bergerak mengipasi wajahnya.


Cia menunduk dengan kedua tangannya bergerak mengusap wajahnya beberapa kali. Tanganku bergerak membuka ikatan jubah yang ada di pundaknya, kembali aku beranjak berdiri lalu berjalan dengan menggenggam erat tangannya.


"Bisakah kau menjaganya sebentar?" Ungkapku pada Yoona sembari aku berjongkok meletakkan jubah milik Cia ke atas kain merah yang ia duduki.

__ADS_1


"Tentu," ucap Yoona menepuk-nepuk pelan kain merah yang ia duduki.


"Dia masih takut ditinggal sendirian dengan orang asing," terdengar suara Izumi dari arah belakang saat Cia tak ingin melepaskan pelukannya.


"Menurutmu seperti itu nii-chan?" Ungkapku melirik padanya yang telah ikut berjongkok di samping kiri tubuhku.


"Cia, aku membawakan apel untukmu."


"A-pel?" Sambung Cia menjawab perkataan Izumi, pelukan kuat yang ia lakukan padaku merenggang.


Izumi memberikan sebutir apel yang ada di tangannya pada Cia. Digenggamnya kuat apel tersebut olehnya, Cia mengarahkan apel itu mendekati bibirnya lalu menggigitnya...


"Cia, ucapkan apa?" Ungkapku padanya.


"Te-ri-ma ka-sih," sambung Cia tersenyum menatap Izumi, Izumi mengangkat telapak tangan kirinya menepuk-nepuk pelan kepalanya.


"Kau mengajarinya dengan sangat baik," ungkap Izumi tersenyum menatapku.


"Terima kasih. Aku pun sangat bahagia melihat kondisinya yang semakin membaik," ucapku mencubit pelan pipi Cia yang penuh dengan apel di dalamnya.


"Apa yang kalian lakukan?" Ikut terdengar suara Haruki dari arah belakang, aku berbalik menatapnya yang telah berdiri dengan Eneas dan juga Jabari di sebelah kanan dan kiri tubuhnya.


"Tidak ada. Kami hanya membicarakan perkembangan Cia," ucap Izumi beranjak berdiri lalu berbalik menatap mereka.


"Apa terjadi sesuatu?" Sambung Izumi kembali, kugerakkan tubuhku ikut beranjak berdiri menatapi mereka.

__ADS_1


"Lupakan beristirahat, kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum gelap," ucap Haruki, dia berbalik melangkah mendekati para laki-laki yang telah kembali mengangkat beberapa kotak kayu ke atas gerobak.


__ADS_2