Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCVIII


__ADS_3

Seorang perempuan kembali berjalan melewati kami, perempuan berambut pirang itu membungkukkan tubuhnya di hadapan perempuan berkulit hitam tadi saat perempuan itu memberikan bayi yang ada di gendongannya pada seorang perempuan lainnya yang berdiri di belakangnya.


Perempuan yang baru saja berjalan melewati kami tadi kembali menggerakkan tubuhnya berdiri tegap lalu berjalan mendekati perempuan yang berbaring di atas meja batu itu.


"Ucapkan terima kasih pada Ratu," ucap perempuan itu menundukkan kepalanya mendekati perempuan yang berbaring tadi.


"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan padaku?" Tangis perempuan tadi dengan kedua tangannya menutupi wajah.


"Kalian dipilih untuk melahirkan anak keturunan yang akan memakmurkan Kerajaan ini," ucap perempuan itu kembali sembari ia membungkukkan tubuhnya lagi ke arah perempuan berkulit hitam sebelumnya.


"Apa kalian sudah kehilangan akal? Aku sebentar lagi menikah, apa yang akan dilakukan calon suamiku jika ia tahu aku telah melahirkan seorang anak," tangisan dari perempuan itu semakin kuat terdengar.


"Laki-laki tak dibutuhkan! Jika kau ingin memiliki anak lagi, kau bisa kembali meminum air terjun yang ada di sana," ucap perempuan itu dengan sebelah tangannya mengangkat lengan perempuan yang berbaring menutupi wajahnya tadi.


"Kau gila! Kembalikan aku! Kenapa aku bisa sampai di sini! Kumohon, kembalikan aku," tangisnya kembali dengan menggenggam lengan perempuan tadi.


"Kau hanya sedikit terkejut, bagaimana jika kau memberikan makan untuk anakmu terlebih dahulu," ucap perempuan itu disusul kata-kata yang tak aku mengerti setelahnya.


Perempuan yang menggendong bayi, berjalan mendekati perempuan yang masih berbaring itu, dia mengarahkan sebelah tangannya mencengkeram pakaian yang perempuan itu kenakan lalu merobeknya saat perempuan yang lain memegang erat kedua lengan perempuan yang masih berbaring tadi.


Bayi yang ada di gendongannya, ia turunkan mendekati dada perempuan tadi yang tak tertutupi sehelai kain pun. Aku kembali melirik ke arah perempuan berkulit hitam yang berjalan mendekati kami dengan perempuan yang memberikan perintah sebelumnya berjalan di belakang perempuan berkulit hitam.

__ADS_1


Mereka berdua berjongkok menatapku dan perempuan yang ada di sampingku bergantian. Perempuan berkulit hitam tadi beranjak berdiri lalu membalikkan tubuhnya sembari ia berteriak seakan memanggil sesuatu.


Seorang perempuan berjalan mendekat, perempuan itu berjongkok lalu meraih tubuhku saat perempuan berkulit hitam itu mengarahkan jari telunjuknya ke padaku. Tubuhku dipapah oleh perempuan itu mendekati air terjun tadi.


Kututup mulutku rapat-rapat saat tubuhku yang tak bisa digerakkan tadi ia masukkan ke dalam kolam air terjun. Aku menahan napas dengan sekuat tenaga saat kepalaku ditenggelamkan secara paksa ke dalam air tersebut.


Tubuhku sedikit tertegun saat jari-jemariku sedikit dapat digerakkan. Dengan sekuat tenaga, kuangkat kedua tanganku meraih lengan perempuan yang mencengkeram kepalaku.


Kugenggam kuat lengannya sembari sebelah tanganku yang lain bergerak mencengkeram pakaian yang ia kenakan. Kutarik tubuh perempuan tadi hingga tubuhnya jatuh ke dalam air.


Aku beranjak berdiri dari dalam air, dengan sangat perlahan kedua kakiku melangkah mendekati tepi kolam dengan sekali-sekali aku terbatuk-batuk berusaha mengatur napas. Kugerakkan tubuhku yang sedikit terhuyung berjalan meninggalkan kolam tadi.


Aku kembali berlutut dengan kedua tangan menapaki tanah, tubuhku masih terasa sangat lemah, aku belum bisa mengendalikan tubuhku sepenuhnya.


Aku kembali beranjak berdiri saat dua perempuan berjalan mendekati. Kutarik napasku dalam-dalam sembari kugenggam dengan kuat kedua telapak tanganku.


Kugerakkan tanganku ke samping menahan tendangan yang dilakukan salah seorang perempuan. Ku raih lalu kupeluk kaki perempuan tadi sembari sebelah kakiku menendang kuat sebelah kakinya hingga tubuh perempuan itu jatuh terjungkal ke belakang.


Aku jatuh ke depan saat sebuah pukulan kuat memukul punggungku, dengan cepat tubuhku berbalik menatap seorang perempuan yang lain tengah berjalan mendekat. Aku menutup telinga saat suara letupan tiba-tiba terdengar...


Kepalaku berbalik ke belakang, tubuhku terdiam saat beberapa orang perempuan sedang mendorong sebuah panci berukuran besar di bawah tubuh mereka berempat. Dengan cepat aku berlari mendekati mereka saat kutatap kepulan asap yang keluar dari panci tersebut.

__ADS_1


Aku melompat dengan kedua kakiku bergerak menerjang seorang perempuan yang tengah mendorong sebuah gerobak kayu yang membawa panci tersebut. Perempuan tadi jatuh berguling ke belakang oleh tendangan yang aku lakukan.


Aku kembali beranjak berdiri lalu memukul wajah salah satu perempuan yang berjalan mendekat. Sebelah kakiku bergerak menerjang perut salah satu perempuan lainnya yang berjalan mendekat...


Tubuhku terhentak saat kurasakan sesuatu menembus belakang pundakku, aku kembali terhentak saat benda tajam lainnya menembus sebelah pundakku yang lain. Aku mundur ke belakang sembari tubuhku berbalik menatap seorang perempuan yang mengarahkan busur panah ke arahku.


"Kumohon, jangan sakiti mereka," ucapku mengalihkan pandangan pada perempuan berkulit hitam yang menatapku dari kejauhan.


"Apa kau melakukan semua ini hanya untuk laki-laki seperti mereka?!" Perempuan berambut pirang itu berteriak keras menatapku.


"Mereka keluargaku, aku melakukan semua ini karena mereka orang yang berharga untukku!" Ucapku membalas teriakan perempuan tadi.


"Para laki-laki tidak pernah menganggap para perempuan itu keluarga mereka!" Perempuan berambut pirang tadi kembali berteriak.


"Mungkin iya untuk laki-laki di luar sana, tapi tidak untuk mereka. Tidak untuk keluargaku," ucapku kembali menatap perempuan tersebut.


Perempuan berambut pirang tadi berteriak dengan bahasa yang tak aku mengerti. Kugerakkan kepalaku ke atas saat terdengar suara dari atas kepalaku, tubuhku sontak berbalik lalu mendorong dengan sekuat tenaga gerobak pembawa panci yang ada di belakang tubuhku saat kutatap tubuh Zeki yang terikat bergerak turun perlahan mendekati panci tersebut.


Perempuan berambut pirang tadi kembali berteriak dengan bahasa yang tak aku pahami. Kepalaku mendongak ke atas, tubuhku tertarik ke belakang saat kurasakan sesuatu menarik kuat rambutku...


"Haru nii-chan," ucapku menatapnya saat Haruki sedikit perlahan membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Sa-chan!" Teriak Haruki diikuti suara gemerincing rantai yang mengikatnya.


__ADS_2