
Aku mengikuti langkah kaki Haruki di belakangnya, kadang kala aku melirik ke arah Izumi yang berjalan memimpin dengan pedangnya yang sibuk bergerak menebas ilalang atau bahkan akar-belukar yang menghalangi jalan kami semua. Aku terus berjalan dan terus berjalan dengan sesekali melirik ke arah sepatuku yang perlahan mulai sedikit basah oleh rerumputan yang aku pijak.
“Nii-chan,” bisikku pelan dengan merangkul lengan Haruki.
Haruki terus melanjutkan langkahnya sambil menoleh ke arahku, “ada apa?” tukasnya balas berbisik.
“Jika ini benar, hutan yang aku pikirkan. Kemungkinan, kita akan bertemu dengan penduduk dari suku sekitar, dan tahukah kau nii-chan? Jika yang aku pikirkan itu benar, berarti di sini terdapat katak yang dengan menyentuh kulitnya saja bisa langsung membunuhmu.”
Haruki menghentikan langkahnya dengan mengangkat sebelah tangannya ke arahku. “Sekarang, giliran kalian yang memandu perjalanan. Izumi, mundurlah!” perintah Haruki ketika dia menoleh ke arah rombongan para bangsawan tersebut yang berjalan di belakang kami.
“Jika kalian enggan untuk melakukannya, kita akan memisahkan diri lalu cari jalan masing-masing. Jangan membebani kami!” sambung Haruki, dia masih berdiri santai menatap rombongan tersebut.
Vartan mendecakkan lidahnya, dia berjalan dengan memanggil Fabian dan kedua kakaknya bergantian. Masing-masing dari mereka mengangkat pedang yang ada di pinggang mereka, lalu menggerakkan pedang tersebut menebas tumbuhan yang menghalangi jalan. “Apa yang kau lakukan dengan menatapi kami? Apa perintahku belum jelas? Yang aku maksudkan kalian, itu berarti kau pun harus ikut memimpin perjalanan seperti mereka,” tukas Haruki sambil membuang pandangan matanya ke arah Alana yang masih terdiam menatapi kami.
“Saya,” ucapnya menundukkan kepala, “saya mendengar, jikalau kalian memiliki anak. Kalau diberikan izin, apa boleh? Kalau saya mengunjungi keponakan saya itu nanti?”
“Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu itu. Namun, aku tidak akan tertarik pada perempuan yang memanfaatkan anakku sebagai batu pijakan untuk mendekati Ayahnya. Menyingkirlah, kau meracuni penglihatanku!”
“Apa yang engkau maksudkan? Saya, saya hanya ingin menemui keponakan saya saja,” tukasnya mengangkat kepala dengan suara yang terdengar bergetar.
Tubuhku tiba-tiba bergidik saat Haruki tersenyum menanggapi apa yang perempuan itu ucapkan, “jangan membuang-buang waktumu. Anak kami, terlalu berharga untuk dapat dilihat oleh kedua matamu … Yang selalu mencari kesalahan dari saudari kembarnya sendiri.”
Menusuk sekali, dan dia mengatakannya dengan sangat santai. Sudah kuduga, aku haruslah belajar banyak darinya, bagaimana cara membungkam perkataan musuh.
“Ada apa? Apa yang kalian bicarakan?”
__ADS_1
“Tidak ada hal penting yang kami bicarakan. Apa kau terluka, Izumi?”
“Aku baik-baik saja. Kau, benar-benar membuatku merinding kalau bersikap seperti ini! Hanya katakan saja, apa yang harus aku lakukan?”
Pandangan mataku kembali teralihkan pada Alana ketika Haruki dan Izumi masih sibuk berceloteh satu sama lain. Perempuan tersebut menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat kedua tangannya sebelum dia berjalan melewati kami dengan kepala tertunduk. Aku menoleh ke belakang, menatap punggung Alana yang berjalan kian jauh meninggalkan kami berempat.
“Jadi, lanjutkan apa yang kau bicarakan sebelumnya, Sa-chan!”
“Eh?” tukasku sedikit bingung ketika kembali menatapnya, “aku hampir melupakannya,” sambungku ketika kami telah berbalik lalu berjalan mengikuti mereka sedikit jauh di belakang.
“Jadi nii-chan, kemungkinan di sekitar sini terdapat katak beracun yang hidup-”
“Katak beracun?” balas Izumi berbisik, aku mengganggukkan kepala menatapnya yang berdiri di samping kiri.
“Dari yang pernah aku baca, jika para penduduk sekitar seringkali menggunakan racun yang ada di kulit katak itu untuk berburu. Walau, ada juga yang menggunakan racun dari tumbuhan. Jika menemukan katak yang memiliki warna cerah dan juga mencolok, jangan berani-berani untuk menyentuhnya secara langsung. Apa kalian mengerti? Eneas, apa kau juga mendengar apa yang aku katakan?”
“Dan bukan hanya itu, selain banyaknya ular beracun yang ada di sini. Jangan sekali-sekali memiliki pikiran untuk berendam di Sungai, soalnya aku tidak tahu makhluk apa yang mengintai di sana. Dan dari yang aku baca, di sungai biasanya terdapat ikan yang memiliki gigi seperti manusia dan ikan tersebut berbahaya untuk laki-laki seperti kalian.”
“Kenapa berbahaya?”
“Seperti apa aku menjelaskannya,” tukasku menimpali pertanyaan Haruki.
“Mereka pemakan kacang-kacangan, dan laki-laki memiliki anggota tubuh yang menyerupai kacang, bukan?” sambungku membuang pandangan ke atas dengan menggaruk belakang telingaku sendiri.
“Kenapa kalian bertiga diam? Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?” tanyaku sambil menatap mereka yang diam tak bersuara.
__ADS_1
“Kepalamu itu, menjadi lebih mengerikan setelah menikah.”
“Apa yang kau maksudkan, nii-chan?” sahutku menimpali perkataan Izumi.
“Jadi Sa-chan, apa lagi yang kau ketahui?”
“Terdapat laba-laba dan semut yang tak kalah berbahaya,” sambungku menjawab perkataan Haruki.
“Jika menemukan laba-laba besar dengan banyak bulu, hati-hati dengan gigitannya yang beracun. Dan juga semut berukuran sedikit besar, yang dapat membuatmu kesakitan seharian penuh kalau tergigit olehnya. Aku baru menyadarinya, sebenarnya … Apa tujuanku datang ke sini?" ungkapku setengah menggerutu dengan melemparkan pandangan ke depan.
Haruki menghentikan langkah kakinya, aku mengalihkan pandangan menatapnya yang menggerakkan kedua matanya itu melirik ke kanan dan ke kiri seakan tengah memperhatikan sesuatu. “Izumi!” tukas Haruki, aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun, saat dia sudah menggenggam erat tanganku … Aku tahu, sesuatu yang buruk sedang mengintai kami.
“Aku tahu. Eneas, mundurlah sedikit. Saat aku memberikan aba-aba, segera lari mengikuti kami. Apa kau paham?”
“Apa kita harus memberitahukan hal ini kepada mereka?”
“Kalau kita memberitahukan mereka hal ini sekarang, justru akan membuat curiga. Lagi pun, mereka akan mengerti saat kita melarikan diri. Apa kau siap? Kau pun Sachi, segera ambil napas sebanyak mungkin,” tukas Izumi yang berbisik sangat pelan.
Jantungku berdegup kuat saat Izumi sedikit mengangkat kepalanya, aku semakin gugup tatkala dia menarik napas dalam, “lari sekarang!” perintah Izumi, aku sedikit tersentak saat tanganku yang sebelumnya digenggam erat Haruki ditariknya.
Aku berlari cepat mengikuti Izumi yang telah berlari melewati lima orang bangsawan tersebut. Saat berlari, mataku itu tak sengaja terjatuh kepada mereka yang melihat kami. “Jangan berdiam diri, ada musuh yang mendekat. Lari secepat yang kalian bisa!” perkataan yang Izumi keluarkan, membuat mereka tersadar apa yang terjadi.
Aku terus saja berlari, tanpa mengindahkan rasa perih yang menyelimuti kedua kakiku. Kadang kala aku melompat melewati potongan batang pohon lapuk yang menghalangi jalan. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih untuk sekarang, yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku harus terus berlari agar tak kehilangan sosok Izumi dan juga Eneas yang ada di depan.
“Tung-”
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang saat teriakan Alana yang terdengar tiba-tiba berhenti. Aku menggerakkan mataku, mencoba mencarinya di antara para bangsawan tersebut. Namun sosoknya, tak bisa aku temukan. “Nii-chan,” ucapku dengan kembali membuang pandangan kepada Haruki.
“Jika kita masih hidup, kita masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya. Dan juga, bukan kewajiban kita untuk melindunginya,” ucap Haruki, dia yang sempat menoleh ke arahku kembali melemparkan pandangannya itu ke depan.