
Suara jeritan laki-laki kembali terdengar, semakin jelas dan semakin jelas saat kedua langkah kakiku bergerak semakin mendekati sebuah ruangan berpintu kain besar. Suara sabetan cambuk tiba-tiba terdengar diiringi suara teriakan memilukan yang menyertai...
Aku melirik ke arah Niel yang telah menyibakkan kain di hadapan kami seraya berjalan masuk ke dalam. Kugerakkan telapak tanganku meraih kain yang menggantung di hadapan, berkali-kali kutarik napas dalam-dalam sekedar untuk menenangkan diri.
Kugerakkan telapak tangan kiriku yang menggenggam kain tadi ke arah kiri tubuhku. Kaki kananku bergerak maju ke dalam disusul dengan sebelah kakiku yang lainnya, tubuhku sedikit menggigil tatkala rasa dingin tiba-tiba menjalari kedua ujung kakiku.
Kugerakkan kepalaku tertunduk menatapi lantai yang telah banjir hingga menyentuh mata kaki. Suara cambukan kembali terdengar, kali ini lebih keras seakan-akan tubuhku sendiri yang merasakannya langsung ketika mendengarnya.
Kutatap Haruki dan juga Izumi yang telah berdiri membelakangi, mereka diam tanpa bersuara menatap dua laki-laki bertubuh besar yang berdiri dengan tangan dan kedua kaki terikat rantai besi dengan sisi yang sama seperti tubuh mereka, kaki dan lengan sebelah kanan terikat ke arah kanan sedangkan kaki dan lengan sebelah kiri terikat ke sebelah kiri.
Tubuh besar laki-laki tadi terlihat semakin membesar dengan beberapa luka menganga yang menyelimuti tubuh mereka. Kedua laki-laki tersebut terikat dengan hanya menggunakan celana dalam, tampak ikut terlihat darah yang mengalir pada luka menganga di sekujur tubuh mereka berdua.
"Kau ke sini?" Ucap Izumi mengalihkan pandangannya pada Niel yang telah berdiri di sampingnya.
"Aku ingin memeriksa semuanya, dan juga... Aku tidak sendirian datang ke sini," ungkap Niel diikuti Izumi yang menggerakkan kepalanya menoleh ke belakang.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
__ADS_1
"Aku pun ingin ikut memeriksa perkembangan kasusnya," ungkapku menggerakkan kaki mendekatinya.
"Aku sudah melarangmu untuk datang ke sini! Apa mereka tidak memberitahukannya padamu?" ikut terdengar suara Haruki yang juga mengarahkan pandangannya menatapku.
"Anggap saja aku tidak ada di sini. Aku tidak akan mengganggu kalian menginterogasinya, aku hanya akan memandangi kalian dari jarak ini. Silakan dilanjutkan," ungkapku seraya kuhentikan langkah kaki sebelum semakin dekat pada mereka.
"Sadarkan dia kembali," ucap Haruki kembali menggerakkan pandangannya menatapi salah seorang laki-laki yang berdiri tak terlalu jauh darinya.
Laki-laki tadi bergerak mundur dan berbalik dengan membawa sebuah ember kayu di tangannya. Dia melangkah maju mendekati sebuah tong kayu yang ada di samping dinding, diangkatnya ember kayu tadi ke dalam tong tersebut, kembali diangkatnya ember kayu tadi sembari berbalik berjalan kembali ia mendekati.
Laki-laki bertubuh besar tadi kembali membuka kedua matanya. Suara cambukan kembali terdengar, pandangan mataku kembali terjatuh pada seorang Kesatria yang tengah mencambuk tubuh laki-laki bertubuh besar dengan kulit gelap yang juga terikat berdampingan dengan laki-laki yang tak sadarkan diri tadi.
Erangan yang keluar dari mulut laki-laki tersebut semakin menjadi tatkala cambukan yang ia dapatkan semakin cepat dan semakin cepat menampar tubuhnya. Pandangan mataku teralihkan pada Haruki yang menggerakkan tubuhnya berjalan ke samping kanan.
Dia melangkahkan kakinya mendekati salah satu obor yang menggantung di dinding. Diambilnya obor tersebut oleh Haruki seraya kembali ia melangkah mendekati salah satu laki-laki bertubuh besar yang terikat.
"Katakan! Katakan, informasi apa saja yang kalian punya kepada kami!" Ungkap Haruki menggerakkan kepalanya menatapi mereka.
__ADS_1
"Kami hanya menjual dan mendapatkan upah dari mereka. Kami benar-benar tidak tahu apapun," ungkapnya, digerakkannya kepalanya menatap ke atas.
"Benarkah?" Ucap Haruki seraya digerakkannya obor yang ada di tangannya mendekati perut laki-laki berkulit gelap tadi dengan posisi sedikit miring. Kutatap cairan yang keluar dari dalam obor, seiring jatuhnya cairan tersebut, ikut berjalan pula api yang mengikutinya...
Laki-laki bertubuh besar berkulit gelap yang ada di hadapan Haruki berteriak keras, sangking kerasnya seakan memekakkan seisi ruangan. Kutatap api yang berkobar di atas perut laki-laki tadi, kedua tangannya bergerak kuat berulang-ulang seakan ingin menghancurkan rantai yang membelenggunya.
Haruki mundur beberapa langkah ke belakang, digerakkannya kaki kanannya menendang air yang menggenang di kakinya. Percikan dari air yang ditendangnya sedikit memadamkan api yang menyala di atas perut laki-laki tadi.
Haruki kembali menggerakkan kakinya di atas api yang ada di perut laki-laki tadi. Digerakkannya telapak kakinya yang berselimut sepatu memutar ke sebelah kanan dan juga kiri berulang-ulang. Laki-laki bertubuh besar tadi berhenti bergerak dengan kepala tertunduk.
"Aku ulangi perkataanku. Berikan aku informasi apapun yang kalian ketahui, jika tidak... Aku tidak akan segan-segan menguliti kalian berdua hidup-hidup," ungkap Haruki seraya diturunkannya kaki kanannya tadi dari perut laki-laki tersebut.
Kembali, jeritan dari laki-laki tadi terdengar. Kutatap perutnya yang telah memerah mengelupas, aku tidak tahu... Apakah Haruki sengaja melakukannya. Dia pasti sudah tahu, menarik sesuatu pada luka bakar tak boleh dilakukan secara asal-asalan.
Kekejamannya yang akan muncul ketika dia kesal benar-benar membuat tubuhku merinding. Tapi sungguh, inilah alasan terbesar kenapa para Kesatria kami tak berani melanggar perkataannya.
"Kau! Ambilkan benda yang aku perlukan tadi!" ungkap Haruki kembali seraya digerakkannya kepalanya menatap Kesatria laki-laki yang memegang ember kayu sebelumnya.
__ADS_1