Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Haruki (Side Story') IV


__ADS_3

“Apa kau ingat dengan pertunangan kita dahulu?” Dia kembali berbicara saat sebelumnya sempat terdiam.


“Sejak pertunangan kita, aku … Dijadikan bahan olokan satu Kerajaan, Saudari kembarku yang saat itu juga mengikuti prosesi pertunangan, melihatku melakukan prosesi itu seorang diri karena tunanganku saat itu tidak bisa menghadiri upacara pertunangan kami. Saat anak perempuan lain meminum darah dari tunangannya, aku … menjilat noda darah dari tunanganku yang mengering di sebuah kain pita putih.”


“Sejak saat itu, aku selalu berusaha mencari kabar mengenai tunanganku itu, dan saat aku dengar jika tunanganku itu adalah Pangeran yang pintar. Aku mati-matian berlajar, melahap buku-buku yang sama sekali sulit untuk ditangkap otakku. Akan tetapi, saat aku dapat bertemu dengannya … Aku menghancurkan semuanya, aku bersikap sok pintar di dalam hutan mencoba menarik perhatianmu. Yang di mana, itu malah berakhir mempermalukan diriku sendiri,” sambungnya mengangkat kedua tangan mengusapi matanya.


“Aku sadar, jika aku bukanlah seorang Putri yang baik maupun pasangan yang baik. Selama perjalanan, kau pasti banyak bertemu perempuan bukan? Apa di antara mereka ada yang menarik perhatianmu?” Luana kembali bersuara dengan suaranya yang terdengar bergetar.


“Kau benar, ada di antara mereka yang menarik perhatianku,” jawabku singkat menanggapi perkataannya tersebut, “bodohnya aku mengharapkan jawaban yang berbeda,” ucapnya kembali mengusap kedua tangannya itu ke seluruh wajahnya.


Luana kembali menurunkan kedua tangannya tadi, matanya yang memerah tersebut lama menatapku sebelum dia menghela napas melangkahkan kakinya mendekatiku, “aku akan kembali mengobati lukamu,” ucapnya kembali duduk berlutut di sampingku seraya sebelah tangannya meraih handuk kecil yang terlempar di atas pahaku sebelumnya.


“Bisakah, kau melupakan apa yang aku katakan?” Ucapnya mengarahkan pandangan ke dalam mangkuk lalu memeraas handuk kecil yang ia basahkan sebelumnya. “Karena kita berdua telah sepakat untuk mengakhiri ini semua setelah semuanya berakhir,” ucapnya kembali dengan menggerakan handuk tadi mengusap luka-luka kecil yang ada di tangan kiriku itu.


“Perempuan yang menarik perhatianku,” ucapku yang disambut dengan berhentinya kegiatan yang dilakukan Luana, “mereka, adalah kedua Ibu dari kedua Adikku” ungkapku lagi, kutatap dia yang mengangkat kepalanya ke atas.


“Aku, ingin sekali mengetahui siapa mereka sebenarnya. Karena jika aku mengetahuinya, aku bisa membantu kedua Adikku tersebut,” ucapku tersenyum menatapnya, “karena itu, jangan terlalu mengharapkan apa pun padaku,” sambungku kembali sembari kubuang pandangan mataku menghindarinya.


“Aku tahu, kau … Tidak perlu mengkhawatirkannya,” ucapnya, kembali kuarahkan pandangan mataku menatapinya yang masih mengarahkan pandangan matanya ke lenganku itu, “Luana, terima kasih,” ucapku sembari kuangkat tangan kananku menyentuh kepalanya.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan? Tidak perlu melakukannya, aku melakukan semuanya karena keinginanku sendiri,” ucapnya, tubuhnya bergerak meraih lenganku yang lainnya. “Luana,” ucapku mengarahkan jari-jariku meraih belakang lehernya yang tak tertutupi itu, tubuhnya sedikit terhentak saat aku melakukan hal tersebut kepadanya.


Aku kembali mengarahkan jari-jariku itu menelusuri belakang telinganya, “kumohon, jangan lakukan itu,” suaranya bergetar terdengar diikuti pipinya yang memerah menatapku saat sebelah lengannya mendorong tanganku yang menyentuh belakang lehernya tadi.


Ini pertama kalinya untukku melihatnya bertingkah seperti ini.


Aku beranjak berdiri lalu membungkuk meraih tubuhnya, kugendong tubuhnya itu hingga dia duduk di pangkuanku saat aku kembali duduk di atas kursi, “Luana,” ucapku saat dia berusaha berlari menghindariku.


“Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau tidak puas mem…” Ucapannya terhenti saat jari-jemariku menyelinap ke dalam pakaian yang ia kenakan. “Aku, hanya ingin mencari tahu sesuatu yang hanya dapat aku ketahui jika melakukannya bersama pasanganku,” ucapku mengarahkan jari-jariku itu menelusuri pinggang hingga perutnya.


“kau benar-benar menjaga tubuhmu,” ucapku seraya kugerakan kembali jari-jariku tersebut memutar perlahan di atas perutnya. “Luana,” ucapku kembali memanggil namanya, jari-jemariku yang bergerak di atas perutnya tadi berpindah ke atas … Membuka ikatan kain yang melilit di dadanya.


“Begitukah?” Gumamku, kuarahkan wajahku mendekati benda kecil yang menyembul di balik pakaian yang ia kenakan, gigitan yang aku lakukan pada benda tadi semakin kuat saat desahan yang ia keluarkan memenuhi telingaku.


Aku menghentikan gigitanku tadi saat kurasakan sesuatu menyentuh kepalaku, “jangan lakukan itu, Haruki,” ucapnya dengan napas yang sedikit tersengal saat aku menatapnya.


“Kita sudah sepakat untuk mengakhiri semuanya, jadi … Jangan menyentuh tub…” Perkataannya kembali terhenti saat aku menggerakan jariku memiilin benda kecil yang sama di sebelahnya.


“Aku, bukanlah laki-laki yang baik,” ucapku kembali mengangkat sebelah tanganku yang lain menggenggam dadanya yang masih tertutupi oleh pakaian yang ia kenakan, “aku, sangatlah suka memanfaatkan kelemahan seseorang untuk aku gunakan menjadi keuntunganku sendiri,” ucapku lagi seraya menggerakan kedua tanganku melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


“Apa kau? Masih ingin menemani laki-laki sepertiku? Bukan, bukan … Bukan itu yang aku maksudkan,” ucapku tertunduk dengan bersandar di tubuhnya, kutarik napas sedalam mungkin hingga aroma tubuhnya ikut memenuhi hidungku, “menikahlah denganku, Luana,” ucapku kembali mengangkat kepala menatapnya, kuangkat sebelah tanganku mencubit pipinya saat dia sedikit melongo menatapku.


“Apa yang kau katakan?” Dia kembali bertanya dengan kedua matanya mengarah padaku, “Menikahlah denganku, aku tidak akan mengulang mengatakannya,” ucapku menyandarkan tubuh ke kursi membalas tatapannya.


“Aku, telah mengatakan … Ingin mencari tahu sesuatu yang hanya bisa aku ketahui jika melakukannya bersama pasanganku,” ucapku seraya kembali melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya.


“Apa kau ingin mempermainkan aku lagi?”


“Setelah ini, aku akan kembali bertingkah baik di hadapan seluruh keluargaku, aku … Tidak memiliki tenaga lebih untuk berpura-pura di hadapanmu. Mendekatlah, Luana,” ucapku meraih belakang lehernya lalu mendorong lehernya tadi hingga wajahnya bergerak semakin dekat padaku.


Kuarahkan tanganku membuka ikatan yang mengikat rambutnya, lama kutatap kulitnya yang tidak putih maupun gelap tersebut. Bibirku bergerak menyentuh bibirnya, tangan kananku menyelinap ke dalam pakaiannya yang ia kenakan saat kedua air ludah kami saling menyatu. Aku kembali membuka kedua mataku saat kurasakan bibirnya tiba-tiba menjauh dariku.


“Ada apa?” Tanyaku menatapnya saat dia menatapku dengan sebelah tangannya menutupi kedua matanya.


“Aku, lupa membawakan air untuk mengompres Sachi,” ucapnya, yang bergerak beranjak berdiri dari pangkuanku. “Apa dia baik-baik saja?” Tanyaku yang ikut beranjak berdiri dengan meraih pakaianku yang ada di samping baju zirah yang aku lepaskan sebelumnya.


“Dia baik-baik saja, tapi Lux mengatakan … Kemungkinan dia akan demam, karena itu aku dan Sasithorn harus bersiap menjaganya,” ucapnya dengan membawa mangkuk yang sama seperti yang ia bawa sebelumnya.


“Apa kau ingin ikut denganku untuk menemuinya?” Luana kembali menatapku, kugerakan kedua kakiku berjalan mendekatinya, “kau ingin aku membawakan mangkuk tersebut?”

__ADS_1


“Aku selalu membawa banyak sekali kayu bakar untuk memasak, mangkuk ini … Tidaklah berat untu…” Luana kembali menghentikan ucapannya, langkah kakinya terhenti seraya sebelah tangannya menggenggam lenganku. Aku membalikan kepala, menatap ke arah yang membuatnya seperti itu.


__ADS_2