
“Kenapa kau diam saja? Apa terjadi sesuatu padamu?”
“Sachi!”
Aku sedikit terhenyak saat suaranya terdengar beberapa kali dengan sentuhan yang ia lakukan di punggungku, “aku masih memikirkan Luana,” tukasku, sambil menunduk dengan mengusap tubuh Kou.
“Haruki sudah mengatakannya, bukan? Mereka akan menunggu di sana, kalaupun Luana tidak muncul hari ini … Dia sudah menitipkan pesan pada Fabian agar mengawasi gubuk tersebut. Yang aku bicarakan ini Haruki, kau yang paling mengenal bagaimana dia, bukan?” tukasnya dengan kembali kurasakan usapan di punggungku.
Aku mengangguk sebelum mengangkat kembali pandangan ke arah depan, “kau benar, aku mengerti,” tukasku dengan kembali menggerakkan tangan mengusap leher Kou.
Lama kami terbang di udara, beberapa kali tangan Zeki bergerak melewatiku, hanya untuk merapikan kain tebal yang aku jadikan selimut untuk menutupi tubuh selama terbang. Sesekali aku melirik ke samping, ke arah langit yang telah berubah warna. Turut kurasakan, angin yang semakin dingin berembus, selama kami terbang.
“Bertahanlah! Istana kita telah terlihat,” tukasnya, aku menarik napas dengan semakin mempererat rangkulan tanganku di tubuh sendiri.
Kou terbang semakin perlahan, bahkan saat mendarat pun … Dia melakukannya dengan sangat perlahan. Aku menoleh ke kiri saat terdengar suara benda terjatuh di samping, kuangkat kedua tanganku melingkar di lehernya saat dia dengan perlahan menggendong lalu menurunkan aku kembali di samping Kou.
“Kou?” tukasku yang berjalan mendekati kepalanya sambil merapikan kain yang menutupi tubuhku itu.
Tanganku terangkat mengusap kepalanya, “ada apa Kou? Apa terjadi sesuatu padamu?” tukasku yang masih mengusapi kepalanya, ketika dia membaringkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
“Tidak terjadi apa-apa padaku, My Lord. Aku, akan tetap berada di sini menemanimu,” balasnya, matanya terbuka sebentar, sebelum akhirnya terpejam kembali.
“Apa terjadi sesuatu? Kau, tidak ingin pulang? Maksudku, bagaimana jika ada yang merasakan sihirmu?”
“Aku akan menekannya agar tak bisa dirasakan siapa pun.”
“Kau sungguh-sungguh mengkhawatirkanku,” ucapku pelan, aku tersenyum saat dia sama sekali tak menjawab pertanyaanku.
“Zeki,” ucapku dengan menoleh ke arahnya, “dia, menolak untuk pulang. Jadi, izinkan dia untuk tinggal di Istana.”
“Aku tidak mempermasalahkannya. Apa dia memakan makanan khusus? Agar aku dapat menyiapkan keperluannya nanti.”
“Ikan, dia memakan ikan. Dia memakan banyak sekali ikan dalam sehari, jadi ma-”
“Kau tidak perlu meminta maaf, itu membuat kita seperti orang asing. Hanya katakan kepadanya, aku akan menyiapkan semua keperluannya. Jadi bantu aku, untuk ikut menjagamu.”
“Kenapa? Hanya katakan saja hal itu kepadanya!” tukas Zeki kembali saat kedua mataku membelalak menatapinya.
“Baiklah,” jawabku yang beralih menatapi Kou, “Kou, dia berkata akan menyiapkan semua keperluan yang kau butuhkan. Jadi bantu dia, untuk ikut menjagaku.”
“Aku mengerti,” jawab Kou dengan masih memejamkan matanya.
Aku kembali mengusap kepalanya, sebelum berbalik melangkahkan kaki meninggalkannya dengan Zeki di sampingku. Langkah kaki kami berdua terhenti, saat ada beberapa laki-laki berlarian lalu berlutut di hadapan kami. “Apa kalian menjaga Istana dengan baik?”
__ADS_1
“Kami menjaga semuanya dengan baik, Yang Mulia!” tukas para Kesatria tersebut bersamaan.
“Beranjaklah!”
Para Kesatria itu, menuruti apa yang Zeki perintahkan tanpa berani membantah, “di mana Akash?” tanya Zeki sambil melirik ke arah mereka bergantian.
“Kapten, dia sedang berkeliling memeriksa keadaan Kerajaan, Yang Mulia,” jawab seorang laki-laki yang berdiri di hadapan Zeki.
"Baiklah."
“Ekrem!" sambung Zeki dengan mengalihkan pandangan ke arah seorang laki-laki, "aku memerintahkanmu untuk menjaga Istriku! Jika terjadi sesuatu kepadanya, kepalamu yang jadi taruhannya.”
“Laksanakan, Yang Mulia,” jawab laki-laki tadi dengan menundukkan kepalanya.
“Dia Ekrem, wakil kapten. Selain dia, akan ada beberapa Kesatria lagi yang akan menjagamu bergantian,” tukas Zeki sambil menoleh ke arahku.
“Mohon bantuannya untuk menjagaku, Ekrem,” tukasku mengalihkan pandangan kepadanya.
“Sudah menjadi kewajibanku, Yang Mulia,” jawabnya, dia membungkuk ke arahku dengan sebelah tangannya bersilang di dada.
“Untuk kalian berempat, aku perintahkan untuk merawat hewan yang sedang tidur di sana,” ucap Zeki, tangannya terangkat menunjuk ke arah Kou yang masih seperti sebelumnya.
“Dia hewan yang menjaga Istriku, berikan dia ikan yang banyak untuk makanannya. Berhati-hatilah, karena dia bisa membekukan apa pun-”
“Aku pikir, mereka yang ikut perjalanan bersama Yang Mulia tempo dulu, mengatakan kebohongan.”
“Kau benar, lihatlah … Bahkan dari dalam mulutnya mengeluarkan asap putih.”
“Apa kalian, mendengarkan apa yang aku perintahkan?!”
“Kami mendengarnya, Yang Mulia!” balas mereka, kepala mereka masih tertunduk saat sebelumnya Zeki membentak mereka.
Zeki menarik napas, lalu mengembuskannya dengan kuat, “beritahukan koki Istana, aku menginginkan sepuluh ikan bakar dari sepuluh ikan yang berbeda untuk makan malam. Dan, apa ada lagi?” tanya Zeki dengan melirik ke arahku.
“Persiapkan juga makanan kesukaan Yang Mulia, aku menginginkan air kelapa sebagai minuman-”
“Air kelapa?”
Aku tersenyum saat salah satu laki-laki memotong perkataanku, “sepertinya, anak kami hanya menginginkan air kelapa untuk minum. Jadi, bisakah kalian menyiapkan semua itu untuknya?”
“Anak?”
“Yang Mulia, Yang Mulia akan memiliki anak?”
__ADS_1
"Benarkah itu Yang Mulia?"
“Kami memang akan memiliki anak segera. Jadi, persiapkan apa saja yang dia butuhkan!”
_____________.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar, langkahku terus berlanjut mendekati ranjang. “Mereka berlima, adalah temanku saat aku masihlah seorang Kesatria biasa. Jadi, dibanding Kesatria yang lain … Mereka lebih bersikap santai kepadaku.”
“Kau memiliki teman?” tanyaku, yang duduk di samping ranjang dengan menatapnya.
Zeki berbalik, melangkahkan kakinya mendekatiku saat sebelumnya dia menutup kembali pintu. “Mereka yang banyak membantuku merebut tahta. Kau mungkin baru kali ini bertemu dengan mereka berlima, karena memang selama ini mereka membantuku menjaga perbatasan, dan baru kembali akhir-akhir ini.”
“Sepertinya, aku masihlah harus banyak belajar menjadi Ratu Yadgar,” ucapku beranjak dengan membuka selimut sebelum duduk kembali di pinggir ranjang.
“Tidak perlu memaksakan diri,” tukasnya sembari duduk di samping dengan menyelipkan rambutku di telinga.
“Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Kau harus mengatakan apa pun yang kau rasakan nanti kepadaku, apa kau mengerti?”
“Kau sudah seperti Ayahku,” tukasku sambil membaringkan tubuh di ranjang.
“Kemarilah! Berbaringlah di sampingku, Darling,” ucapku sambil menepuk-nepuk kasur yang ada di samping.
“Aku tidak ingin membuat kepalamu pusing.”
“Tidak apa-apa, kalau ingin membahas pusing. Kemungkinan aku sudah pusing selama perjalanan, tapi nyatanya aku baik-baik saja. Jadi kemarilah!”
Zeki membaringkan tubuhnya dengan sebelah lengan terangkat menutupi kening, “apa yang kau lakukan?” tanyanya saat aku telah beranjak dengan mengecup bibirnya.
“Hanya diam saja! Entah kenapa, aku hanya ingin menciummu semalaman ini,” bisikku, mataku terpejam perlahan saat wajahku semakin mendekatinya.
Telapak tanganku bergerak menelusuri kulitnya saat bibir kami semakin lama berpagutan. Tubuhku semakin panas, saat napas kami bercampur menjadi satu, terlebih … Saat telapak tangannya itu bergerak perlahan menyusup ke dalam pakaian yang aku kenakan.
Aku menyudahi ciumanku dengan menggigit kuat bibirku sendiri, “punggungku,” tukasku yang sedikit beranjak dengan memegang punggungku yang terasa sakit.
“Apa terjadi sesuatu padamu?”
Aku tersenyum, menatapnya yang telah beranjak duduk. Dia beberapa kali menarik napas, sekedar untuk mengatur kembali napasnya yang memburu itu. Aku berbaring dengan mengangkat kedua tanganku ke atas, “aku pikir akan baik-baik saja, jika aku berbaring seperti ini. Jadi mendekatlah, berikan aku kecupan sebelum makan malam, Suamiku.”
“Sial! Kenapa kau begitu menggoda di saat seperti ini,” ucapnya yang berusaha membuang pandangannya dariku.
“Kau ingin ke mana?” tukasku memanggilnya, saat dia beranjak turun dari ranjang lalu berjalan menjauh.
“Aku ingin mandi! Aku ingin membersihkan tubuh! Aku ingin menenangkan pikiran!” tukasnya, Zeki membuka pintu kamar mandi lalu membanting pintu tersebut hingga tertutup kembali saat dia melewatinya.
__ADS_1
“Dia menggemaskan sekali di saat seperti ini. Dia melarikan diri, padahal aku masih ingin sekali mempermainkannya,” gumamku sambil berbaring menyamping dengan memejamkan perlahan mata.